
Pagi itu aku rindu keluargaku, sudah satu bulan mataku seb kiri atas selalu ber kedip.
Akupun mengambil kartu lamaku, memasangnya kembali.
Akupun mencari nomer ponsel adikku.
Pernah beberapa kali aku menelponnya, menanyakan kabarnya, tapi satu persatu adikku juga mengalami kebangkrutan usaha juga. Aku beritahu mereka kalau beritahu Ayah dan Ibu kalau aku baik - baik saja.
Aku takut menelpon Ayah dan Ibuku.
Setelah menelpon kartu aku cabut kembali.
Supaya tak ada yang bisa menghubungi aku.
Hari ini aku coba lagi pasang kartu aku, menelpon adikku lagi.
"Halo...kataku pada Adikku yang langsung mengangkat ponselnya."
Adikku sangat senang aku menelpon.
"Kamu di mana kak ? kami sangat gelisah mau menelpon mu, Ayah sakit, dan di rawat di rumah sakit."
Aku hanya bisa terdiam, hatiku menjadi sangat sedih.
Aku pun menutup telpon tak tahu mau jawab apa.
Akupun melanjutkan menjual kembali.
Dua jam berlalu di jam 12 lewat, ponselku berdering kembali.
Hari ini hari Jumat, dan orang sepertinya sudah selesai shalat Jumat.
Akupun mengangkat ponselku lagi, terdengar suara isak tangis dari seberang sana.
Tampak lirih, tapi sangat membuat hatiku sangat hancur, air mataku pun berlinang tak henti, semua persendian terasa lumpuh total.
Aku terus menangis, dan langsung menyetop tukang ojek yang lewat di hadapanku, langsung pulang ke rumah.
__ADS_1
Aku seperti mayat hidup, kata - kata adikku disela tangisannya, selalu terulang di telingaku.
"KAAAK...Hik..Hik...KAAAKK..AYAAAHH MENINGGAAL!!"
"Apakah ini mimpi, ayahku tak boleh meninggal, aku belum minta maaf padanya, adikku pasti bohong, ayahku pasti hanya tertidur saja."
Air mataku terus mengalir dengan derasnya.
Aku terus menangis dan menangis, aku tak bisa terima kenyataan ini.
Sesampai di rumah aku bayar ojeknya dan langsung masuk ke rumah, setelah membuka kunci rumah ku.
Aku masuk duduk bersimpuh dan menangis sejadi - jadinya.
"Hik..hik...hik..hik...Ayaaah...Maafkan..Aku.
Ayah..aku sangat durhaka padamu Ayaaah..Hik..hik..hik...Ampuni aku Ya Allah..aku sungguh anak yang durhaka, Hik.Hik..Hik..hik...!!"
Aku terus menangis, duniaku benar - benar hancur, bahkan semangat untuk hidup ku pun tak ada lagi, semua sendiku terasa lumpuh, hati ku sangat hampa, kesedihan dan penyesalan. Yang sangat besar bertumpuk menjadi satu. Aku berharap ini hanya mimpi, dan aku terus memukul tubuhku agar aku bangun dari mimpi ini, Karna aku tak sanggup kehilangan Ayahku.
Aku terus memukul tubuhku, dadaku, menangis dan meratap memanggil Ayahku.
Telpon ku berdering kembali, aku begitu lemah tampa tenaga menekan tombol jawabnya.
Terdengar suara Ibuku di sebrang sana.
"Nak..kamu pulang yah nak, jika tak ada uang kamu, nanti kami kirimkan nak, Ikhlaskan Ayah mu yah nak."
Suara Ibuku tak terdengar lagi.
Aku pun semakin menangis sejadi - jadinya.
Suamiku datang, dia sangat sedih juga melihatku menangis, dia mencoba memeluk dan mengelus kepalaku.
Aku terus menangis.
Pemilik tanah pun, yang rumahnya di sampingku sudah ada di atas rumahku juga, mengelilingi aku yang terus menangis.
__ADS_1
Mama Ryan berkata.
"Saya dan anakku tadi tak berhenti mengintip di dalam rumah ini. Karna tadi ada suara langkah kaki, kesana kemari berkeliling dalam rumah ini. Tapi rumah terkunci dan tergembok. Mungkin Arwah ayah kamu nak sudah sampai di sini nak, menemui kamu nak."
Aku semakin histeris menangis, aku sungguh telah kehilangan Ayahku untuk selama - lamanya. Saat ini hanya terus berkata maaf dan maaf di sela tangisanku, yang tak pernah mau berhenti walau sedetik, kehilangan Ayah sungguh tak bisa aku terima.
Suami ku menelpon Mama Ira untuk datang menghiburku.
Dia memang sangat akrab denganku.
Aku terus menangis.
Mama Ira datang memelukku, memberikan aku kekuatan.
Aku terus menangis.
Suamiku keluar mencari mobil carteran, untuk pulang ke rumahku.
Setelah dua jam berlalu, mobil pun datang,
Mobil Avan*a putih, mIlik teman juga di pasar, keluarga Mama Ira.
Suamiku mulai mengemas pakaian kami di dalam tas.
Aku sudah kehilangan tenaga bahkan untuk hidup pun aku sudah tak mau hidup lagi.
Aku terus menangis.
Bahkan sudah naik di dalam mobil pun, aku hanya terus menangis.
Kesedihan ini sungguh teramat sangat besar untukku, rasanya aku mau mati saja, aku rasanya mau mati juga agar bisa menemani Ayah di alam sana.
Suamiku hanya bisa terdiam, dan selalu membawaku dalam pelukannya, mengelus rambutku tampa ada suara.
Aku terus menangis, air mata ini seolah tak akan mengering, aku sungguh sudah hancur berkeping.
Kehilangan Ayah terbaik seperti Ayahku, anak siapapun itu tak akan bisa menerimanya.
__ADS_1
Bersambung