Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 83. Maka Berdoalah Semuanya.


__ADS_3

Akhirnya omelan Tanteku selesai juga deeh, seperti biasanya hati nya sudah plong, mulai deeh merayu deeh.


"Jangan lagi melaporkan Tante yah, Tante sayang kamu juga kok nak, habisnya kamu kalau datang ujungnya uang, dan tak mau tahu kalau Tante bilang tak ada uang, Tante juga pedagang, tak selamanya ada uang, karna uang berputar nak. Nanti malam ke rumah yah, dengan Suami mu, makan yah nak..di rumah."


Tante ku pun pulang setelah memelukku manja.


Akhirnya ceramah Tanteku tamat juga.


Tante ku pulang, dan pamitan Suaminya.


Tak lama Pamanku datang.


"Amira masakkan Paman mie doong, Paman tak suka kalau sangat masak, yang sedang yah, jangan lupa tambah telurnya, ingat Paman suka telurnya, setengah matang telurnya, jangan terlalu masak kuningnya."


Begitulah Pamanku, sangat bawel tapi aku sangat suka di suruh olehnya, aku khan manja dan bucin, jadi jika menyuruhku dengan nada yang lembut, aku sungguh sangat menyukainya.


"Siap Paman...!!"


Akupun mengambil mie dan telur di tangan Paman ku dengan sangat ceria, segera melakukan perintahnya, sesuai pesanannya, dan masakanku selalu di puji, paling enak.


Aku sangat pandai mengambil hati Pamanku.


Bahkan kalau aku ke bengkelnya, aku suka memijat bahunya.


Bahkan jika dia baru datang ke tokonya, dan masuk ke rumah ku aku selalu memeluknya.


Cuma Paman kandungku aku takut memeluknya, wajah mereka selalu pasang wibawa, dan selalu tegas jika di depan ku, dan pasti banyak tugas militer darinya.


Jika Suami Tanteku aku sungguh tak segan, juga Suami adik bungsu Ayahku, yang tinggal di sebuah kota kabupaten, yang masih satu propensi denganku. Aku juga sangat akrab dan suka memeluknya jika dia datang.


Tanteku itu menjual alat bangunan, dan Suaminya pembeli hasil bumi, seperti buah coklat, merica dan cengkeh.


Tanteku itu juragan tanah. dia memiliki ratusan hektar tanah.


Anaknya hanya satu saja, seorang perempuan bernama Mayang.


Dia sekolah di psantren yang terkenal di propensi yang aku tempati. Jika anaknya ingin makan sesuatu, Suamiku yang jadi korban suruhannya. Untunglah Suami ku sangat sabar.


Tanteku malas menelpon ku, hanya Suamiku Karna dia tahu aku punya, seribu alasan menolaknya.


Tante ku itu, walau bungsu tapi sangat keras dan banyak perintah, walau adik Ayahku semua baik, tapi karna jiwa bisnis, dan mandiri, jadi wajarlah pemarah. Cukup mendengarkan saja, jangan coba menentang mereka, karna akan bertambah lagi bab baru kemarahannya.


Ooh Yaa..lupa deeh perkenalkan Nama Paman dan Tante ku.


Paman ku yang juga bos ku, Adik ketiga Ayahku, Bernama H. Rudi. Pamanku yang anak kedua, memiliki bisnis gilingan padi dan pedagang beras. Juga PNS. Pamanku Guru dan Istrinya juga Guru, bahkan Pamanku kepala Sekolah.


Bisnis nya sampingan, pulang sekolah mengatur gilingannya. dan mengatur anak buahnya tentang pengantaran pesanan ke kota, khan uangnya gampang, langganan sisa transfer ke rekening Pamanku.


Pamanku itu, sangat humoris dia sama sekali tak ada raut wajah galaknya.


Setiap bertemu wajah itu selalu tersenyum, Pamanku itu kayak nya, jarang marah deeh, suka sekali bercanda dan tak suka memerintah. Tapi tetap saja aku segan memeluknya, dia humoris tapi wajahnya berwibawa.


Ooh Yaa Nama Pamanku itu, Bernama H. Nurdin. Nama Tanteku, yang aku laporkan ke Ayahku itu, Namanya Hj. Mila. Adik ke empat Ayahku. Dan Adik ke lima adik bungsu Ayahku bernama Hj. Nisa.


Jadi Ayahku lima bersaudara.


Keluarga Ayahku keturunan Bugis Arab, jadi wajarlah postur tubuh Pamanku, dan adik sepupu ku yang cowok nya, memiliki postur tubuh yang tinggi, hidung mancung, di padu Alis yang tebal yang tertata rapi, kulit putih, di jamin tampan lah, malah sangat lah tampan.


Lanjut ke cerita Suamiku, sudah pulang dengan wajah lesu tak bersemangat.


Suamiku berkata.


"Aku sudah berapa kali ke rumah pak Kapolda tapi Pak Brigadir belum datang juga, Aku jadi malu bertanya terus di pak polisi di pos penjagaan."


Amira mengambil ponselnya, menelpon Paman nya.

__ADS_1


Amira.


"halo Paman...Pekerjaan menagih hari ini, tak ada yang dikerjakan."


Suami ku mendelik marah, karna dia juga menagih, Apa lagi rencana istrinya, ? Suamiku menatap depresi. Aku cuma santai seolah tak terjadi apa - apa.


Okey lanjut di pembicaraan telepon.


Terdengar suara Pamanku di sebrang sana, mulai kesal dan marah.


Paman


"Kenapa lagi...!! memangnya apa lagi, kamu kerja di situ. Kamu selalu buat masalah."


Amira


"Bagaimana Paman sih, menyuruh Suamiku hanya jadi penjaga gerbang pak Kapolda, dari tadi pagi Pak Brigadir belum juga datang, entah keluar kemana. ? Sedangkan banyak tagihan yang menumpuk."


Jika kita bahas tentang uang, pasti sudah jadi kelemahan terbesar Pamanku. Dia akan melunak dan tak marah lagi.


Paman.


"Baiklah aku telpon dulu..."


Amira


"Jangan Paman, kasih saja nomernya sama saya Paman, Jangan sampai Beliau lagi ada rapat, nanti agak sore, baru aku saja yang telpon. Supaya kami langsung ke rumah jabatan Pak Kapolda, jika Beliau sudah pulang Paman. Masalahnya Paman, aku mau suruh dulu Suamiku menagih, agar bisa transfer uangnya ke Paman."


Amira mulai berpikir Abunawas mengalahkan Pamannya, yang hanya berotak bisnis.


"Aduuh Amira...Apalagi rencana kamu, ?Author jadi curiga nih, Pasti buat ulah lagi deeh. wkwkwkwk.."


Author tertawa, eeh My Readers yang di pojok


"Wkwkwkwkkwkwk."


Okey...!! lanjut ke cerita Amira.


Amira berkata dalam hati.


"Kalau uang di bahas, Pamanku pasti klepek - klepek, dan akhirnya tak sadar menyebut nomer ponsel pak Brigadir."


Paman.


"Bicara yang sopan jika menelpon Beliau."


Amira


"Siap Paman...!!"


Menutup sambungan ke telepon Pamannya.


Langsung Amira pencet nomer ponsel Pak Brigadir.


Suaminya menjadi sangat tegang, dia tahu Singa Betina nya itu sangatlah pede, muka tembok dan tak takut pada siapapun.


Suami nya berdoa dalam hati.


"Lindungilah Istriku Ya Allah dari salah ucap, masalahnya TUHAN KU, yang di telponnya bukan supir, atau teman baiknya. Tapi orang yang sangat di segani. Amin 🤲"


Begitulah kita - kira ratapan hati suaminya.


Amira


"Assalamu Alaikum Pak Komandan..."

__ADS_1


Suaminya tepuk jidat.


"Aduuuh...mampus deh..!!!


Mengapa memanggil Pak Brigadir Jenderal seperti memanggil teman polisinya. ?"


Suaminya semakin tegang dan berdoa kembali dalam hati.


"Ya Allah jika Pak Brigadir itu marah, dan menelpon Pamannya, dan Pamannya memecat kami, mana tak ada tabungan, Ya Allah, kemana kami akan jadi gembel. Aku sungguh akan jadi gembel, Karna penjual asongan pun butuh modal menjual Ya Allah, jadi apa, selain gembel, karna kami tak ada tabungan, motor pun tak punya, betapa kacaunya hidup ku ini Ya Allah.


Ini saja belum terima gaji, malah minus Ya Allah, Karna bayar kloset Impor langganan, Karna ulah Istriku sendiri yang tak mau mengalah. Kasihanilah hambamu ini Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui, melawan Istriku hanya akan jadi akhir Rumah Tanggaku, Sedangkan Aku begitu mencintainya Ya Allah."


"Waduuh panjang banget curhatan Suami Amira kepada Sang pencipta. Tapi Suami Amira benar juga, Amira sungguh sangat hobby membuat masalah. Author jadi kasian juga sama Suami Amira yang sabar dan ganteng. wkwkwkwkwk...Author mulai sebal dan juga baper deeh, di dunia halu."


Lanjut ke telpon Amira yang sedang berbincang dengan teman akrabnya, yang baru dikenal nya detik itu. Apalagi seseorang yang memiliki jabatan yang tinggi.


"Berarti bukan dong teman akrabnya, cuma Amira yang sok akrab, Wkwwlkwkwkwk"


"Waah....My Readers juga mulai kepo, Wkwkwkwkwk..."


Author dan My Readers pun tertawa terbahak.di dalam dunia halu mereka.


Lanjut ke Amira sedang menelpon.


Amira


"Pak komandan.., aku keponakan Haji Rudi, Suamiku dari tadi pagi sampai saat ini, menunggu kita di pintu gerbang Pak Kapolda, jangan sampai Suamiku nginap disana pak


komandan, hehehe....hehe... !!


Ternyata Pak Komandan besok pagi pulangnya."


Bapak Brigadir Jenderal.


Baru mengenal suara ini, seolah sudah kenal lama sekali, hati jadi ceria dan happy dan membuat Pak Brigadir ikut Tertawa.


"Hehehe...hehe..."


Pak Brigadir Jenderal pun tertawa, Dan Amira meloadspeaker ponselnya jadi terdengar oleh semuanya, yang sangat kepo dengannya, sebagai bukti kalau situasi masih aman dan terkendali.


Maka tertawa lah semuanya, beban pikiran langsung plong dan hati menjadi adem. Author, My Readers, dan Suami Amira menjadi sangat lega.


Lanjut Ke Amira yang menelpon ke Pak Brigadir Jendral.


Amira


"Maksud saya menelpon Pak Brigadir, khan ada amanah dari Pamanku, mau di sampaikan untuk Pak Komandan. kebetulan Rumah saya di jalan Poros, jalan Pahlawan, dan ada papan nama Baleho expedisi Dua Putra. Dekat Pertamina. Bisa saja Pak Komandan lewat sini pulangnya, bisa pak Komandan singgah ambil paket amanah dari Pamanku."


Mendengar Kata - kata Amira selanjutnya.


Author, My Readers dan Suami Amira, kompak tepuk jidat dan kembali drop dan depresi.


"Aduuuhh...Amira menyuruh seorang Brigadir yang menjemput paketnya sendiri, Alamak...bagaimana ini, semoga tak ada bom yang meledak. Amira sungguh pembuat masalah."


Yang di gosip pun, tak ada rasa bersalah sedikitpun, malah makin mengulangi kata - katanya.


"Mari kita berdoa bersama, Author pimpin doa yah."


Maka berdoalah semuanya.


Hantu wanita alias Tante Kunti pun, dalam rumah Amira menertawakan kami.


"Hihihihi..hihi...hihi.."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2