
Beberapa bulan setelahnya...
Devan berdiri di depan sebuah dinding kaca, dengan setelan jas lengkap. Menatap gedung-gedung di hadapannya. kendaraan yang seperti semut berderet di bawah. Nampak sangat kecil saat di lihat dari tempatnya berdiri.
Ia membayangkan semua yang telah terjadi sejauh ini...
Menghabiskan ribuan tetes air mata dan darah, serta nyawa orang-orang terkasihnya.
Kini semuanya telah berakhir, juga segala kehidupan normalnya sudah kembali. Kondisi Omah, pun sudah semakin membaik.
Beliau kini mendapatkan perawatan khusus dari Zaeni dengan telaten walaupun hatinya tidak lah sebahagia dulu. Namun ia tetap berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Segala apa yang harus ia tuai saat ini. Serta berjanji akan menyembuhkan Omah Brianna semampunya.
Delia pun sudah tidak begitu terluka dengan segala fakta yang ia ketahui. Tentang kejahatan yang di lakukan ayah dan ibunya, di tambah kelumpuhan permanen di ke-dua kakinya. Ia masih bisa tersenyum sekarang, meski tak seceria dulu.
Namun rangkulan tulus Kunia, selalu mampu membuat Dia tenang.
Sebab wanita itu yang tetap mau menjadi teman sekaligus kakak perempuan baik hati baginya. Memberikan kesejukan di saat gempuran kenyataan pahit yang ia harus terima.
Walaupun ia sempat sesak ketika mendengar ayahnya akan di hukum mati.
Tetapi ia lega, berkat kebaikan hati Devano atas bujukan Kunia juga yang meminta hakim memberikan keringanan untuk hukuman beliau. Sebagai tanda terimakasih karena telah membantu kelancaran semuanya.
Ya, kini Sekertaris Erik mendekam di sel tahanan seumur hidupnya. Sementara Mamih Liliana juga harus berada di ruang isolasi akibat dimensia parah yang membuatnya menjadi wanita gila, yang selalu histeris akibat berhalusinasi.
Menyebut nama-nama orang yang pernah ia bunuh, dengan tampang ketakutan.
Devan menghela nafas, senyumnya mengembang sempurna. Menatap langit pagi yang cerah melalui dinding kaca ruangan kerjanya.
Matahari sudah kembali ke porosnya.
Sinarnya tak lagi tertutupi awan mendung. Semoga setelah ini hanya bahagia dan bahagia.
Ia siap memulai hari dengan optimisme tinggi.
Ya ... semenjak menduduki kursi komisaris.
Peraturan di kantor itu, serta struktur organisasi perusahaan di rubah total.
Beberapa pegawai yang tidak jujur sudah di keluarkan, lalu menggantinya dengan yang baru.
Tidak hanya itu ia juga menjadi Komisaris muda pertama yang mendapatkan banyak penghargaan di dalam maupun luar negeri. Akibat kemampuannya yang luar biasa di dunia bisnis bersama Andre, yang sudah di angkat menjadi sekretaris pribadinya.
Dan berkat mereka berdua yang membawa pengaruh baik untuk kemajuan serta kesuksesan Diamond's.
Kini Diamond's pun menjadi perusahaan berkelas yang semakin maju pesat, penjualannya. Di hampir setiap produk yang mereka luncurkan.
***
Di kamar Omah Brianna.
Devan mengupaskan jeruk manis untuk beliau.
"Manis kan, Omah?"
Bibir yang sedikit menceng akibat saraf yang belum sepenuhnya membaik hanya tersenyum, sembari mengangguk.
"Omah tahu, beberapa perusahaan ingin bergabung dengan kita. Bahkan Diamond's di jadikan kandidat utama, untuk memimpin Group company."
__ADS_1
Mata Omah terpejam sejenak, tanda ia amat senang dan bersyukur.
Tangan beliau menepuk-nepuk pelan punggung tangan cucunya.
"Omah bahagia, dan bangga padamu. Terimakasih cucuku."
Devan merasa senang, mendengar itu dari Omahnya. Lantas mengingat sesuatu.
"Omah, istirahat dulu. Devan mau menengok Kuni. Sejak kemarin Dia mengeluh tidak enak badan."
Omah mengangguk pelan. Ia memahami. Toh cucunya itu sudah ada hampir satu jam menemaninya di kamar.
"temui Dia, kalau bisa panggil dokter."
"iya Omah." Devan mengecup kening beliau setelah meletakkan piring buah itu di atas meja. Membenahi selimut neneknya. Lalu keluar.
🍂🍂🍂
Di dalam kamar...
Kunia senyum-senyum. Menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Menyambut sang suami di depan pintu kamar.
"aku ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan kepada mu..."
"Apa?" Devan menutup pintu kamar mereka rapat-rapat, serta menguncinya.
Kunia mengatup bibirnya, menahan senyum bahagia.
"Tapi aku tidak yakin kau akan bahagia, bisa jadi kau belum mau menerimanya."
Dev mengembangkan senyumnya, walaupun ia tidak tahu apa yang hendak di tunjukkan istrinya, namun feelingnya sudah mengatakan itu lebih dulu.
Kunia tertawa. Ia menatap penuh cinta kedua mata Devan yang sudah nampak berbinar.
Sinar itu menujukkan kau sudah siap mendapatkan kabar bahagia ini suamiku. Kelihatannya kau juga sudah bisa menebaknya.
Kunia berjinjit, ia mencium bibir sekali. Sembari menggelayutkan tangannya di lingkar leher sang suami. Devan reflek mencondongkan tubuhnya.
"Kau yakin ingin mendengarnya sekarang, sayang?"
Devan mengangguk cepat. "Iya, jangan memberikan teka-teki lebih dulu. Karena aku mau kau mengakatakannya sekarang."
Kunia tertawa, setelahnya. Melihat Devan yang seperti tak sabaran menanti.
"Baiklah ... bersiap untuk menyambutnya." mengeluarkan sesuatu dari balik tubuhnya. "Kau akan jadi ayah–"
Devan mematung, perlahan ia ambil alat tes kehamilan di tangan istrinya, yang terangkat itu. Diam cukup lama, memandangi dua garis merah di sana.
"Hei– kenapa diam saja. Kau tidak suka ya? ku pikir responmu akan sangat antusias." Nampak Kunia sedih, karena mengira ekspresi diam Devan itu adalah tanda ia belum bisa menerima kehamilannya.
Padahal dia sendiri sudah pernah bilang ingin punya anak.
Devan mengangkat kepalanya, bersamaan dengan itu bulir beningnya menetes.
"Ini punya siapa?"
"Punya tetangga– sudah jelas aku tadi bilang kau mau jadi Ayah. Tentu saja itu punya ku."
__ADS_1
"Bohong?" Mengusap air matanya, sembari melebarkan senyuman.
"Ya Tuhan, kau bilang aku bohong?"
Devan tertawa. Ia meraih tubuh Kunia lalu mengangkatnya.
"kyaaaaa ..." Jerit manja Kunia sembari tertawa bersama. "Kau membuatku kaget."
"Kau mempercayaiku? Untuk jadi ayah anak ini?"
"Kenapa bilang seperti itu... memang kalau aku tidak percaya kau bisa menjadi ayah dari anakku, lantas aku harus mencari benih dari pria lain?"
"Cari saja jika kau ingin ku bunuh." Devan meletakkan tubuh sang istri di atas meja bufet.
Kunia tertawa, mendengar jawaban dari si pria bermata indah di hadapannya.
Pria itu menundukkan kepalanya, tertawa haru karena air mata yang tak bisa ia hentikan.
"Dev– aku hamil, kau jangan nangis terus."
"Dasar tidak tahu situasi ... aku sedang bahagia tahu." Runtuknya, yang semakin tidak bisa menahan diri untuk menangis, yang bercampur tawa. Kunia mengangkat kepalanya, mengusap air mata sang suami lembut. Devan segera menggenggam tangan istrinya "Aku mencintaimu Kunia. Sangat! Sangat mencintaimu."
Menciumi tangan sang istri berkali-kali, saking bahagianya.
"Sayang, hmmmpp." Devan membungkamnya dengan ciuman lembut di bibir, lantas melepaskan sejenak.
"Bisa tolong aku? Dan berjanjilah..."
"Apa?"
"Jaga dia, dan dirimu sendiri ... jangan membuat ku kehilangan jiwa ku, karena kehilangan kalian."
"Hei– apa hanya aku yang akan menjaga anak ini dan diriku?"
Devan tersenyum, tipis. Tak mau menjawabnya malah kembali mencium bibir istrinya.
Aku tetap akan menjaga kalian– aku akan menjaga istri dan anakku. Jangan sampai mereka menerima nasib yang sama seperti Mamih Karlina dan diriku, yang bodoh ini.
Dan aku pun, tak ingin bernasib sama seperti Papih...
Yang terluka karena harus memendam sayatan di hatinya selama bertahun-tahun. (Devano)
.
.
.
Note:
Dunia memang tidak pernah tahu akan seperti apa jalanya. Menolak takdir pun tidak akan bisa, namun menghindari takdir buruk ... tidak ada salahnya, kan?
Bahagia untuk saat ini dan seterusnya, adalah impian banyak orang. Namun menyerah ketika telah di timpa ujian hidup? Bukanlah sikap yang perlu di ambil. Kita pun perlu melawannya, demi mendapatkan kembali hak kebahagiaan kita.
Dan setelah selesai...? Hikmah mana yang kita petik.
Jalan baik, maka kita akan bertemu pintu yang baik. Sebaliknya, ketika jalan buruk yang kita ambil, maka kita pun akan menemukan pintu yang buruk pula.
__ADS_1
Begitulah roda kehidupan, tidak akan selamanya menjadi malang setiap manusia. Karena Tuhan bukanya tak adil, hanya tengah mendidik hati mereka yang perlu di kuatkan. Sebelum jadi insan yang hebat.
*** I love you, Mbak Kunti Tamat ***