
Kembali ke perjalanan ke gunung Weyim, Hari semakin beranjak sore, perjalanan sungguh sangat menyenangkan, Cuaca selalu mendung tapi tak hujan. Kami bahkan sudah dua kali singgah makan.
Waktu terus bergulir, dan di waktu masuk magrib, kami telah sampai di pondok yang telah di buat adikku terlebih dahulu.
Semua pun beristirahat, aku pun pergi berwudhu dan melaksanakan shalat magrib.
Malamnya kami makan lagi, Para pria yang ikut denganku sangat pandai memasak.
Mereka mulai masak nasi dan memberi bumbu, pada sebagian ikan yang aku sudah goreng kering, tampa bumbu agar awet.
Setelah makan, dan para pria membuat kopi dan akupun di tawari teh. tapi aku tidak mau. karna aku tak terlalu suka air panas, baik itu kopi. susu atau pun teh.
Malam semakin larut akhirnya kami pun tertidur kembali.
Sangat banyak bau yang terhirup di penciumanku. Kadang bau harum, bau lumut tumbuhan bahkan ada yang sangat busuk berbau bangkai. Tapi aku anggap tak mencium apa - apa, tetap berdoa keselamatan kepada yang Maha Kuasa.
Pagi pun menjelang,. dan malam telah tergantikan sang Surya.
Tim pun bersiap untuk bertemu bapak Tapor penguasa tanah rimba gunung Weyim.
Kamipun berangkat menuju rumah beliau.
Kamipun berjalan menyusuri sungai, sungguh pemandangan yang sangat indah.
Sangat banyak burung beterbangan, di perjalanan ke rumah bapak Tapor.
Dengan pakaian basah karna selalu menyebrang arus sungai, tak menyurutkan semangat tim untuk terus berjalan, dan akhirnya sampailah kami di sebuah rumah pondok kecil, yang memiliki tiang yang cukup tinggi.
Tampak lumayan banyak orang yang menyambut kami, mereka tampak sangat ramah dan tersenyum lebar menerima kami.
Akupun dan adik naik ke rumah pondok kecil itu, beserta beberapa tim saja, karna rumah bapak Tapor tidaklah luas.
Aku tak menyangka bapak Tapor yang kelihatan sehat, dan sangat lincah itu berumur seratus lima puluh tahun, dan istrinya seratus enam puluh tahun.
Sungguh hidup di tangah hutan, dengan makanan yang tak ada pengawet. membuat umur panjang dan jauh dari penyakit.
Mereka hanya makan pisang muda yang di bakar, makan ikan bakar, dan sagu. Mereka tak konsumsi nasi. Hanya sekali - kali. Itupun belum tentu satu kali dalam sepuluh tahun.
Pak Tapor memiliki anak dan juga menantu dan cucu, mereka sangat rukun.
Ada juga beberapa keluarganya yakni adiknya.
Mereka sungguh sangat rukun.
Amira dan Istri bapak Tapor menjadi sangat akrab. Istri bapak Tapor selalu memeluk Amira begitupun Amira, mereka menjadi sangat akrab.
__ADS_1
Bapak Tapor dan Istrinya berpesan kalau dua hari lagi dia akan menggelar adat, otomatis kami harus bermalam dua hari lagi.
Akhirnya kami pun bermalam, empat malam di atas gunung yang sangat indah pemandangannya itu.
Tak ada tempat mandi ataupun buang air, semua di lakukan di sungai yang sangat panjang. dan muaranya ke laut.
Jika Amira mau mandi atau buang air, harus teriak dulu.
"Jangan ada yang turun yah, aku mau mandi."
Tapi untunglah ada batu besar, setidaknya jika dari depan tak terlihat, kecuali dari belakang.
Tim selalu tertawa jika mendengar Ibu Amira yang polos, walau berotak cerdas. Namanya orang bucin, jadi wajarlah kadang begitu kekanak - kanakan. Itulah yang membuat semua Tim sayang padanya, tapi kalau lagi marah, Amira sungguh sangat menyebalkan. Tapi begitulah Amira, jika hal itu berbahaya untuk pekerjaan nya, dia tak akan segan mengamuk, terus merasa bersalah dan akan merengek dan terus merengek, agar Tim nya memaafkannya.
Pak desa saja yang mau pulang, di suruh belikan pembalut wanita. Suruh titip pada orang yang mau datang lagi ke lokasi.
Sepulang kerumahnya dia terus tertawa dan menceritakan pada Istrinya, tentang Ibu Amira yang kocak. Bahkan berkata Istriku saja tak pernah menyuruhku beli pembalut, ini Ibu Amira baru kenal sudah suruh beli pembalut. bahkan di depan semua Tim dia berbicara lantang.
"Pak Yudi, belikan aku pembalut yah, titip sama anggota ku mau naik besok, aku lagi dapet nih."
Semua tertawa mendengarnya, tapi Ibu Amira hanya santai dan cuek.
Bahkan selesai mandi pun, Pak Yudi bertanya mau kemana Bu Amira.
Ibu Amira berkata.
Semua pun terpingkal.
Bahkan di malam hari, dia tidur terpisah dengan tim pria. Ibu Amira pun berkata.
"Nyaman benar kalian tidur, bisa pelukan kalau dingin, aku juga mau peluk kalian, tapi aku takut kena rahasia ilahi."
Semua terpingkal kembali, Adiknya Surya hanya bisa tepuk jidat dan mendatangi kakaknya dan tidur di sampingnya. Jadilah adiknya jadi gulingnya.
Ibu Amira ibu yang cantik, tapi dia itu bersifat tomboy
Ketiga adik laki - lakinya saja, nyaman tidur dengannya. Bahkan Pak Surya pun, banyaknya kamar kosong di ruangan lain, di kontrakan mereka di daerah gunung Peyi, tapi nyaman selalu tidur di samping kakaknya.
Bahkan di penginapan pun, selalu ambil satu kamar, dan tidur dengan kakaknya, walau ada juga kamar untuk anggotanya, dia begitu nyaman tidur di samping kakaknya.
Bahkan Kakaknya sudah turun dilantai karna sempit, Adiknya Surya juga menyusul nya, tidur melantai di tehel.
Amira dan Surya bagai kucing dan tikus, mereka jarang akur, tapi Pak Surya sangat sayang kakaknya, jika kakaknya ngambek. Dia tak berhenti merayunya.
Walau sembunyi di lobang semut pun, Surya pasti mengetahui keberadaan kakaknya.
__ADS_1
Dia banyak telek sandi, dan tentunya Tim ku tak ada yang pandai berbohong.
Dimalam hari berikutnya, Pak Tapor menyuruh kami tidur di alam terbuka, di depan persimpangan air sungai, Karna besoknya akan di gelar penyetoran adat.
Kami pun tidur beralaskan papan, jadi tak di paku, di biarkan saja di susun di atas tanah, dan dipasangkan tenda terpal di atasnya, di ikat di kayu yang sengaja ditanam. Agar kayunya kuat menahan terpal, yang di jadikan sebagai pengganti atap.
Sangat sederhana, tapi kami pun sangat nyenyak tidur.
Pak Yessa yang merupakan anak angkat Bapak tapo, yang juga paranormal yang bisa melihat makhluk gaib, dimalam harinya.
Pak Yessa melihat seorang Kakek bersurban putih, memakai gamis putih dan berjenggot sangat panjang, sedang berdiri tersenyum menatap Ibu Amira yang sedang tidur. Tapi dia bukan lah manusia biasa, tapi manusia yang hidup di alam gaib.
Diapun menceritakan pada Ibu Amira, keesokan harinya bahwa sewaktu ibu Amira berjalan kaki ke lokasi ini, Sangat banyak makhluk gaib yang mengiringi perjalanannya. Ini adalah pertanda jika Ibu Amira adalah pewaris yang telah di pilih untuk membuka harta di gunung Weyim. Karna kuburan wali yang ada di atas gunung. adalah leluhur Ibu Amira.
Paranormal itu berkata, Ibu Amira sudah ditunggu kelahiran nya, beribu tahun lalu,
dan kita pemilik mahkota hati, yang nantinya akan bersinar untuk umat, karna memiliki hati yang dermawan, dan memiliki hati yang bersih.
Amira sungguh sangat bersyukur kepada Yang Maha Kuasa jika benar tentang hal itu, tapi Amira adalah sosok rendah hati, dia pun mengucapkan Amin 🤲 dalam hati, untuk perkataan baik, yang bagi Amira adalah doa yang baik untuknya.
Paranormal itu berkata.
"Sebenarnya ular penjaga gunung Weyim ingin menemui anda, karna ada yang dia mau bicarakan."
Amira mengingat pesan Putri emas dan buyutnya, melarangnya bertemu jin penunggu Gunung Peyi waktu itu, dan sekarang penunggu Gunung Weyim, Itu khan sama saja.
Amira hanya bisa tersenyum dan tak berkata apa - apa. Setidaknya jika pak Yessa peka, dia akan tahu, jika Amira belum mau bertemu.
Akhirnya hari penyetoran adat pun di gelar, Adat pun di serahkan dulu ke Ibu Amira, kemudian dia setor ke Surya baru ke tangan ketua adat.
Kami hanya mengikuti perintah, karna Pak Tapor yang menyuruh kami melakukan hal itu.
Tak lupa Amira berniat dalam hati.
"Ya Allah jauhkanlah aku, dari perbuatan yang menduakan mu Ya Allah. Jika memang ini benar untuk umat, dan Engkau meridhoi nya Allah, Izinkan lah terbongkar harta ini atas Izinmu Ya Allah, jika bukan karna izin mu Ya Allah, janganlah terbongkar jika bukan atas Izinmu Ya Allah. Aku sungguh hanya ingin Agar umat di sekitar wilayah ini makmur dan sejahtera Ya Allah. Amin. 🤲
Penyetoran adat pun mulai dia gelar Pak Tapor dan Istrinya.
Cukup lama juga Pak Tapor dan Istrinya melakukannya dan akhirnya selesai.
Semua pun berkumpul dan makan bersama, dengan bekal yang di bawa ibu Amira.
Akhirnya keesokan harinya Amira dan adiknya serta semua tim, akhirnya pulang dengan sejuta cerita.
Bapak Tapor dan Istrinya melepaskan Ibu Amira dengan senyum ramah, dan lambaian tangan, begitupun Istrinya yang tak berhenti memeluk Amira.
__ADS_1
Bersambung.