
Aku dan Suamiku pun melanjutkan perjalanan dengan motor nya, hanya itulah harta yang kami punya saat ini.
Hari sudah semakin sore, dan beranjak malam, kamipun singgah berteduh di depan rumah seseorang, dan alhamdulilah mereka sangat ramah, dan membiarkan kami bermalam satu malam di rumah mereka. Kebetulan ada kamar mereka yang kosong.
Untunglah dia tak banyak bertanya.
keesokan paginya kamipun melanjutkan perjalanan keluar kota, dengan tujuan yang belum pasti.
Kata paman ada keluarga di kota yang kami akan tuju nantinya, kamipun terus melanjutkan perjalanan, dan singgah satu kali makan di warung makan.
Hari sudah beranjak sore, sampailah kami di kota keluarga yang di infokan paman.
Dia memiliki mobil Dump Truk, dua unit. Kami pun singgah di rumahnya dan perkenalkan diri.
Mereka sangat ramah, dan cukup prihatin dengan nasib kami.
Istrinya juga sangat ramah pada kami, hanya rumah nya belum selesai semua bangunannya, tapi ada juga kamar untuk kami.
Beberapa hari tinggal di sana kami tak enak, suami dan aku putuskan untuk menjual apa saja di pasar.
Kebetulan ada yang kasih kami pecah belah senilai dua juta lebih, untuk kami bantu jual di pasar, dengan sisa uang paman aku jadikan panjat barang itu, jadi sisa satu juta lebih lagi utang kami.
Kami putuskan bermalam.di pasar di kios mertua keluarga itu.
Hari pertama kami melihat kios.itu, belum ada lantainya, hanya lah tanah..jadi Suamiku mengalasi nya dengan terpal.
Kami tidur tampa bantal, hanya memakai tangan kami.
Sangat banyak tikus lalu lalang, berapa kali kaki mungil mereka berada di atas kaki, tubuh bahkan wajah kami.
Aku sungguh tak nyenyak tidur, di buatnya takut di gigit.
Besoknya kami mencoba menjual pecah belah itu, tapi hanya laku 10.000. saja.
Aku dan suami hanya mengisi perut kami dengan. satu bungkus mie siram yang Kami beli di pasar, seharga tujuh ribu, sisanya tiga ribu kami belikan kue.
__ADS_1
Aku Amira yang biasa hidup serba ada, harus menjalani kehidupan sulit ini, untunglah Ayahku tidak tahu, Beliau pasti akan sangat bersedih melihat anak kesayangannya menderita. Tapi sungguh aku tak pernah merasa bersedih, aku sangat happy dan damai, asalkan Suamiku selalu ada di sampingku.
Aku yang ber Zodiak sagitarius, yang bermental baja, bagiku ini tak membuatku ciut, malah aku sungguh mendapatkan sebuah ketenangan jiwa, Karna Aku memang terlahir di keluarga yang mampu, tapi jiwaku sederhana. Jadi aku hanya merasa sedang lagi piknik Pramuka.saja.
sudah tiga hari menjual pembeli kami, sudah ada kemajuan.
Lima Puluh Ribu, kemudian seratus ribu lebih.
Suamiku pun menyewa kost di depan pasar.
Tiga ratus ribu per bulan.
Menjual itu tak bisa kami harapkan lagi, Karna
banyaknya pedagang besar pecah belah di pasar.
Suamiku mencoba bekerja buruh sawit, tapi dia sangat lemah tak bisa mengangkatnya.
Barang pecah belah kami kembalikan pada pemiliknya.
Akupun minta ijin di keluarga ku itu, untuk pergi ke kota lainnya lagi.
Aku dan Suami berangkat lagi menuju kota lain, jalanan sungguh hancur total.
Sangat banyak warga yang membantu mendorong motor, dan mobil di jalan yang penuh lumpur, dan tentunya ada tarifnya, tapi tak seberapa hanya lima ribu saja untuk motor.
Dengan perjuangan yang panjang, beberapa kali kami menemukan jalanan rusak, untunglah ada juga warga yang membuat pos jaga, untuk membantu kendaraan melalui jalanan itu.
Akhirnya kami pun mendapatkan jalanan Aspal, setelah lima jam lebih berjuang di beberapa jalan yang rusak.
Motor Suami terus bergerak maju terus menyusuri jalan, yang entah di mana lagi ujungnya kami akan singgah lagi.
Sorenya Aku dan Suami singgah lagi di warung biasa, untuk makan mie siram.
Kami sangat hati - hati menggunakan uang, yang sisa 150.000 lagi di kantong ku.
__ADS_1
Setelah mengisi lagi bensin dua liter, kami pun melanjutkan perjalanan.
Bahkan malam sudah menjelang, Suami terus melaju kan motor nya, Karna belum ada kota besar. Hanya lah desa kecil yang kami lewati.
Akhirnya di jam 10.malam, tibalah kami berdua di kota kabupaten yang ramai.
Kami singgah di sebuah kios sembako, untuk mengisi bensin lagi dua liter
Penjualnya ramah, dan menyuruh kami bermalam saja di tempat mereka yang ternyata kost - kosan di belakang kiosnya.
Ada empat kamar, kebetulan kamar yang satunya kosong.
Pemilik kost yang baik hati dia adalah seorang Ibu haji, juga sangat ramah, katanya biar tinggal satu bulan dulu baru di bayar.kost nya tak apa.
Dia memberikan kami kasur dan dua bantal, Kami sangat bersyukur.
Bahkan yang punya kios sembako itu, menjamu kami makan.
Sewa kos nya katanya 300.000 per bulan.
Aku dan Suami setuju, dan berterima kasih atas pengertian Ibu haji itu.
Keesokan.paginya, Suamiku mencoba keluar rumah mau menawarkan jasa ojek.
Tapi waktu itu belum ada ojek motor di kabupaten ini.
Di situlah perjuangan Suamiku yang kadang tak di bayar sewa ojeknya, Karna warga berpikir hanya di bantu di bonceng saja, Karna mereka sering meminta tolong seperti itu.
Ini adalah kabupaten, tapi masih sangat sunyi dan sederhana, terasa kita berada di alam desa yang masih sederhana.
Suamiku terus berusaha, bahkan sering menangis di pantai, dia sangat kasihan padaku, tapi apa daya nya kecuali hanya menangis dan menangis.
Kabupaten ini di kelilingi laut yang luas, jika ada sunami, kota ini akan tenggelam dan akan banyak korban jiwa.
Membayangkan nya sungguh sangat menyeramkan.
__ADS_1
Bersambung.