I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
hati yang bertanya-tanya


__ADS_3

Kembali malam datang, Kunia duduk di kursi rotan yang berada di balkon kamar Reni.


Matanya tertuju pada kotak berisi dua biji croissant yang sudah dingin, sepertinya itu di belinya tadi pagi. Namun bukan itu yang menjadi fokus Kunia, melainkan kotaknya. Sama persis seperti yang Anwar beli untuk ibunya. Ah... Bukan, tapi lebih tepatnya Kunia.


Mengingat itu, ia jadi ingat ucapan Anwar yang menginginkan hubungan mereka berakhir. Kuni berfikir sejenak, apa yang dia lakukan tadi, sejatinya adalah perbuatan yang memalukan memohon agar hubungan mereka tidak berakhir.


Seolah ia sedang menelanjangi dirinya sendiri, tapi mau bagaimana? Hatinya sudah tertancap cukup dalam oleh panah asmara Anwar, tidak semudah itu untuk melepaskannya...


Ia pun menghela nafas sembari menundukkan kepalanya. Padahal tadi Anwar sudah nampak manis, namun lagi? Dia kembali menghilang tak mengiriminya pesan sama sekali.


"Kau baik-baik saja?" Reni bertanya, sembari menatap jari-jari lentiknya yang tengah ia kikir, lantas tersenyum kemudian. "Aku selalu suka melihat kuku-kuku ku."


Kuni tersenyum, mendengar ucapan itu. "Aku baik-baik saja."


"Oh..."


"Ren, aku mau tanya kau beli ini dimana? Kok sudah dingin."


"Emmm, itu tadi dari pacarku. Ia memberikannya tadi pagi. Jadi, maklum saja jika itu sudah dingin," jawabnya masih fokus menatap kukunya.


"Pagi?"


"Iya..." Reni menatap wajah Kuni, ia melirik dari atas sampai bawah lalu tersenyum yang menurut Kuni agak aneh.


Gadis itu berusaha berfikir keras tentang ini, kenapa sepertinya kebetulan sekali?


"Ren, aku boleh bertanya sesuatu?"


"Silahkan."


"Sebenarnya, saat ini kau sedang menjalin hubungan dengan siapa?"


"Kenapa memang, kau tanya itu?"


"Hanya ingin tahu saja."


Sejenak, tak keluar sepatah katapun dari bibir Reni. Ia masih fokus membalas tatapan Kunia.


"Kau yakin ingin tahu?"

__ADS_1


"Iya... Aku penasaran. Bukankah kau selalu menunjukkan siapapun kekasih mu itu padaku?"


"Itu benar... Dan jujur saja aku sebenarnya ingin sekali menunjukannya padamu. Tapi, aku masih belum ingin menunjukkannya. Menunggu nanti saja, akan ada masanya kau akan tahu siapa Dia."


*T*atapan Reni kenapa seperti itu? (Kunia)


Gadis berambut pendek itu terkekeh kemudian.


"Pasti dia tampan sekali ya?"


"Sebenarnya tidak juga, biasa sih. Jika soal ketampanan, cukup jauh di bawah Gerald."


"Oh... Dia mapan ya? Kerjanya apa?"


Reni menggeleng. "Dia memiliki sebuah bisnis properti."


"Oohh..." Kuni manggut-manggut.


"Tapi, yang membuatku suka pria itu bukan karena pekerjaan atau mungkin garis keturunannya yang seorang anak walikota."


"Anak walikota? Seperti kak Anwar dong?"


"Lalu? Apa yang membuat mu suka pria itu? Ayo lanjutkan."


"Caranya mendekat, sampai akhirnya pria itu bisa memenangkan hati ku. Dan aku sepertinya yakin untuk menikah dengannya."


"Woaaah..." Kunia menepuk-nepuk tangannya merasa takjub. "Kau yakin akan menikah di usia semuda ini?"


"Kenapa tidak? Dia menjanjikan ku banyak hal. Termasuk janjinya untuk memberikan ku apartemen atas nama ku, dan kita akan tinggal bersama di sana."


"Ya ampun senangnya–"


"Iya, kita juga akan menikah di gedung dengan dekorasi super mewah."


"Wahh... Beruntungnya dirimu."


"Aku memang beruntung. Kalau kau sendiri, apakah Anwar pernah menjanjikan hal seperti itu pada mu?"


Kuni tercenung, ia pun menggeleng pelan. Lalu setelahnya mengangguk cepat.

__ADS_1


"Kau menggeleng lalu mengangguk?"


"Maksudnya... Dia memang tidak selalu berbicara tentang pernikahan. Tapi dia pernah bilang akan menikah dengan ku."


"Benarkah?"


"Iya." Kuni menjawabnya dengan semangat, tak lama Reni pun menghela nafas. Ia masih ingat ucapan Anwar tadi jika saat ini Kuni masih belum bisa menerima keputusan Anwar untuk mengakhiri hubungan mereka. Jadi apabila gadis itu berbicara tentang hubungan yang masih berjalan biarkan saja. Toh yang pasti hatinya untuk Reni...


Aku sebenarnya kasihan padamu, namu mau bagaimana lagi? Kau benar-benar harus move on dari pria yang tidak mencintai mu Kuni– Reni meraih gelas berisi air mineral lalu menengguknya.


Obrolan mereka pun masih berlanjut hingga beberapa menit, sebelum Kunia memutuskan untuk pulang. Karena ia harus segera tidur agar besok pagi tidak telat bangun akibat tidur terlalu malam.


***


Langit diluar masih gelap, gadis berambut pendek itu sudah bersiap Menunggu sang ibu yang tengah menyetrika pakaiannya dengan semangat.


"Ibu itu kurang licin."


Bu Sukaesih melirik tajam, "tutup mulut mu. Semakin kau berbicara ibu akan hentikan pekerjaan ku ini."


"Loh... Loh... Ibu tidak boleh seperti itu. Kuni kan bekerja karena dorongan ibu juga kan, sekarang Kuni sudah di terima kerja harusnya ibu senang."


"Haaaah... Anak kurang ajar ini, rasanya ingin sekali ku tendang bokong mu itu." Bu Sukaesih masih merapikan bagian lengannya setelah itu menyerahkannya pada Kuni yang langsung memeluknya.


"Hangat..."


Plaaaakkk. Sebuah pukulan mengenai bahunya, yang membuat Kunia mengaduh.


"Jangan kau peluk seperti itu...! Kau mau pakaian mu kusut lagi?"


"Aku hanya memeluknya sedikit, tangan ibu ringan sekali sih? Sakit kan."


"Aku tidak peduli itu, yang pasti cepat pakai baju mu dan bersiaplah. Dandan Serapi mungkin. Dan tata rambut mu dengan benar."


"Iya... Iya... Muaaah..." Kuni mengecup pipi ibunya. "Terimakasih atas bantuannya, Bu. Sudah mau menyetrika pakaian ku."


"Hanya di awal, setelah ini kau harus menyetrikanya sendiri."


"Siap... Kalau begitu aku ganti baju dulu." Kunia melenggang pergi keluar dari area laundry, sementara sang ibu menata kembali alat setrikanya membiarkan itu agar menjadi dingin sejenak sebelum mengemasnya ke tempat semula setelah itu beliau pun berjalan keluar menuju area dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

__ADS_1


__ADS_2