I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
kegalauan yang masih berlanjut


__ADS_3

Sebagai wanita yang penuh dengan impian indah, selayaknya seorang gadis. Kunia tak menampik, ia selalu berharap bisa bersanding dengan Anwar di kursi pelaminan.


Walaupun sejatinya ia juga tidak buta-buta amat, perkara keuangannya yang seperti di manfaatkan. Namun mau bagaimana lagi sebagai seorang kekasih, menjadi royal bukanya tidak masalah ya? Asalkan kita tetap ikhlas memberikannya. Toh nanti ketika sudah menjadi suami, sikap Anwar mungkin akan berubah.


Selalu itu yang ada di pikiran Kunia selama ini, hingga ia pun menemukan satu fakta jika uang yang ia keluarkan untuk sang kekasih, rupanya di pakai untuk menjajankan wanita lain. Lebih-lebih sahabatnya sendiri. Disitulah yang membuat Kuni merasa tidak terima dengan perlakuan tidak adil yang di berikan oleh pria tersebut.


Untuk saat ini, biarlah Dia menyendiri, mengobati luka yang amat dalam di hati. Saat cintanya yang sudah lama bersemayam, sekonyong-konyong dicabutnya tanpa permisi.


–––


Sudah pukul sebelas malam....


Gadis itu meletakkan cup mie ke tiganya yang sudah kosong. Karena semua sudah habis ia lahap, hal biasa baginya makan banyak demi bisa menghalau stress. Sebab, itu adalah cara paling efektif, membuat moodnya kembali, entah bagi orang lain.


Kunia mengusap keringatnya yang bercucuran akibat rasa pedas yang menyala-nyala di lidahnya. Membakar bibir yang menjadi lebih merah dari warna aslinya.


Matanya masih terarah pada layar komputernya. Menonton video tutorial makeup di salah satu aplikasi video gratis.


"Aku akan mencoba untuk dandan..." Kunia pun berjalan menuju meja rias, ia mencoba mencari alat makeup yang ada. "Aku hanya punya lip balm, dan bedak bayi padat?"


Gadis itu pun duduk lunglai, memandangi satu batang lip balm yang ia beli sudah hampir satu tahun-an. Saking jarangnya ia pakai, membuat lip balm itu amat awet. Berfikir sejenak, bagaimana dia bisa merubah penampilannya besok?


"Iya benar?" Kunia beranjak cepat, berlari kecil menuju lantai bawah, setelahnya masuk ke dalam kamar sang ibu. Ia pun membuka laci meja rias. Mencari sesuatu, dan ketemulah satu pouch make-up milik sang ibu. "Yeaaahh... Ini yang ku cari."


Segera Kuni menutup laci itu lagi lalu berjalan keluar. Bersamaan dengan itu ia mendengar suara mobil sang ayah yang mulai memasuki halaman rumah. Kuni pun melirik kearah pouch yang ia pegang. "Sebaiknya aku cepat kekamar."


Ia berlari menaiki tangga, dan segera melakukan aksinya untuk mencoba berdandan, dengan makeup milik sang ibu.


Di dalam kamar ia langsung mengeluarkan isinya.

__ADS_1


Satu botol kecil berwarna coklat, yang bertuliskan foundation.


"Apa ini? Mereknya seperti nama federasi sepakbola dunia." Ia meraih tissue karena tangannya terkena cairan foundation yang beleberan di bagian tutup. Ia pun meraih lipstik, merasa tidak yakin dengan lipstik yang berwarna hijau itu. "Tidak mungkin ibu pakai lipstik warna hijau seperti ini, bibirnya selalu merah."


Kunia mencobanya di bibir. sedikit ragu tapi setelahnya Ia pun takjub, walaupun berwarna hijau, hasilnya tetap merah di bibir.


"Woaaah... Hebat. Tapi kok begini sih? Menor sekali." Ia mencoba yang lain, memakai foundation, bedak, alis berwarna hitam, lalu lipstik.


"Apa yang kurang ya? Oh... Yang di mata. Si Reni suka pakai itu, tapi ibu punya tidak ya?" Kuni mencari-cari. "Tidak ada."


Ia pun ingat, di salah satu Vidio tutorial yang ia lihat kalau ia bisa memakai Lipstik sebagai pengganti eyeshadow dan blush-on. Tentunya ia mengaplikasikan itu tanpa takaran pas. Setelah selesai ia kembali bercermin.


"Astaga...! Kenapa aku malah seperti Jengkelin?" Segera ia hapus makeupnya dengan tissue basah, merasa lesu lagi.


"Haruskah aku beli alat makeup, besok? Semua makeup ibu tidak ada yang pas untukku." Kunia kembali menyisir rambut pendeknya, lalu terdiam sejenak dan semakin mendekatkan wajahnya ke arah cermin. "Wajahku memang kusam, tidak seperti wajah Reni yang halus, putih dan bersih."


–––


Ia kembali menyerahkan pouch itu kepada sang ibu saat sarapan pagi. Bu Sukaesih pun sedikit heran.


"Kenapa ini ada padamu?"


"Semalam aku meminjamnya."


"Meminjam pada siapa? Ibu tidak merasa meminjaminya."


"Ya saat ibu pergi, aku hanya berseru pinjam pada kamar yang kosong."


"Anak ini?" Tangan kanan Bu Sukaesih terangkat, di mana Kuni langsung sigap hendak menangkisnya.

__ADS_1


"Ta... tapi tidak jadi kok. Semua sebab makeup ibu norak semua."


"Cih– bukan ibu yang norak. Wajah mu yang tidak cocok. Dasar....! Sudah habiskan sarapan mu, dan kerja saja sana."


"Iya–" Kuni meraih sendoknya lalu mulai menyantap nasi goreng yang terhidang. Dan setelah selesai ia pun berpamitan pada ayah dan ibunya, mencium punggung tangan mereka dengan takzim lantas melenggang pergi.


Pak Gayus seolah menangkap sesuatu yang aneh pada gadis itu. Matanya yang sembab, juga sikap lesu yang tak biasa membuatnya sedikit khawatir.


"Ibu lihat Kunia?"


"Jelas aku lihat, mata ku masih waras," jawab Bu Sukaesih sembari menata piring yang sudah kosong.


"Bukan itu maksud Ayah. Ibu memperhatikan matanya, tidak? dia seperti habis nangis semalaman."


Bu Sukaesih terdiam, memang benar sih apa yang di katakan sang suami.


"Biarlah, mungkin dia sedang memiliki masalah dengan si benalu itu. Dan kalaupun Dia putus, itu adalah suatu anugerah yang patut untuk di syukuri."


"Ibu– tidak boleh berbicara seperti itu, anak kita kan sangat mencintai calonnya."


Bu Sukaesih mengernyitkan dahinya. "Ayah sebut si benalu itu apa? Calon?"


"Ya... Iya." Tergagap.


"Ckckck... Yang seperti ini yang perlu di luruskan. Masih pacaran saja sudah menguras habis dompet calon ayah mertuanya. Bagaimana jika dia menjadi menantu kita? Bisa jadi rumah ini melayang karena di jual olehnya? Kalau ibu sih tidak mau, enak saja!"


"Bisa jadi dia berubah, kan?"


"Apa? Berubah? Ayah pikir orang seperti dia akan berubah? Yang ada akan semakin gila. Sudahlah jangan aneh-aneh... Karena sampai kapanpun ibu tidak akan merestui putriku menikah dengan pria pengeretan itu." Bu Sukaesih pun membawa piring-piring kotor tersebut ke wastafel, untuk di cuci. Sementara pak Gayus hanya geleng-geleng kepala, lalu beranjak dari kursinya bersiap untuk berangkat bekerja.

__ADS_1


__ADS_2