Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 51. Jadi Apa Yang Kamu Urus Di Situ ?


__ADS_3

Pak Abdi negara pun pergi ke warung makan dan makan.


Tak lama datanglah masyarakat yang sangat banyak, tujuannya sih ngamuk, mau usir abdi negara. Tapi Amira segera menghampiri dan berkata.


"Tidak boleh anarkis yah, kita tak bersalah kok. "


Seorang pegawai desa wanita yang sangat kocak, yang biasa mengocok perut Ibu Amira saking lucunya. Dia memiliki jiwa seni melawak yang luar biasa, dekat dengannya. Siap - siap gigi kalian akan kering di buatnya.


Namanya Ibu Ispin, dia pun berkata.


"Kalau di tanya Abdi negara, kalian kenapa ramai - ramai datang kemari ? Bilang saja mau terima BLT."


Kamipun terpingkal bersama, dan Pak Komandan Pimpinan pun datang mulai kepo.


dan bertanya.


"Waah...kenapa ini banyak warga kemari, ada acara apa yah..?"


Tanya nya kepo atau pura - pura bego, dia sudah tahu kok, warga suka di buatkan jalan tani. masa Ibu Amira di bawakan banyak petugas seolah seperti seorang narapidana. Tapi namanya pak komandan sama Ibu Amira hanya cerdik dan cerdas, tentu saja pertanyaannya hanya mengalihkan suasana.


Seorang warga pun berkata.


"Mau terima BLT Pak...!!!"


Sebagian tertawa kecil, akupun menahan tawaku tidak meledak.


Pak Komandan masih kepo juga, bertanya kembali, atau pura - pura bego. Rasanya Ibu Amira mau ijin mempitak kepalanya.


"Lho kok terima BLT kok Malam yah, biasanya khan pagi dengan ada juga biasa polisi Polsek yang dampingi."


Ibu Amira yang cerdas segera berkata.

__ADS_1


Tadi ini banyak sibuk di kebun sampai malam jadi melapor dulu, kebetulan tahu Bu desanya di sini. Jadi mereka kemari supaya besok pagi mereka akan datang terima BLT nya.


"Ooh begitu.."


Warga yang sudah awalnya semangat juang 45 mau ngamuk, berubah menjadi warga yang sangat manis dan lucu serta menggemaskan. Hanya bisa tertawa dan tersenyum manis dan ramah.


Dan malah kompak sekali berbagi cerita


dengan pak komandan, yang tadinya mereka benci saat ini seolah baru bertemu kawan lama. Karna Pak Komandan juga seperti Ibu Amira sangat baik dan ramah serta humoris.


Suasana yang seharusnya seperti penangkapan narapidana tambang ilegal malah jadi seperti reunian teman lama.


Bayang kan bapak abdi hukum dengan pasukannya, datang dengan lebih dua puluh orang, dengan armada mobil delapan mobil


dengan persenjataan yang lengkap, Seolah Ibu Amira adalah narapidana yang sudah membun*h warga satu kampung.


Amira pun menepuk jidatnya. Dan mengomel seolah nyamuk yang di tepuknya.


Drama penangkapan pun menjadi drama acara keluarga, dan reunian sekolah yang sudah lama baru bertemu di kampung ini.


Ibu Amira pun menepuk jidatnya kembali, dan mengomel lagi banyak nyamuk.


Pak komandan pun pulang, dengan timnya dan akupun telah memberitahu timku untuk mencoba ketemu bapak komandan ini, untuk menjelaskan lebih lanjut kegiatan kami, bukanlah menambang tapi hanya buat jalan tani.


Tim Ibu Amira menyuruh dulu Ibu Amira untuk menjauh dari desa. Karna besok pasti akan ada lagi petugas dari kepolisian dan wartawan. Karna terlanjur, berita bahwa kami menambang ilegal sudah beredar di dunia maya.


Ibu Amira pun pulang, dan masyarakat yang tidak pro pastinya sangat senang.


Sebenarnya di dunia tambang, apalagi sementara pengurusan ijin. Seharusnya masyarakat harus kita rangkul semua, tapi di desa adalah manusia yang sangat polos dan sedikit teguh pendirian.


Apalagi yang jelas menolak kami sebagian besar yang pro kami pun akan susah menerima perbedaan itu, dan akhirnya menganggap masyarakat yang tidak pro itu adalah masyarakat yang menolak desanya maju dan makmur, padahal hanya lah kesalahfahaman yang tidak di selesaikan, Karna tingginya ego masing masing.

__ADS_1


Disini lah ujian Ibu Amira yang sangat gampang baginya, tapi begitu sulit Karna di hadapkan dua pilihan antara A dan B. Sedangkan di pihaknya A hampir seluruh masyarakat, sedangkan B hanya beberapa orang tapi menurut aturan mereka adalah orang yang memiliki tugas tentang apa yang berkaitan dengan kebun dan lokasi yang mau di olah. Karna dia memang petugas yang bertugas menjaga daerah itu. walau paling dasar jabatannya tapi dialah pondasi awa,l jadi jika pondasi goyang, walau pun sudah tinggi bangunan yang kami buat, maka goyang lah semuanya.


Seperti yang ibu Amira alami saat ini, Jadi sungguh membingungkan.


Sifat dan pekerjaan tidak seharusnya di campur adukkan, Karna memang orang ini punya hak untuk itu, Karna dia di bayar oleh negara untuk menjaga lokasi tersebut. Jadi jika pondasi kita sudah goyang. Tak akan ada yang mulus, pasti banyak goncangannya.


Seharusnya masyarakat berpikir lapangan pekerjaan bukan ego mereka, apalagi hanya memperhatikan kepribadian.


Perusahaan juga bukan orang bodoh yang bisa di atur, karna kami juga punya manajemen yang tugasnya mengelola keuangan, dan kami pihak perusahaan hanya akan bayar pembagian persen bagi hasil yang sudah di sepakati dengan masyarakat. itupun perusahaan bayar untuk seluruh masyarakat bukan perorangan.


Perusahaan juga cuma membayar upah tenaga kerja, itupun jika sudah bekerja. Jadi dimana letak Pihak B mau membahayakan kami.


Ibu Amira sudah berapa kali menjelaskan tapi sahabatnya hampir semua kekeh dengan pendiriannya. Pokoknya pilih kami atau dia.


Amira pun stres, keluarganya bertanya padanya. Tumben Singa Betina hanya jalan di tempat. Akupun memberitahu adikku dan keluarga, jika di desa itu saya tidak mengurus ijin tambang.


Keluargaku bingung dan kepo bertanya.


"Jadi apa yang kamu urus di situ."


"Jangan tanya pak Jokowi yah, saya di sini bukan urus ijin tambang, tapi mau bentuk negara. Dan aku adalah presidennya, dan para menteri ku lagi berdebat dengan menteri pihak lawan yang juga memiliki calon presiden nya juga, dan dia juga seorang wanita, jadi kami di sini hanya dua calon presiden."


Keluargaku yang juga kocak pun, menepuk jidat mereka dan semua pun terpingkal, dan menyuruhku pulang saja, membangun rumah tangga ku lebih baik lagi, daripada membangun negara, itu akan sangat sulit, dan pasti tidak mungkin jadi pulang saja.


Ibu Amira hanya bisa pasrah ikut di blender dalam perpecahan itu, yang sudah dia tahu kalau perjuangannya itu tak akan berhasil.


Dia sudah lelah membujuk, seluruh skillnya telah dipakainya. tapi tak mampu menembus dinding Antara mereka yakni Pihak A dan Pihak B.


Ibu Amira hanya bisa pasrah dan mundur jika memang tak ada jalan keluarnya, yang sebenarnya sangat gampang baginya, tapi ego mengalahkan segalanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2