I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
ide keluar


__ADS_3

Dua makanan itu sudah habis disantapnya, serta dua minuman coklat dinginnya juga.


Suka ya?


kunia terlihat ingin tertawa karena pria di hadapannya nampak imut sekali.


Ya, sisi tenangnya ketika makan, benar-benar membuat betah memandanginya. Kepala yang tertunduk, sembari melahap satu demi satu suapan nasi yang memenuhi sendoknya, menampakkan ia sangat menyukai makanan itu.


Dia benar-benar suka daging sapi lada Hitam. Aku harus catat ini.


Gumam-gumam dalam hati.


Lah ... untuk apa aku memikirkan harus mengingat apapun yang ia sukai?


Kunia masih memandangi pria di hadapannya, tanpa menyadari jika Devan sudah menaikkan sedikit bola matanya, melirik ke atas. Gadis itu seketika berdeham dan memalingkan wajahnya.


"kenapa, kau melihat ku seperti itu?"


"Apa? Tidak kok. karena tidak ada objek lain saja.."


"Kau mau lagi nasi ini?"


"Tidak."


"Kalau begitu kau suka melihat cara ku makan?"


"Eh...? Tidak juga. Kau jangan kege'eran."


Devan hanya tersenyum tipis sembari geleng-geleng kepala. Lalu menyodorkan bungkusan kosong itu pada Kunia. Yang sigap meraihnya walaupun harus bersungut.


"Dev?"


"Hemmmm?" Devan mengangkat kedua kakinya meletakkan itu kemudian di atas pangkuan Kunia. Sesaat setelah gadis itu meletakkan bungkusan kosong di atas meja.


Songong sekali, sih? (Kuni)


Ia ingin protes, namun sudah lah biarkan saja. Sementara pria itu sudah menyandarkan kepalanya di ujung kursi panjang.


"Apakah kau bisa menjelaskan?"


"Apa?"


"Tentang tujuan kita menikah? Maksudnya begini... Keluarga mu, apakah mereka tidak keberatan?"


"Untuk apa kau peduli itu?"


"Jelas harus peduli. Bukankah kau bilang ini seperti pernikahan sungguhan? Bukan kontrak atau apapun itu?"


Devan terdiam, ia lantas merubah posisi duduknya. Menjadi bersila namun menghadap Kunia.


"Aku butuh teman hidup. Aku butuh seseorang yang mampu membuat ku nyaman di rumah. Hanya itu jawaban ku. Jadi lakukanlah tugas mu, sebagai seorang istri yang bisa membuat ku merasa tidak asing lagi di rumah ku sendiri. Tanpa perlu memikirkan apapun yang ada di rumah itu setelah kau menjadi istri ku nanti."


Dia sepertinya benar-benar serius? – Kunia mematung.

__ADS_1


Devan mengangkat tangannya, ragu-ragu namun ia akhirnya mampu menyentuh kepala Kunia. Tempatnya di bagian pangkal kepala. Tidak bergerak, hanya meletakkan saja telapak tangan itu.


"Di sana nanti? mungkin kau akan tahu. Bahwa aku adalah pria lemah, dan tidak berharga."


Deg...!


Apa maksudnya, apa hidupmu begitu menyedihkan? pria itu bahkan sampai berkaca-kaca. (Kunia)


Devan menghela nafas. Lalu beranjak dari posisi duduknya, berjalan mendekati dinding kaca.


Ia berdiri, dan diam cukup lama di sana.


"Okay...!" Bergumam dengan sedikit hentakkan. Entah apa yang sedang dipikirkan, yang jelas ia benar-benar sudah mantap dengan langkah yang di ambilnya saat ini.


Devano berkacak pinggang, lalu menoleh kearah Kunia.


"Ayo kita habiskan waktu hari ini... Kau mau apa? Akan ku turuti." Devan tersenyum lebar.


Aku tidak mau apa-apa, namun baiklah. Mungkin kau sedang butuh hiburan saat ini.


"Memang kau tidak sibuk, ya?"


"Andre sudah mengosongkan jadwal ku hari ini sampai nanti malam. Jadi aku free," jawabnya, Kunia pun tersenyum.


"Kalau begitu, kita nonton saja bagaimana?"


"Nonton?"


"Ya. Di bioskop..."


"Heiii... Aku tidak mau. Kita nonton beramai-ramai kan enak."


"Apa tidak akan menggangu?"


"Tentu saja tidak, malah lebih seru."


"Emmmm? Baiklah. Ayo jalan–" Devan mendekatinya lalu meraih tangan Kunia dan menggandengnya, keluar dari ruangannya.


–––


Mereka keluar dari lift di lobby itu. Melewati beberapa pegawai yang mengangguk hormat. Walaupun setelahnya saling berbisik.


Namun itu bukanlah hal penting bagi Kunia. Yang penting hari ini, pria itu sedang bersikap manis, jadi ya ... hitung-hitung momong. Begitu pikirnya, yang menganggap Devan seperti anak kecil yang nakal dan jahil selama ini.


"Tuan, Nona." Kedua resepsionis itu membungkuk saat Devan dan Kunia melewatinya. Dimana Kunia tersenyum ceria sembari, dadah– kepada mereka berdua dengan tangan satunya yang tak di gandeng oleh Devano.


"Huhuhu... Irinya aku, gadis itu pakai pelet apa ya? Kerja tiga bulan, pas keluar, ia tidak hanya dapat pesangon yang besar. Namun calon suami juga. Tidak tanggung-tanggung, Tuan Devano loh ini." Resepsionis wanita itu menatap lunglai ke arah pintu masuk, tepat dimana Devano tengah membukakan pintu untuk Kunia. "Haaaaah..."


"Hei– kau juga bisa keluar dari sini, lalu dapat suami," Kata yang satunya.


"Siapa?"


"siapa ya? hehehe... bisa jadi pak Tono. kan jomblo." pria itu menunjuk ke arah OB paruh baya yang sedang membersihkan kaca.

__ADS_1


wanita itu pun memukul bahu si pria, sedikit geram.


"main-main kau ini ya, enak saja gadis perawan seperti ku di tawari Duda anak empat."


"hahaha... memang maunya yang seperti apa? itu bisa jadi bonus kan? dapet suami plus anak."


"sialan kau ini."


"hahaha..."


"huuuhh, yang ku mau itu yang tinggi, banyak senyum dan ramah. hemmmm? Tuan Andre juga tidak apa-apa. Ku dengar kan dia jomblo."


Braaaakkkk!!!


"Aayyy ASTAGA!!!" keduanya terkejut bukan kepalang, sesaat setelah meja resepsionis itu di gebrak menggunakan tumpukan map oleh Sarah.


"Bu– Bu Sarah?"


"Kerja!!! Ngobrol terus!!!"


"Ba– baik bu."


Nenek lampir ini ya? Sukanya marah-marah! Pantesan bawahnya selalu keluar masuk. (Gerutu resepsionis wanitanya itu di dalam hatinya.)


"Ambil nih berkas, kasih ke Andre sana...!" Sarah menyerahkan itu pada resepsionis pria, namun tatapannya tajam mengarah ke si wanita.


"Kok– kok, saya??" Tanya Dia, "ini kan, bukan pekerjaan saya Bu."


"Aku sedang malas ke ruangan, Dia. Kau saja sana. Lagipula membantu itu apa salahnya, sih."


"Ya... Tapi kan, pekerjaan saya saja belum selesai."


"Hanya sebentar...!!! Karyawan ku sedang sibuk semua, kejar target...!!"


"Tapi?"


"Biar saya saja, Bu Sarah." Resepsionis wanita itu menyentuh berkas tersebut.


"Heeeeeeiiittt...! Apa ini?" Bu Sarah meraih tangan itu lalu menyingkirkannya. "Aku tidak menyuruhmu, aku menyuruh dia."


"Tapi Enggar sedang banyak kerjaan, saya saja yang luang Bu."


"Luang? apa kau ingin mencari kesempatan?"


"Apa?"


"Ku bilang jangan kau, Dia saja." Sarah memandang sinis sembari mengalihkan tatapan ke arah pria di sebelah gadis yang sudah mendesah kesal itu. "Ambil tidak? Atau kau mau aku murka, HAH!!!"


"I– iya, Bu Sarah." Gelagapan pria itu lantas meraihnya, lalu lari kocar-kacir menuju tangga darurat saking paniknya, ia bahkan sampai lupa bahwa ada lift di sana.


"Main-main...!!" Sarah menghentakkan jasnya lalu melirik sinis lagi ke arah si wanita yang kita sebut saja, Silvia. "Kerja lagi sana!!!"


Gadis itu tak menjawab, sementara Sarah langsung melenggang pergi.

__ADS_1


"Hiiissshhh...! Apa-apaan sih perawan Tua itu. Benar-benar deh." Gadis itu kembali duduk di bangkunya, lalu melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2