
Kedua telapak tangan kami sudah penuh batu kecil, kami pun mulai berjalan mengendap lagi seperti pencuri.
Kami juga heran, orang tuanya adem ayem dalam rumah tidak memperhatikan anaknya, yang sudah banyak melukai kepala anak orang lain, untung saja para orang tua kami, cuek dan malas pusing.
Anak bandel itupun melihat kami dan berlari ambil batu dan melempar kami. Rumah anak itu, rumah panggung dan banyak batu - batu terhambur di samping rumahnya agar tidak becek kayaknya, Makanya orang tuanya sengaja membeli batu sungai dan kerikil dan menghamburnya di samping rumahnya, Jadi anak itu memang banyak persediaan peluru tempur untuk menimpuk kami.
Akupun bergerak maju, dan melempar kaki anak itu, memakai batu kecil dan aku semakin
mendekatinya, walau berapa kali helm ku berbunyi.
"Buk...buk..buk..."
Aku tetap maju dan Arul membantuku melempar anak itu, dan herannya anak itu tidak menangis. Memang anak kecil tapi bandelnya minta ampun.
Akupun langsung memeluk anak itu, dan memukul pantatnya dan sedikit mencubit tangannya yang melempar ku. Dia pun menangis kencang dan kamipun panik dan ambil langkah seribu melarikan diri.
Kami pun berhasil melarikan diri tampa hambatan.
"Akhirnya kita berhasil, Horeeeee....!!!"
Akupun memeluk erat Arul dan dia pun mulai mengeluh.
"Berhasil apanya, bagaimana pulangnya nanti. ...khan tidak ada jalan lain selain rumahnya itu,
Bagaimana jika dia mengadukan kita ?"
Begitulah Arul dia suka memikirkan hal yang belum terjadi, berbanding terbalik denganku. kalau resiko itu, urusannya tiba masa, tiba akal, akupun mengomelinya seperti biasanya.
"Aaaahhh....kamu suka sekali memikirkan yang belum terjadi. kita hadapi dulu baru mengeluh."
__ADS_1
"Aaahhhh....kamu selalu membawaku dalam masalah dan kamu selalu melarikan diri."
Akupun menutup mulut Arul, memakai telapak tanganku.
"Kamu diam...jangan berisik...Ayuk itu, pohon jambunya yang milik bersama."
Kami pun sampai di sebuah tanah kosong yang entah siapa pemiliknya. Ada pohon mangga dan Jambu di sana, beberapa pohon. Dan siapapun boleh mengambil buahnya.
Arul pun bukannya membantuku memanjat pohon, malah sibuk dengan tanaman liar putri malu. Di pegang kemudian daun nya langsung menutup. Makanya di bilang tanaman putri malu.
Arul pun sibuk lagi ambil buah daun tanaman liar, yang modelnya panjang tapi jika dia di buang di air dia pun meledak.
Akupun meneriakinya, dan sudah berada di atas pohon mulai mengambil jambu, tapi sial bagiku. Karna ada dua ular daun di sana kelihatan sangat marah padaku..
Aku sudah terbiasa melihat ular, Karna di belakang rumah ratusan hektar sawah, otomatis kami suka bermain di sawah, jadi melihat ular sudah hal biasa.
Akupun mundur dan mematahkan ranting yang masih ada daunnya. Akupun menyerang ular itu membabi buta, memukul seluruh badan mereka dengan teriakan, seolah Laksmini lagi
berkelahi dengan Mantili.
"Ciya...ciyaaa...ciyaaaaaat....ciyaaaat...akupun terus teriak dengan semangatnya, Arul hanya geleng kepala melihat tingkah konyol ku..Akhirnya ular itupun, bergerak mundur dan akupun berhasil mengalahkannya."
Akupun tertawa...
"Hahahaha...hahaha...akhirnya Mantili aku mengalahkan kamu..hahaha...hahaha...!!"
Akupun menoleh ke Arul dan langsung di sambut dengan jari telunjuknya, dia garis miring di dahinya dan mengatai aku.
"Dasar sinting...!!!"
__ADS_1
Aku hanya menjulurkan lidahku kepadanya.
Akupun mulai mengambil jambu, dan membuangnya ke bawah, setelah cukup banyak akupun turun.
Aku adalah wanita, jangankan pohon jambu, pohon kelapa pun aku panjat, kebetulan ada dua pohon kelapa di belakang rumahku.
Akupun turun dan meloncat turun, setelah kedua kakiku sudah berpijak di tanah kembali.
Aku pun di bantu Arul memungut jambu, Memakai baju kami. Jambu merah sudah penuh di baju kami.
Baju kami gulung naik, memperlihatkan sebagian tubuh polos kami.
Akupun dan Arul berlari pulang, dan kembali berjalan mengendap - endap seperti pencuri, masih memakai helm di kepala kami.
Anak itu tidak terlihat, kamipun mempersiapkan diri untuk lari maraton sekencang mungkin.
Akupun menghitung sampai tiga.
"Satu....dua ...tiga....Lariiiiiiiiiii.....!!!!"
Akupun dan Arul lari sekencang mungkin, menghindari anak bandel itu, yang sudah tak nampak batang hidungnya.
Kamipun langsung menyebrang jalan dan kerumah Arul, mencuci jambu, mulai mengambil kecap, Lombok kecil, dan garam di piring, sebagai pasangan jambu merah agar lebih nikmat menikmatinya.
Dan seperti biasanya, kamipun akur makan bersama dengan riang, setelah melepas helm yang ada di kepala kami.
Arul mengambil kedua helm orang tuanya, dan menyimpannya di tempat semula.
Bersambung.
__ADS_1