
Di dalam mobil aku terus menangis, air mata ku terus mengalir seolah tak ada keringnya air mata ini terus mengalir, kesedihan yang teramat sangat dalam, kepedihan yang teramat menyiksa jiwa dan ragaku, pantas saja mata ini setiap hari selalu berkedip di bagian bawah kelopak mata selama satu bulan lebih, ternyata ini adalah pertanda aku akan kehilangan seseorang yang sangat berharga bagiku, seseorang yang terus selalu mendukungku, walau aku selalu membuatnya kecewa, bahkan Ayah sudah meninggalkan ku untuk selamanya, aku masih membuatnya kecewa, bahkan belum meminta maaf padanya, Ayah ku sudah meninggalkan ku.
Penyesalan selalu ada di belakang, Andai waktu bisa berubah, aku pasti menurutinya walau harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Aku sungguh anak tak berguna yang hanya membawa kesedihan kepada Ayahku yang begitu sangat mencintaiku, dan peduli padaku.
Ayahku selalu membela ku, walau aku hidup kekurangan materi. Jauh dari adikku yang hidup berlebihan, tapi Ayahku tak pernah mau jika aku bekerja seperti pelayan di rumah adikku.
Ayah akan selalu memanggilku untuk menemani nya nonton di ruang tamu, dan adik ku serta pembantunya yang sibuk di dapur. Jika kami bertamu di rumah adik.
Bahkan adikku saja melahirkan mama menyuruhku mencuci sisa darah adikku di pakaiannya. Ayahku tak mengijinkan aku, dan menyuruh suami adikku memanggil pembantu adikku.
Bahkan aku di marahi saudara perempuan Ayah, Karna aku bantu memetik sayur tapi salah cara memetiknya di dapur, waktu aku dan adik bantu untuk memasak di dapur, sewaktu kami bertamu di rumahnya. Ayah langsung memarahi adiknya.
Mengapa memang menyuruhku, ? kalau anakku tak tahu, dan Ayah memanggilku untuk menemaninya menonton kembali, dia selalu menunjukkan betapa Ayah sangat peduli padaku, Walau aku hidup dengan keadaan ekonomi yang sulit, padahal pilihan ku sendiri, Itu tak membuat Ayah mengurangi kasih sayangnya padaku.
Ayah selalu memberikan aku harga diri di tengah orang - orang yang menyepelekan ku, bahkan kedua adikku sama sekali tak mau membantu ku dalam segi keuangan, walau aku meminta. Karna waktu itu Suami ku hanyalah karyawan magang dg gaji 600.000. Di pabrik kecil, sedangkan adik memiliki Toko alat bangunan yang besar, yang memiliki banyak anak buah, Walau mereka bergelimang harta, kedua adikku sungguh tak memiliki rasa kasian padaku. Harta begitu banyak cobaannya bagi manusia yang sangat menyukainya. Bahkan kedua adikku
bahkan mengajakku belanja di pasar, membeli pakaian, dan lainnya tapi tak membelikan ku, bahkan untuk uang seratus ribu saja, sangat susah mereka berikan.
Aku merasa tak memiliki adik yang peduli padaku, hanya air mata yang bisa aku andalkan untuk semua kepedihan itu, Karna apa hakku marah, itulah adalah hak adikku Karna itu adalah harta mereka.
Aku bekerja pun di Expedisi Paman ku, dengan gaji kecil hanya habis untuk pulsa dan bensin, karna banyaknya Nota yang ingin di tagih. Selama lima tahun bekerja tak ada tabungan, malah menyalahkan ku, dan Ayahku selalu membela ku, kalau aku tak punya tabungan Karna gaji yang dikasih ke aku sangat kecil. Ayah terus membelaku.
Akhirnya aku putuskan mandiri membuka usaha menjual semen, di modali kenalan di pelabuhan yang termasuk distributor semen di daerah kota yang aku tempati, dan pamanku tahu, dan membawa keluarga istrinya untuk menggantikan ku, bahkan salam perpisahan pun tak ada, malah memarahiku mengapa masih ada dirumahnya seharusnya aku sudah pergi.
Bahkan aku pun tak pernah menginjakkan kaki ku lagi di rumah Paman.
Mengapa harta selalu menjadi dinding pemisah keluarga.
Harta memang sangat berharga bagi orang yang begitu mencintainya.
Saat ini kenangan - kenangan betapa baiknya Ayahku yang selalu membantuku, padahal Ayah sudah membujukku untuk menikah dengan orang mapan, walau umurnya dua kali lipat dengan ku, Karna Ayah tak ingin melihatku dalam kesusahan, Ayah sangat mencintai dan menyayangi ku.
Hanyalah penyesalan yang tersisa di dalam hati ini, walau suamiku sangat baik dan sabar, tapi aku membuatnya ikut menderita, dengan hidup bersamaku.
Aku tahu Yang Maha Kuasa sangat membenci kata andai dan seandainya, membenci orang yang berputus asa. Karna Allah maha pengampun dan penyayang, selama hamba Nya mau bertobat dan menyadari kesalahannya, Allah akan selalu memaafkan hamba Nya, dan akan membuka banyak pintu lain, selama manusia tak berputus asa dan yakin kepada Nya.
__ADS_1
Saat ini hanya doa dan permohonan maaf pada Ayah yang selalu ada di dalam hati, dan memohon ampun dan tobat kepada Allah SWT, atas kesalahan yang sangat besar yang aku perbuat ini.
Saat ini kedua adikku pun sudah sedikit berubah, kedua adikku mulai menghargai aku, saat ini usaha mereka pun dalam ujian besar, dan mereka dalam tahap membangun kembali usaha mereka kembali di jalur usaha yang lain.
Tapi aku yakin kedua adikku itu bisa melewatinya, Karna jiwa bisnis melekat pada mereka, jadi kata bangkit dari keterpurukan Insya Allah cepat mereka untuk raih kembali.
Sisa aku yang tak sanggup lagi hidup dengan beban pikiran berat, untuk bisnis besar, walau tetap niat untuk menjadi orang yang kaya raya dunia akhirat, tapi aku tetap pilih hidup sesuai kemampuan, dan sebisa mungkin menolong sesama yang lebih membutuhkan, Karna manusia yang baik dan di sayang Yang Maha Kuasa, adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dan sekitarnya.Dan selalu bersyukur walau hidup serba kekurangan.
Sifat ku yang tak tega melihat kesusahan orang lain, adalah sifat Ayah yang aku miliki.
memiliki hati tenang dan bahagia melihat seseorang dalam kesusahan bangkit dari kesusahannya, walau pertolongan kita hanya bisa ala kadarnya sesuai kemampuan kita, tapi memiliki rasa kebahagiaan tersendiri yang begitu nyaman di dalam hati, sejuk di hati. Melihat wajah yang sedih kembali ceria adalah rasa bahagia yang tak terkira.
Mobil terus melaju membelah jalan kota, ber jam - Jan berlalu bahkan sudah berpuluh - puluh jam, jarak begitu jauh, di dalam mobil selama lebih dua puluh jam, hanya singgah makan dua kali, walau aku tak ada nafsu makan lagi, Suami ku terus membujuk agar ada sedikit masuk ke dalam perutku.
Beberapakali ponselku berdering, tapi aku masih jauh dari rumah, bahkan sudah sore aku belum sampai, sedangkan Ayah sudah harus di kuburkan.
Aku sungguh tak bisa melihat jasad Ayah walau untuk terakhir kalinya, ini adalah hukuman terberat kepadaku, yang tak pernah membahagiakan Ayah yang selalu membela ku, menyayangi dan mencintaiku.
Malamnya aku sampai di rumah Ayah, mobil mobil mewah sangat banyak berjejer memenuhi jalan, keluarga Ayah dan Ibu hampir semua orang yang berada.
Mengapa hati ini begitu tenang, kemana semua kesedihan ini, ?
Mengapa air mata tak mau keluar dari kedua kelopak mata ini. ?
Mengapa hati ini begitu tenang dan damai.?
Mengapa aku merasa Ayahku tak meninggal.?
Aku terus masuk bahkan
Mengapa aku harus tersenyum pada tamu, yang menatapku kesal.
Mengapa tak ada kesedihan yang terpancar dari kedua mata ini.?
Bahkan duduk di dekat Mama, aku hanya bengong melihat foto Ayah, dan tatapan sinis dari saudara - saudara Ayah melihatku, yang tak bersedih.
__ADS_1
Ayahku sungguh sangat menyayangi ku, dia tak membiarkan aku menangisinya. Ayahku saat ini pasti sudah ada di dekatku memelukku erat, akhirnya hati ini begitu damai dan tentram.
Aku bahkan memohon dalam hati.
"Ayah aku mohon Ayah, biarkan aku menangis Ayah"
Tapi mengapa air mata ini, sama sekali tak mau keluar, hati yang resah ini mengapa begitu nyaman dan tenang.
Dan mengapa semua orang tak nampak sedih, bahkan ibuku dan adik ku hanya selalu tersenyum.
Aku yakin Ayah ku orang yang sangat baik, Aku yakin Ayahku adalah kekasih Allah, saat ini Ayah sudah sangat bahagia di SISI yang Maha Kuasa. Insya Allah. Amin YRA 🤲🤲.
Rumah selalu ramai datang banyak kerabat, teman Ayah selalu datang bacakan Ayah surah Al-fatihah, dan ayat lainnya. Bahkan mesjid pun selalu ramai, waktu ibu meminta tolong pada Pak Imam untuk meminta jemaahnya membacakan Ayah surah Al Fatihah.
Sampai Pak Imam heran, Mengapa mesjid selalu ramai dan padat orang datang, dan mau juga bacakan Ayah surah Al-fatihah dan bacaan Al Qur'an lainnya.
Padahal tak biasanya mesjid sangat ramai, hati semua orang tergerak mendoakan Ayah, bahkan keluarganya yang kurang mampu. sudah seminggu tak mau pulang, ingin benar - benar tinggal untuk mendoakan Ayah, kata mereka Ayah selalu menolong mereka jika dalam kesusahan. Ayah selalu datang kerumah mereka menanyakan apa masih ada uang atau beras. Ayah sosok manusia yang sangat dermawan.
Bahkan di hari kematiannya, orang yang melewati jalan di sekitar rumah ku yang semua empat jalur macet total, lebih seratus mobil, motor berjejer memenuhi semua jalan, sampai orang berpikir bahwa Anak pak bupati mungkin yang menikah.
Yang Maha Kuasa sungguh menyayangimu Ayah, bahkan kata adikku waktu jasad Ayah di bawa ambulance, satu meter hujan di depan mobil dan di belakang mobil tak menyentuh mobil, bahkan petir berjejer kayak tiang listrik mengiringi mobil ambulance yang melaju, berbaris di pinggir jalan, tapi semua hati di dalam mobil hanya kagum dan takjub, bahkan Ayah di kuburkan pun, tanahnya beranak, terus membumbung tinggi di saksikan semua orang dan pak Imam hanya berkata. Lihatlah orang baik. tanah kuburannya terus bertambah dan membumbung naik.
Ayahku sungguh Ayah yang sangat baik, bukan hanya pada keluarganya, tapi pada semua orang di sekitarnya
Ayah Maafkan anakmu ini Ayah, Semoga Ayah bahagia dan tenang di sana.
Akupun berdoa dalam hati.
"Ya Allah Trima Kasih telah menyayangi Ayahku dan Insya Allah memberi tempat
yang terindah di samping MU Ya Allah. Maafkan dosa - dosa Ayahku dan ampunilah dosa - dosa ku yang sangat besar pada Ayah ku, Ya Allah, Aku Mohon Ampun Ya Allah. Kehilangan Ayah untuk selamanya adalah hukuman terberat bagi ku Ya Allah, Aku mohon Ampunilah Aku Ya Allah .AmIn YRA 🤲🤲🤲"
Saat ini aku sudah kehilangan Ayah, Dan ini adalah hukuman terberat dalam hidupku. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Bersambung.
__ADS_1