I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
gadisku


__ADS_3

Klaaang...


Pintu kafe terbuka, Devan kini tengah mencari sosok yang membuatnya harus turun di tengah jalan.


Pandangan matanya berkelana, ke segala penjuru. Tempat yang ramai dan lumayan penuh membuatnya sedikit kesulitan untuk mencari gadis tersebut. Tak lama, bibirnya tersungging sinis, tatkala menangkap dua orang tengah tersenyum di salah satu meja yang masih kosong.


Ketemu– (Devan)


Kakinya kini kembali terayun. Ia menghampiri seorang wanita yang sok imut tengah berbicara santai sembari menutup mulutnya.


"Sudah waktunya pulang, ayo pulang!!" Secepatnya ia menarik tangan Kunia, hingga gadis itu beranjak. Reaksi terkejut keduanya membuat hening seketika.


"Ka...kau?" Kunia menutup mulutnya dengan satu tangan. "Maksudnya, Tuan? Anda di sini?"


"Kau sedang apa di sini?"


"Aku?" Kunia tergagap, karena ia masih tak percaya. Kenapa bisa ada Devano di tempat ini. Maksudnya, bukankah dia sedang pergi?


"Kami hanya hendak minum kopi bersama," jawab Zaeni ramah. "Kau mau bergabung? Aku akan memesankan pula untuk mu."


Devan hanya mengarahkan pandangan tak bersahabat pada pria dihadapannya tanpa menjawab. Lalu secara paksa langsung menarik gadis itu.


"Eh... Apa yang?" Seperti tak di berikan kesempatan. Pria itu terus menarik tangan Kuni.


"Dev– ada apa?" Zaeni mencoba menahan mereka.


"Menyingkir!" Titah Devan, dengan nadanya yang datar itu.


"Tapi, dia sedang bersama ku."


"Sekarang sudah bersama ku...! Jadi menyingkirlah."


"Tuan– aku sedang bersama Mas ini, jadi?"


"Mas?" Devano berkacak pinggang. "Sejak kapan kau se-akrab itu?" Tanyanya dengan perasaan gusar.


Eh, apa sih Dia? (Kunia)


"Dev, kami saling kenal itu sebenarnya tidak sengaja. Pertama di gerbong MRT. Setelahnya baru saja sekarang kami ketemu lagi."


Devan membuang muka, ia tak mau mendengarkan apapun dari seorang pria yang ia benci setelah Sekertaris Erik.


"Dev tunggulah, kau lihat pelayan sudah membawakan pesanan kami." Zaeni menunjuk kearah mejanya tadi.


"Apa peduliku? Sekarang, kau nikmati saja sendiri, jangan kau ajak gadisku ini. Karena dia calon ku!" Mengaku dengan lantang, Devan menatap Zaeni semakin tidak suka.


apa katanya, gadis ku? calon? (Kunia)

__ADS_1


"Calon?" Zaeni seolah tak percaya.


"Tidak, bukan... bukan..." Kunia menggeleng cepat, menolak pernyataan sepihak itu.


Siapa yang dia bilang, calon? Seenaknya saja.


Tak perlu berbicara panjang lebar lagi, gadis itu sudah kembali di tarik keluar oleh Devan.


Meninggalkan tanda tanya, lalu perlahan senyum manis Zaeni tersungging.


"Calonnya Devan? Benarkah? Apa anak itu hanya bercanda? Rupanya dia masih belum dewasa." Zaeni geleng-geleng kepala. Ia pun kembali melangkah menuju mejanya, hanya untuk meletakkan uang di atas meja. Lalu keluar dari kafe tersebut tanpa menyentuh sedikitpun pesanannya.


–––


Di luar, gadis itu masih di tariknya. Membawanya menjauh, menghampiri mobil yang rupanya masih terparkir di tepi jalan.


Ya, Andre memutuskan untuk menunggu. Karena dia tak mungkin membiarkan bosnya jalan kaki untuk kembali ke kantor.


"Hei... Hei... Kau mau membawaku kemana?" Sedikit kesulitan ia mengimbangi langkahnya, kakinya yang jenjang itu berjalan amat cepat hingga sampai pada mobil berwarna hitam.


Devan membuka pintu samping di dekat kemudi lalu mendorong kepala gadis itu agar segera masuk.


Aaaa... Kebiasan sekali sih bocah satu ini. –kunia menggerutu dalam hati.


Setelahnya pria itu berjalan memutar dari kap mobil tersebut. Lantas membuka pintu di bagian kendali. Andre sempat terkejut.


"Keluarlah, dan kembali ke kantor."


"Aku akan bawa mobil ini, sebentar."


"Uummm..." Andre pun keluar dari mobil tersebut. "Lalu meeting lanjutannya?"


"Aku hanya sebentar, setelah ini aku akan bergegas menuju hotel A."


"Baiklah, Tuan." Andre mengangguk sekali lantas menjauh. Menghindari mobil yang hendak melaju itu. Ia pun menghela nafas.


Biarkan saja... Biarpun semaunya sendiri. Tapi setiap pekerjaan selalu selesai dengan baik di tangannya.


Andre membatin sembari tersenyum, dan membenahi dasinya. Ia pun merogoh saku jas mengambil ponsel, melihat-lihat barang kali ada pesan balasan dari Sarah.


Tidak ada, baiklah. –kembali pria itu tersenyum optimis, lalu melenggang pergi sembari memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku jas.


💮


💮


💮

__ADS_1


Angin berhembus, menyibak rambut ke-duanya. Di salah satu jalan layang.


Kuni masih bingung, apa tujuannya di bawa ke tempat ini. Dan selama perjalanan kemari pun, tak sepatah kata keluar dari bibir Devan.


"Aku punya masalah pelik dalam hidupku." Devan membuka bahasan. Membuat Kunia menoleh ke belakang, mengarah pada pria yang masih menyandar di bagian kap mobilnya. "Masalah yang tak perlu ku jelaskan secara gamblang. Intinya yang perlu kau tahu, pria itu– adalah kakak tiriku."


Pria itu? Pria yang mana maksudnya? (Kunia masih di buat bingung.)


"Kau harus tahu juga, aku punya sosok wanita yang ku kenal baik, tapi Dia telah membuat ku kecewa karena mengkhianati suaminya... Dan dari situ lah, aku benci sebuah pengkhianatan."


Apa sih? Bicaranya muter-muter. Sebutkan saja namanya, jangan membuatku bingung. Dasar! Lagi pula mau di sebutkan pun aku tetap tidak kenal.


"Maka dari itu, jangan coba kau berkhianat apalagi dengan laki-laki yang ku sebut kakak tiriku itu. aku bisa membunuhmu. Kalau kau melakukannya."


"Eh–" Kunia tercengang. Anak itu sepertinya semakin ngelantur dengan ucapannya. –memang siapa yang mengkhianati siapa? Laki-laki itu? Saudara tiri? Siapa yang kau maksud?


"Kau mengerti kan maksudku, Mbak Kunti?"


"Aku tidak mengerti," jawabnya polos, namun jujur. Devan pun mendesah. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya hanya untuk menarik gadis itu secara tiba-tiba agar lebih mendekat.


Sontak, sedikit gelagapan Dia, terkejut bukan kepalang. Bahkan tubuh Mereka pun menempel, setelah itu merubah posisi menjadi sang wanitanya yang menyandar di bagian kap mobilnya. Devan sedikit mengungkung dengan tatapan yang terarah pada kedua mata Kunia.


Gadis itu mengerjap, sinar mentari sore sudah semakin menghilang. Pertanda senja semakin datang, lantas berganti malam.


Cahaya sore itu sedikit menyoroti wajah Devan yang terlihat lebih dekat.


"Ku bilang aku ingin menikah dengan mu kan? Dan pria yang ku maksud Kaka tiri ku adalah Zaeni. Pria yang bersama mu tadi."


"O... Oh..." Gleeek... Ia sedikit canggung, lantaran bibir keduanya amat dekat. –Ya Tuhan, leherku pegal tapi kalau aku bergerak sedikit saja untuk naik. Kena deh.


Kedua tangan Kuni mencengkeram tali tas yang ia kenakan. Sedikit dingin dan gemetaran. Karena ia tidak pernah berada pada posisi seperti ini. Ya, Anwar tak pernah melakukan ini. Ciuman pertamanya saja belum ia dapatkan. Anwar lebih sering mengecupnya di bagian kening, mentoknya pada pipi. Itupun setelah ia merengek. Jadi bisa di bilang, bibir Kunia masih fresh belum tersentuh siapapun.


"Dan apa yang ku bilang sebuah pengkhianatan. Jika kau mengkhianati ku, maka tidak akan ada ampunan untuk mu. Walaupun itu hanya sekali kau lakukan."


Tunggu, pengkhianatan? Ampunan? apakah saat ini dia tengah berkata dengan serius. masa sih Dia?


Kunia menggeleng cepat, lalu mendorong dada bidang pria tersebut.


"Ayolah. Berhenti membuatku bingung, memang siapa yang akan menikah dengan mu. Aku belum mengatakan persetujuan ku."


"Aku tidak butuh persetujuan mu, yang penting kan ayah dan ibumu."


"Dev, jangan aku. Carilah yang lain."


"Tidak– kau harus menolongku." Devan memegangi pergelangan tangan Kunia. ia berbicara dengan serius kali ini. "Ayolah kita menikah. Karena sejujurnya aku benar-benar butuh status pernikahan ini. Dan hanya kau yang bisa membantu ku."


Deg...

__ADS_1


Butuh status pernikahan, apalagi ini?


Kunia mematung, sebuah jawaban mulai sedikit terbuka. Tentang pertanyaannya, mengenai niatan asli Devan yang mendadak ingin menikahinya. Sudah jelas, ini pasti bukan soal sukanya pria itu pada Kunia, tapi untuk sebuah permainan semata.


__ADS_2