
Kembali, Bu Asmia mengingat masa lalu. Saat dirinya masih bekerja untuk keluarga Atala.
#Flashback is on.
Malam itu, seorang Koki wanita baru saja mengantarkan makanan untuk Devano di kamarnya. Beliau berniat untuk kembali ke lantai dasar menuju dapur.
"Bagaimana si wanita Tua itu?"
Bu Asmia yang tak sengaja mendengar lantas menghentikan langkahnya. Ia menoleh kearah pintu ruangan kerja yang sedikit terbuka.
Siapa wanita Tua yang di maksud? Bukankah nyonya muda tidak?
Sebenarnya Dia bukan termasuk seorang pekerja yang berani lancang untuk menguping pembicaraan para majikannya. Ketika ucapan tentang wanita tua di sebutkan, Ia jadi terdiam. Seolah pikiran langsung tertuju pada Nyonya besar yang menghilang. Membuatnya jadi berani untuk mencari tahu sesuatu.
"Dokter khusus sudah memberikan suntikan baru. Kini kelumpuhan terjadi di beberapa sarafnya. Bahkan, beliau tidak bisa lagi berbicara.
"Kau jangan sampai membunuhnya lebih dulu."
"Tidak, Seperti apa yang kau lakukan pada Harison. Hanya saja, aku mengurangi sedikit dosisnya."
Bu Asmia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
A–apa? Apa aku tidak salah dengar?
Segera beliau mengeluarkan sesuatu dari sakunya, tangannya yang gemetaran mencoba untuk membuka menu recording dari ponselnya.
Setelah itu melangkah lebih maju, mendekat hingga ke pintu yang sedikit terbuka. Merekam setiap pembicaraan di sana. Ia berharap suara mereka berdua masih masuk. Karena terdengar cukup jelas.
"Apa Dia sudah mau tandatangan?"
"Belum, tangannya seolah semakin melemah. Ia bahkan tidak bisa memegang penanya."
"Kenapa tangannya tidak bisa bergerak. Dengan dosis itu seharusnya hanya bagian kaki saja kan?"
"Sepertinya beliau yang menolak sendiri."
Braaaaakkk... Liliana menggebrak meja. membuat Bu Asmia sedikit terkejut diluar.
"Istri ku, tenanglah. Aku sedang berusaha mencari stempel emas itu."
Liliana menoleh. "Stempel emas?"
__ADS_1
"Notaris Evans bilang, tanpa tanda tangan jika ada stempel emas semua tetap bisa di alihkan kepemilikannya."
Liliana tersenyum seringai. "Dimana stempel emas itu, dan seperti apa wujudnya?"
"Entahlah, hanya Nyonya Brian yang tahu. Hingga saat ini, saya pun masih mencari di kamar Nyonya besar. Namun tidak di temukan."
"Ck...!"
"Aku akan berusaha sayang, kau tenanglah."
Liliana tersenyum, ia mengusap dada Sekertaris Erik.
"Ku pegang itu sebagai janji, dan bukti cinta mu. Buatlah aku semakin sayang padamu, Erik." Ucapan Liliana membuat Erik tersenyum, ia meraih tangan yang masih menempel di dadanya, lalu menggenggamnya.
"Apapun akan ku lakukan untuk mu. Asal jangan pernah lagi kau meninggalkanku dan juga Zaeni." Erik lantas mendekati wajah Lili, namun wanita itu mendorong pelan. Tatapannya tertuju pada pintu masuk, bersamaan dengan itu ia melihat bayangan seseorang.
Hanya dengan kode bola mata yang di gerakan, Sekertaris Erik sudah paham apa yang perlu ia kerjakan. Ia pun melangkah cepat menuju pintu, untuk menghampiri siapa yang berada di dekat pintu itu.
Bu Asmia yang berada disana langsung kelabakan ia mencari tempat untuk bersembunyi. Namun ruangan yang besar itu sama sekali tak memberinya waktu cukup untuk kabur tanpa mengeluarkan suara sekali pun.
Sampai sebuah tangan menariknya, Bu Asmia hampir menjerit. Seketika itu di tahan oleh seorang pria yang meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Ayah–" Zaeni tersenyum.
"Kau? Kau disini?"
"Ya," jawabnya sedikit gugup namun tetap di kemas dengan ketenangan. Sementara Sekertaris Erik menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari seseorang, yang menurutnya tengah menguping pembicaraannya dengan sang istri.
Hingga sorot matanya tertuju pada salah satu lemari bufet pendek yang cukup panjang. Tempat para hiasan tertata rapi di atasnya. Tempat Bu Asmia pula bersembunyi disisi samping.
"Ayah, aku datang ingin memberitahukan ini?" Zaeni menyerahkan angket. "Aku ingin melanjutkan studi ku ke Colombia."
Berusaha terus untuk mengalihkan, Zaeni tidak memberikannya kesempatan untuk mencari sosok lain, selain Anak sulungnya itu.
Sekertaris Erik menatap Zaeni dengan curiga. Namun anak itu sama sekali tak memperlihatkan ekspresi aneh.
"Ayah mau tanya. Sejak kapan kau disini?" Tanyanya, sembari menarik pelan angket di tangan Zaeni.
"Baru saja."
"Apakah kau melihat seseorang di sini?"
__ADS_1
"Tidak, hanya aku. Tadi itu, aku hendak masuk namun tidak jadi. Ayah dan ibu sedang bicara. Jadi ku batalkan untuk masuk. Tenanglah, aku tak mendengar apapun kok."
"Yakinkah?"
"Yakin, aku tidak berbohong. Memang ayah dan ibu membicarakan apa? Tentang masa kecil ku, kah?" Bibir Zaeni mengembang polos. Membuat Sekertaris Erik menghela nafas.
"Masuklah, dan biasakan dirimu memanggil ibumu dengan sebutan mamih. Jaga pula ucapan mu itu di rumah ini."
"Baiklah, sesuai apa yang ayah kehendaki asal aku masih bisa dekat dengan Mamih." Tersenyum lebar, setelah itu turut mengikuti Sekertaris Erik masuk. Sembari tangannya mengibas kebelakang mengisyaratkan Bu Asmia agar segera pergi dari sana.
wanita itu menghela nafas lega, hampir saja hidupnya berakhir di sini. Dengan kaki yang masih sedikit lemas, ia berusaha untuk bergegas pergi dari ruangan itu.
Lalu masuk menuju kamar pribadinya di rumah belakang.
Berhati-hati Dia langsung mengunci pintunya, serta menutup tirai jendela rapat-rapat. Tangan Bu Asmia gemetaran, mengeluarkan lagi ponselnya. Lalu mulai mendengarkan rekaman yang tadi.
Samar-samar, suara itu masih di dengar. Bu Asmia menutup mulutnya. Bibirnya menggertak, Pipinya pun mulai basah manakala mendengarkan ulang apa yang di bicarakan oleh mereka berdua.
Lalu ucapan Sekertaris Erik yang memintanya untuk tidak lagi meninggalkan Dia ataupun Zaeni, lagi?
Ya, Semua kepingan puzzle misteri dari sejak kedatangan Liliana sembari menggendong bayi yang baru di lahirkan oleh Karlina ibu kandung yang sesungguhnya dari Devano ke rumah utama. Menjawab jelas, jika wanita itu sudah pernah menikah dengan Sekertaris Erik sebelumnya, dan Zaeni adalah anak mereka.
"Ya Tuhan–" gumam Bu Asmia. Dia benar-benar mengatur semuanya dengan baik, termasuk mengganti semua orang yang bekerja di rumah utama dengan yang baru. Dirinya sendiri, kenapa masih berada di sana, sebab keinginan Nyonya besar.
"Aaah... Itu? Beliau yang mengingat sesuatu, pun langsung meraih dan membuka kotak yang sempat di serahkan oleh Nyonya besar Briana sebelum menghilang.
"Cincin? Apa ini punya mendiang Tuan Harison?" yang ia lihat adalah Cincin besar bertahtakan berlian, namun ada yang aneh. Ia lantas menyentuh pelan bagian berliannya, setelah itu memutarnya sedikit.
"Astaga...! I–ini? stempel emas, kah?" Terlihat bentuknya, seperti logo Diamond's corporation yang biasa ada di surat-surat penting milik keluarga Atala.
Tok... Tok... Tok...
Sebuah ketukan membuatnya terperanjat. Bahkan sampai menjatuhkan cincin tersebut.
"Bu Asmia– ini saya, apakah anda di dalam?"
Suara kepala pelayan? —Bu Asmia yang mengenali suara itu bergegas merapikan semuanya lagi. Lalu meletakkan sejenak di bawah bantal.
"Sebentar, pak." Sautnya. Setelah itu berusaha menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. "Tenang Asmia, jangan membuat orang curiga. Sekarang di rumah ini, semuanya adalah orang baru yang berpihak pada Nyonya Lili."
Ia pun merapikan pakaiannya. Mengecek kondisi wajahnya di cermin lalu melangkah untuk membukakan pintu.
__ADS_1