Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 75. Pindah Rumah.


__ADS_3

Flashback Arul.


Tak terasa Aku dan Arul sudah naik kelas dua SMA. Tapi kami beda sekolah lagi, sepertinya dia tak mau satu sekolah dengannya. Pastilah Arul tak mau jika aku selalu menempel di tubuhnya seperti cicak besar, dan seperti lalat yang selalu mengerubungi dia. Begitulah kiasan dia padaku.


Orang tuaku membeli rumah baru di tengah kota, rumah kami yang bersebelahan dengan rumah Arul, akhirnya kami tinggalkan.


Arul pasti sangat bahagia, karna aku tak tiap hari ganggu dia lagi.


Dari umur lima tahun, aku menempel dengannya sampai kelas dua SMA, perjuangan Arul sungguh sangat panjang, dan berliku yang mengenal ku sebagai sosok yang sangat rese, bawel, manja, selalu buat masalah dan Arul selalu jadi penolongku, menganggu makannya, bahkan tidurnya, bahkan aku tak membiarkan dia pacaran. Padahal Arul juga susah jatuh cinta seperti diriku. Tapi aku selalu mengancamnya kalau dia berpacaran, aku akan membuat dia putus dengan pacarnya.


Akupun di sekolah mulai jadi incaran pria kaya di sekolahku, bahkan beberapa pria disekolah ku, menjadikan ku taruhan.


Aku putuskan tak pacaran, karna sungguh tak ada yang membuatku jatuh cinta.


Di sekolah yang lama di kelas satu SMA, aku selalu jadi kesayangan teman pria sekelas ku, karna sosok aku yang tomboy dan ramah.


Aku bahkan membiarkan mereka menyisir rambutku, bahkan mengepangnya. Dan selalu pria yang paling nakal satu sekolah, selalu ada di dalam kelasku.


Aku tak menolak dia mengakui aku pacarnya, agar tak ada yang berani ganggu aku.


Salah satu teman Arul yang sering datang kerumah Arul, adalah teman sekelas ku. Dia sangat tampan, tapi entahlah tak membuatku tertarik. Kata dia sering ke rumah Arul, karna menyukai aku, tapi Arul tak mau mengenalkan aku dengan temannya itu.


Arul begitu cuek kelihatan dari luar dan tak peduli padaku. Tapi dia selalu melindungiku.


dia juga ternyata tak mengijinkan aku pacaran. Dia tak berkata apa - apa, dia hanya berkata jika aku memuji diri, Arul berkata.


"Siapa juga yang mau sama kamu...?


Sungguh kasian pria yang memilihmu.


Siapa juga yang bilang kamu cantik, carilah cermin besar agar kamu sadar diri.


Mana baskom.aku mau muntah."


Tak ada sama sekali kata - kata pujian, dan aku merasa menjadi orang tak waras jika bersama Arul. Semakin dia menghina, semakin aku menyukai kata - kata nya, membuat aku selalu membalas dengan kata - kata sindiran, dan kata - kata bucin untuknya.


Aku terkadang berkata.


"Suatu hari nanti jika kamu mau denganku, biar kamu merengek bahkan nangis darah pun, aku tak akan kasian lagi padamu, dan kamu langsung aku tendang jauh - jauh dari hadapan aku."


Aku cantik lah, Andai produser melihat kecantikan ku, pasti aku sudah jadi artis terkenal.

__ADS_1


Yang Maha Kuasa sangat lah baik, memberiku wajah yang begitu cantik, sedangkan akupun jika bercermin terpukau, melihat betapa cantiknya diriku."


Begitulah aku yang selalu narsis, mendengar kesombongan ku itu, sangat menyenangkan di hatiku.


Apalagi melihat Arul yang selalu mengidam mau muntah, sangat menyenangkan bagi hatiku, melihatnya menderita dan merana sungguh adalah hobby ku.


Jika dia tak tahan lagi, mendengar kesombonganku, diapun menutup telinganya. Jika sudah tak tahan, diapun berlari ke kamarnya dan menguncinya.


Di balik sifat mahalnya, dia selalu peduli denganku.


*****


Aku benar - benar pindah rumah, di rumah baruku.


Arul tak mengintip ku sama sekali, bagiku tak apalah hanya jarak beberapa kilo, sangat gampang aku mendatangi dia, dan menganggu hidupnya lagi.


Rumah baruku adalah sebuah ruko dua lantai milik nenekku, yang di berikan pada orang tuaku, dengan bayaran semampunya.


Kamipun sibuk membersihkan, rumah itu di tengah kota, sangat banyak bangunan pemerintah. Kantor KUA. Kantor Polisi. Bangunan sekolah TK, SD, Dan Kampus STAIN. Mesjid Bahkan SMA swasta terdapat di dekat rumah baruku.


Tak ada sawah, tak ada bendungan air, dan tak ada pepohonan lagi, seperti di rumah lamaku, yang bersebelahan rumah Arul.


Rumah lama ku sekitar 5 kilo saja dipinggir kota ini.


Pasar selalu ramai, karna tingkat ekonomi yang stabil, juga pertokoan.


Okey kembali ke cerita rumah Amira.


Tak terasa siang pun berganti malam, untunglah esoknya hari minggu, jadinya


kami lanjut membersihkan.


Pembantu lama mamaku, sudah berhenti.


karna menikah, dan Mama ku mencari pembantu yang lain, katanya ada lagi seorang pembantu wanita berusia lima belas tahun. Sangat muda tapi begitulah di zaman ku, banyak anak yang dari desa yang jauh, yang putus sekolah, dan menjadi tulang punggung keluarganya.


Ayahnya biasanya bekerja sebagai buruh tani, dan ibu nya mengurus anaknya yang kecil, karna tak mampu biaya sekolah anaknya, terpaksa anak yang sedikit dewasa menjadi pelayan rumah tangga, karna di zamanku jika mau jadi TKW harus juga ada biaya pendaftaran dan kursus, jadi mereka yang tak mampu akhirnya mencari pekerjaan di kota.


Jadinya mencari pekerjaan di dalam daerah saja, dengan modal kenalan, dan saling kabar mengabari, akhirnya seseorang yang butuh pelayan rumah tangga mendapatkan nya.


Akhirnya Mama ku mendapatkan nya, dan segera mengirim uang sewa untuk mobil anak yang bertugas menjadi pelayan rumah tangga di rumahku.

__ADS_1


Aku punya lagi dua adik kecil, bernama Yudi dan Surya. Dan ibu ku lagi habis melahirkan adikku Taufik. Jadi kami sudah enam bersaudara.


Yudi baru Kelas 3 SD. Surya umurnya saat itu baru enam tahun. Dan bungsu baru berumur beberapa bulan.


Ibuku dari dulu selalu mengambil jasa pelayan rumah tangga, walau pun kami sudah besar, entahlah ibu ku jarang sekali menyuruh kami bekerja.


Ayahku sosok Suami idaman, dia selalu membantu ibuku di dalam rumah tangga, mengurus anak, bahkan belanja di pasar adalah tugas Ayahku.


Jika pembantu tak ada, Ayahku selalu pulang di jam istirahat, untuk ke pasar beli ikan, dan langsung membersihkannya, dan menyimpannya di kulkas. Menyapu rumah, dan bahkan mencuci piring, dan pakaian kami.


Waktu istirahat di kantor dia usahakan sebaik mungkin untuk mengurus pekerjaan rumah. Entahlah kami sudah besar, sudah setingkat SMA, Ayah tak pernah mau menyuruh kami membantunya. Bahkan mau makan pun, Ayah sibuk menggoreng ikan, dan masak nasi dan menyiapkan dirinya sendiri, kami hanya di ajak makan. Sungguh Ayahku adalah Ayah yang terbaik di muka bumi ini.


Pulang kantor pun setelah makan, Ayah ke kebun nya dan sawahnya. Sampai menjelang magrib baru pulang. Sungguh sosok pekerja keras.


Bahkan masih bisa menyuap Mamaku makan, dan suka mengendong Mama ku. Dia sangat mencintai Mama ku. Jika kami lewat di dekat Ayahku, pasti betis kami di tapok. Ayah sosok humoris.


"Plakk...."


Begitulah bunyi betis kami di tapok Ayah.


"Pasti ini anak lagi, yang buat marah istri kesayangannya. Dan mulai lagi menyuap Mamaku makan, bahkan Ayah suka juga menggosok daki di tubuh Mama ku, jika mandi. Dia bahkan rela mengayun adikku yang tidur, tak mau Mama ku repot bahkan tak menyuruh kami."


Jika Nenek dari Ayah datang, Nenek selalu membela anaknya, Mengapa membiarkan ketiga anak gadis mu pemalas, ? Semua kamu yang kerja, ajarkan anakmu membantumu. Tapi Ayah selalu bilang.


"Tak Apa bu, tidak susah juga."


Untunglah Nenek ku dari Ayah jarang datang,


dia sungguh pemarah dan selalu menyembunyikan makanan untuk Ayahku, jika dia yang memasak. Nenek sangat marah melihat kami yang tak peduli membantu anak sulungnya. Yakni Ayahku yang pecinta keluarga.


Nenek ku tinggal di anaknya di propensi lain, yang semuanya pengusaha sukses. Saudara Ayah menyarankan jadi pengusaha saja, Karna jika hanya Petani dan PNS, hasil tak seberapa. Tapi Ayah sudah tenang dan bahagia hidup seperti ini.


Bahkan Ayah juga jika malam hari, mengurus lagi keluarga tak mampu. Ayah mendaftarkan dirinya menjadi pengacara gratis, khusus membela kasus orang yang tak mampu bayar pengacara, yang penting kebenaran, bahkan Ayah yang keluar uang.


Ayah ku sosok dermawan, bahkan sering mendatangi keluarganya yang tak mampu, membantunya. Ayah kepala dinas, jadi jika ada uang proyek, Ayah simpan sendiri uangnya, khusus sedekah menolong orang yang membutuhkan.


Ayah hanya memberikan ibuku gajinya saja, sebagai PNS. juga hasil kebun. Banyak kebun Ayah dan sawah di kerjakan orang yang tak mampu, Ayah bahkan tak mengambil hasilnya. Ayahku adalah sosok yang sangat dermawan.


Makanya Ayahku tak marah jika aku suka gadai emas Mamaku, bahkan menabung uang jajanku hanya untuk menolong teman, Karna aku sosok yang murah hati menolong seperti Ayah, bahkan ikut ke kebun juga, dan hasilnya aku jual untuk menolong teman.


Aku adalah sosok yang tak bisa melihat kesusahan orang lain, bahkan sampai menggadai emas mamaku, ataukah ke kebun mengambil hasilnya, menabung uang jajan, aku sungguh ikhlas melakukannya.

__ADS_1


Ayah selalu membela ku, dan menyuruhku lari jika ibuku ingin menghukum ku. Ibuku sangat kesal dengan aku yang suka bergaul dengan orang yang ekonomi bawah, yang membuatku bekerja keras, dan bahkan melakukan hal tak terpuji. Tapi aku sosok yang selalu menerima resiko, lari adalah pantangan bagiku.


Bersambung


__ADS_2