
Amira di sekolahnya itupun menjadi idola baru.
Sorenya Amira di bawa lagi Andin ke suatu tempat sepulang sekolah, Amira juga tak tahu mengapa Dia begitu patuh pada Andin.
Di sebuah jalan dekat rumah Andin, tampak seorang Pria tampan yang duduk di atas motor balapnya. Dia cukup keren dan berwajah tampan, dengan postur tubuh yang tinggi. Tatapan matanya yang penuh karisma menatap Amira dengan tatapan memikat. Baru melihatnya Amira terasa terhipnotis, Dia lebih tampan dari Fattan, juga postur tubuh lebih tinggi seperti seorang model.
Andin pun langsung menepuk bahu pria tampan itu, yang langsung tersenyum ramah.
"Waaahhh...pembalap ganteng kita ada di sini, Amira dia ini pembalap andalan kota ini lho, juga idola banyak cewek cantik. Ayuk kenalan."
Akupun risih dan pemuda itu langsung turun dari motornya datang menghampiri.
"Hai..Aku Rizaldy di panggil Aldy. "
Menjulurkan tangannya ramah.
Akupun menyambut tangannya.
"Amira.."
Andin datang menghampiri.
"Bagaimana balapan di luar kota. Apa sudah selesai ?"
"Iya sudah.."
Rizaldy pun melirik ku, yah seperti itulah Aku, gampang menyukai pria tampan, tapi biasanya hanya beberapa hari, rasa itu menghilang kembali, entah kapan aku bisa merasakan namanya jatuh cinta itu. Aku hanya memiliki rasa suka dan penasaran saja.
Kamipun berpisah, dan Andin memberi kabar jika Rizaldy mau pacaran denganku, dan Andin bahkan sangat gila belum menanyakan padaku, dia sudah menerima Aldy, dan katanya lagi aku sudah sah pacaran dengannya. Aku hanya bisa melongo, Andin benar - benar seorang dalang dan aku adalah wayangnya, yang selalu ikut perintahnya tampa perlawanan. Katanya lagi Aldy ijin mau balapan keluar kota minta di doakan, nanti Jika dia pulang akan menemui ku.
"Andiiin....aku benar - benar stres dengan tindakan sepihak mu, tapi jika bertemu Andin aku selalu bisa tersenyum manis, Pantas saja Fathir yang tampan, tak bisa melepaskan Andin, mungkin saja Andin, sungguh memiliki pelet yang ampuh. Ya Allah Maafkan aku jika aku salah, aku tak menuduh, aku hanya heran saja, gampang sekali dia menjadikan aku kambing congeknya."
Akupun langsung menjatuhkan tubuhku di kasur, baru satu bulan aku sudah punya dua pacar, yang hanya lewat seperti iklan shampo,
"Entah bagaimana lagi dengan Aldy ini, sepertinya dia pun akan berakhir dengan keinginan Andin, bukan keinginanku, khan Andin dalangnya aku hanyalah wayang. Aaaahhh...Andin...cukuplah mengatur hidupku lagi."
Telepon rumahku berdering.
Dulu belum ada ponsel jadi kami hanya memakai telepon rumah, jika orang kaya mungkin memiliki ponsel, karna aku tak pernah melihat orang sekitarku memakainya. Akupun melompat untuk mengangkatnya. Nia dan Ana, ada di lantai dua bermain. Ayah dan Ibu di ruang tamu ngobrol sambil jaga adek kecilku lagi.
"kring..kring..kring...kring..."
__ADS_1
Akupun mengangkatnya.
"Halo...Saya Amira..."
Terdengar suara serius di seberang sana.
"Amira...kamu kesini, ada cewek dirumah, tak mau pulang, Mama stres wanita itu ikuti Abangku sampai di rumah, baru kita tak tahu asal usulnya."
Amira pun memegang keningnya, Ani adik Arul, tak membiarkannya berbicara selain kata okey.
"Okey..Aku kesitu, enak saja dia menganggu milikku."
"Aku tunggu yah, pokoknya kamu peluk atau apakah Abangku itu, biar wanita itu langsung patah hati, dan pulang."
Amira tersenyum anak yang sangat kalem ini, malah mendukung aku berbuat mesum pada Abangnya. Itu khan memang keahlianku.
Akupun teriak dengan suara pelan.
"Arul tunggu aku, Amira sangat merindukanmu..!!! Halo..halo..."
Tak ada lagi suara, Ani telah menutup teleponnya. Akupun segera berlari mengganti pakaianku, dan dandan yang cantik.
Akupun keluar minta uang sama mama, mau kerumah Arul, dan Ayah tak pernah marah, jika aku mau kesana yang penting jangan kerumah teman. Andin mengajakku, khan pulang sekolah, sedangkan Ayah nanti dirumah jika jam empat sore.
Akupun naik ojek motor kesana, sesampai di sana setelah bayar ongkos, akupun berlari dengan riang melewati waduk air, yang ada sungai lumayan besar di bawahnya.
Sampailah aku di depan pintu rumah Arul, teriak salam sambil lari masuk.
"Assalamu Alaikum.."
Tampak Mama dan Ani yang langsung memberi kode tangan menunjuk arah dapur. Setelah Mama Arul menjawab salamku.
"Wa Alaikum salam, dia didalam situ, di dapur."
Akupun langsung berlari ke dapur, mata ku berpapasan dengan wanita, yang cukup manis, tersenyum agak risih padaku. Mungkin kagum dengan kecantikan ku,
"Waduh..kebiasaan dari diriku, yang kelewat pede, wkwkwkwkwk..."
Tawaku dalam hati.
Aku memandang ke depan, tampak Arul, duduk jauh di hadapan wanita itu, tampaknya mereka tadi lagi berbincang.
__ADS_1
"Aku tak akan membiarkanmu memiliki pacar, enak saja mau mendahuluiku. Gadis itu harus jauh lebih cantik dariku, baru aku akan menyerah dan melepaskan mu."
Aku langsung berlari duduk di samping Arul, dan memeluk lengannya, dan mencium lengannya.
Wanita itu langsung berdiri, dan langsung keluar, mungkin tahu diri.
Arul langsung melepaskan tangannya, tapi tunggu dulu tak semudah itu melepaskannya, jika aku belum mau melepaskannya.
Aku terus memeluknya, bahkan sudah memasukkan kakiku ke sela pahanya, menjepit salah satu pahanya, kedua kakiku sudah melingkar memeluk pahanya erat, memeluk lengannya juga sangat kuat.
"Apaan sih, kenapa kamu datang lagi.."
"Aku khan datang menyelamatkan mu, dari buaya betina itu."
"Dia masih mending buaya betina, kamu itu lebih parah ratu buaya, lepaskan aku !!!."
Arul berusaha melepaskan diri, aku semakin memeluknya.
Ani adik Arul, yang sudah ada di hadapan kami, hanya geleng kepala, dan meninggalkan kami yang biasa kalau ketemu pasti duel lagi.
"Lepaskan ratu buaya..."
"Tidak mau raja buaya, kamu khan rajanya dan aku adalah ratumu..."
Seperti biasa expresi mau muntah.
"ooowaaaak...,Aku tak sudi jadi pasanganmu, minggir kamu... aku mau tidur !!!."
Aku terus memeluk lengan dan kedua kaki ku sudah melingkar memeluk salah satu pahanya.
Arul menggelitik pinggangku, pelukanku terlepas. Arul berdiri dan mau berlari, Aku memeluknya, dan menindihnya di dinding, telapak tanganku aku arahkan lagi ke aset berharganya, satu senti lagi mau menyentuhnya.
Arul pun seperti biasa menangis lebay dan meratap.
"Mengapa ada wanita yang tak tahu malu begini ya Allah ?"
Akupun tertawa penuh kemenangan, dan mulai mengunyel kedua pipinya memainkannya, juga memencet hidung dan bibirnya, Arul hanya bisa pasrah dan terus menangis meratapi nasibnya yang malang.
Akupun meremas dan mengacak rambut nya, yang sangat bagus itu, dan meremas semua wajahnya tak ada yang luput dari jemariku. Wajahnya sungguh sangat sempurna, dan sangat tampan, hanya satu yang kurang, aku tak mencintainya, hanya sangat menyayanginya seperti Abang, dan sahabat sejati bagiku.
Bersambung.
__ADS_1