I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
Amanah besar


__ADS_3

Bu Asmia bersiap, untuk pulang setelah mengemas semua barang-barangnya. Memasukkan kembali tiga meja lipat serta kursinya kedalam mobil truk yang beliau kendarai.


Nafasnya berhembus panjang, manakala mendapati televisi kecil yang berada di sudut kiri atas masih menyala.


Hendaknya meraih remote control, untuk mematikan. Namun urung, saat melihat sebuah siaran berita tentang keluaga Atala, rupanya Nyonya Liliana kini sedang menjadi narasumber disalah satu acara talk show di stasiun televisi tersebut.


~ Ibu LilIliana ini memang sangatlah luar biasa ya? Cantik, berkelas dan amatlah ramah ~


Tutur sang pembawa acara memberikannya pujian, sehingga membuat Liliana tersipu akibat pujian itu. Menutup mulutnya dengan anggun.


Sementara itu Bu Asmia masih memandangi tanpa ekspresi yang jelas.


Nyonya masih terlihat amat cantik, dengan garis wajah sempurna. Bibirnya yang tipis selalu murah senyum membuat beliau di nobatkan sebagai wanita kaya yang terkenal ramah, serta jiwa sosial yang tinggi.


Bergumam dalam hati, beliau belum jadi beranjak dan memilih untuk duduk saja mengikuti acara tersebut.


Di dalam studio tempat acara berlangsung. Mereka masih berbincang, mengenai saham, dan lain-lainnya.


"Baiklah kita kembali ke pertanyaan selanjutnya," tergambar ekspresi keraguan di wajah sang pembawa acara. Memandangi kertas yang berada di tangannya. Matanya melirik sejenak ke seseorang, yang mengangguk tipis kepadanya.


"maaf... Sampai saat ini, rumor tentang anda yang menikahi sekertaris pribadi dari mendiang Tuan Hari. masih cukup santer terdengar. apakah itu benar?"


Liliana tersenyum simpul. "Rumor?"


"Iya Bu, apakah itu benar adanya?" tanyanya lagi, dengan irama jantung yang terpompa cukup cepat.


"Menurut Anda sendiri, bagaimana?" Liliana merubah posisinya sedikit, senyuman ramahnya masih terpancar. Gambaran yang pas untuk mewakili, bahwa Beliau menampik rumor tersebut dengan santai.


Entah pertanyaan itu sengaja di siapakan oleh PD acara, sebagai cara mereka memancing wanita di hadapannya agar mau mengkonfirmasi tentang rumor yang beredar di antara para kalangan yang mengikuti kehidupan keluarga Atala. Atau memang ketidaktahuan mereka.

__ADS_1


Namun yang jelas, banyak pemburu berita yang tengah menanti konfirmasi dari wanita berkelas. Yang kini memegang kendali kerajaan bisnis keluarga Atala dengan ratusan anak perusahaan serta yayasan terbesar yang mereka miliki.


Ya, memang sebelum ini di luar keluarga Atala, tidak ada yang tahu, hubungan pernikahan dirinya dengan Sekertaris Erik. Semua di wajibkan untuk bungkam dengan acara pernikahan yang di gelar secara diam-diam.


Bukan tanpa alasan, yang jelas? Liliana hanya tidak mau, nama baiknya tercoreng setelah menikah dengan Sekertaris Erik. Terlebih pernikahannya terkesan amat terburu-buru, dimana terhitung baru satu Minggu dari kepergian Tuan Harison.


Ya walaupun sebenarnya sudah mulai banyak yang tahu, namun Liliana tidak pernah ingin mengkonfirmasi berita tersebut. Hingga desas-desus tentang menghilangnya Nyonya besar Briana, serta kematian mendadak Tuan Harison. Membuatnya sempat di tuding sebagai otak di balik kematian Harison Atala dan Menghilangnya Nyonya besar Briana Atala, sebagai keterkaitannya dengan harta keluarga tersebut yang memang sudah Ia incar sebelumnya.


Walaupun rumor itu hanya beredar tidak lebih dari tiga bulan saja. Seiring dengan banyaknya akun-akun berita ataupun para wartawannya yang hilang setelah berusaha untuk mengulik keluarga tersebut. Berujung pada tidak beraninya mereka untuk uji nyali mencari kebenaran di balik tirai megah yang menutupi kerajaan tersebut.


Sang pembawa acara terkekeh. "Sepertinya itu tidak benar ya? Karena, Anda masih betah berbusana serba hitam. Menggambar bahwa diri anda masih berkabung hingga saat ini."


Liliana menunduk sejenak hanya untuk mengusap matanya.


"Maaf, saya agak sensitif dengan itu. Membuat mata ini tidak bisa menahan untuk tidak berair." Tersenyum sendu kemudian.


"Tidak masalah, saya mungkin yang terlalu berlebih." Terkekeh.


"Tidak juga, itu hal wajar." Sang pembawa acara turut terkekeh, wajahnya kembali memancarkan ekspresi kelegaan. Sembari memberikan tissue.


"Terimakasih." Gumam beliau sembari menarik beberapa. "Ya, mau bagaimana lagi. Perginya sang kekasih hati, merupakan pukulan paling berat dalam hidup saya. Dan karena kecintaan saya terhadap beliau lah, yang membuat saya masih betah hidup sendiri tanpa ada keinginan untuk menikah lagi." Sambungnya sembari tersenyum manis, bersamaan dengan jatuh pula bulir bening di salah satu sudut matanya. Menatap lurus ke depan, tempat di mana Sekertaris Erik memandanginya tanpa ekspresi.


"Luar biasa. Beri tepuk tangan untuk Nyonya komisaris kita dari Diamond's corporation, ini." Semua yang di studio memberikan apresiasi, dengan mimik wajah kekaguman


Seolah, semua tengah menjadikannya contoh sebagai sosok wanita yang amat mencintai pasangannya. Walaupun sang suami sudah tidak ada. Dan sepertinya di sana hanya Erik lah yang diam, tidak turut bertepuk tangan.


Kembali ke Food truck. Bu Asmia tersenyum miris.


"Srigala yang memakai bulu domba." gumam Bu Asmia, sembari mengarahkan remote control kearah layar televisi tersebut.

__ADS_1


Pikkk... Televisi itu di matikan, beserta lampunya sekali. Setelah itu keluar memutuskan untuk kembali kekediamannya.


Dalam perjalan pulang, Bu Asmia masih memikirkan tentang kondisi Nyonya besar, setelah sekian tahun menghilang. Ia tidak tahu, apakah Nyonya besar masih hidup atau tidak.


Sebab, semua kabar yang menanyakan tentang keberadaan komisaris Briana sudah tidak lagi ada. Seolah semuanya sengaja di hilangkan, bahkan kini sudah tidak ada lagi yang berani mengulik berita tersebut, dan baru kali ini ada sebuah acara yang berani mengangkatnya kembali. Membuatnya sedikit khawatir dengan nasib sang pembawa acara.


Mobilnya berhenti di perempatan lampu merah. Perhatiannya pun kini tertuju pada salah satu Billboard yang berada disisi kiri.


Foto Tuan Devano yang menjadi model, iklan untuk yayasannya sendiri menampakkan wajah yang tidak begitu berseri.


"Haaaaah... Kapan ibu bisa bertemu dengan mu?" Bu Asmia kembali melanjutkan laju mobilnya, setelah lampu berubah hijau. Beliau pulang ke tempat yang cukup jauh dari kawasannya berjualan.


Melaju menyusuri jalan yang masih nampak ramai, tak serta-merta membuatnya khawatir. Lataran Dia hanya wanita paruh baya yang membawa mobil truck sendirian.


Mungkin amat jarang seorang wanita membawa truk, lebih-lebih seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi. Tapi bukan berarti tidak mungkin kan?


Ctaaakk... Bu Asmia menyalakan lampu di kamar, setelah beberapa menit yang lalu tiba di kediamannya.


Hunian yang tidak bisa di bilang sederhana. Karena rumah itu memiliki tiga lantai. adalah rumah pemberian Briana, yang tidak di ketahui sekertaris Erik ataupun Liliana. Sementara rumah yang beliau tinggali dulu dengan Devan merupakan rumah yang lainnya lagi.


beliau pun melepaskan topinya serta kacamata besar yang melekat di kedua matanya.


Sembari berjalan dan mendekati rak buku.


beliau menyingkirkan beberapa buku ensiklopedi yang menutupi sebuah pintu brangkas. Lalu memasukkan kunci kedalam lubangnya, setelah itu meraih salah satu kotak kecil yang sudah kosong. Sebelumnya diisi dengan cincin yang kini melingkar di jari tengah Devano.


Dulu, nyonya besar tidak pernah memberitahukannya. Apa isi dari kotak kecil itu. Namun Beliau hanya berpesan untuk menyerahkannya pada Devano. Dengan catatan, ia harus memberikannya di luar sepengatahuan Liliana ataupun Sekertaris Erik. Bersamaan dengan itu beliau juga memberikan kunci rumah, dan kunci brangkas di rumah itu. Diluar dugaan rupanya isi dari brangkas tersebut merupakan beberapa barang bukti suatu kejahatan.


"Maafkan saya Nyonya besar, saya sempat tidak mengerti apa maksud anda memberikan itu pada saya. Rupanya, cincin Tuan Devano merupakan benda berharga yang patut untuk di lindungi. Dan maaf, sebelum ini saya amat takut untuk membawa amanah ini. Karena saya hanya sendiri, namun saya janji. Akan membantu Tuan muda sebisa saya."

__ADS_1


__ADS_2