Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 20. Ardi Sosok Baik, Polos Dan Manja. Tapi Terlihat Cuek.


__ADS_3

Nada dering tanda pesan masuk, berbunyi kembali dari Ardi.


"Ibu dimana ? "


Akupun menjawab.


"Dirumah nak, bagaimana kabar kita nak, semoga sehat nak, Apa sudah makan nak ?


"Alhamdulillah sehat Ibu, Iya ibu Ardi sudah makan, Ardi selalu memperhatikan hal itu."


"Wahhh...anakku sangat pintar, ibu senang deeh dengarnya. Apa kita kerja nak."


"Tidak ibu lagi off, kapan kemari ibu jalan - jalan lihat lokasi ibu. di sini nanti banyak perusahaan baru ibu. Bagus cari lokasi. "


"Iya anakku sayang, nanti kamu off berikut ibu kesana yah, jalan - jalan lihat lokasi."


"Iya Ibu akan aku kabari jika off."


"Iya nak."


"Ibu Ardi mau mandi dulu, Assalamu alaikum"


"Wa Alaikum salam nak "


Anak ini sebenarnya sangat cuek, dan pendiam Yang Maha Kuasa membawanya dalam kehidupanku, karna dia tahu aku begitu terluka kehilangan Imram.


Akupun bangun dan melipat pakaian yang sudah di cuci. Aktivitas berjalan seperti biasanya.


Hari berganti hari, tibalah waktunya aku ingin ke tempat Ardi. Aku sudah ijin Suamiku.


Sudah ada mobil yang menjemput ku dan


mengantarku ke tempat Ardi.


Ardi sudah tahu jika aku mau datang. Katanya Ayahnya pun akan datang yakni Tim Solidku.

__ADS_1


Sesampai di sana aku menelpon Ardi, aku menunggunya di sebuah warung.


Umurku memang sudah empat puluh tahun, tapi wajahku masih sangat awet muda. Jika melihat rupaku masih banyak yang terkecoh.


di zaman sekolah aku adalah idola sekolah, wajahku manis dan cantik dan indo Arab tapi hidungku tidak terlalu tinggi tapi sangat sesuai di wajahku, jadi tampak baby face. bagi teman - teman yang memujiku.


Tampak anak baikku sudah ada di depan warung, aku sudah Sherlock lokasi ku.


Anak yang dulu aku lihat waktu masih di kampungnya. Anak yang manis dan berkulit putih. Saat ini dia begitu kurus dan kulitnya sudah memerah karna terbakar matahari. Aku sangat kasian padanya. Di umurnya yang sangat belia dua puluh satu tahun, dia harus berjuang mencari sesuap nasi dan bekerja. yang seharusnya kuliah, dan menikmati masa mudanya.


Anak yang masih seharusnya di sayang dan di manja dan butuh perhatian dan nasehat bijak, kini harus berjuang di tengah pekerjaan yang menuntutnya harus tegas, disiplin dan menghargai waktu adalah uang. Dan Ardi hanya salah satu contoh dari anak - anak yang muda lainnya, dengan berbagai cerita hidup yang berbeda.


Intinya semua hal itu di lakukan karna mencari penghidupan yang lebih baik, agar bisa hidup layak di tengah masyarakat yang lagi kesulitan ekonomi seperti saat ini


yang semua harga naik, karna naik nya bahan bakar, dan sebagian juga hanya mencari pengalaman hidup seperti Ardi, Karna orang tuanya tergolong mampu ada usaha sarang walet dan punya beberapa tempat kebun cengkeh. Anak yang mandiri yang memilih kerja daripada kuliah. Hanya kakaknya yang kuliah, seorang gadis cantik yang manis yang sudah semester terakhir.


Ardi mendekatiku dengan senyum ramahnya.


Aku yang selalu modis dan perpect, dengan berpakaian santai, dengan celana jeans biru ketat, di padu baju kaos dan sweater rajut sepinggang dan memakai sepatu cats putih dan kacamata namun memakai masker. Agar wajahku tidak begitu terlihat. Tubuhku ideal dengan tinggi 167 dan berat 152, berkulit putih, adalah bentuk tubuh ideal seolah aku adalah gadis remaja, dan banyak teman Ardi mengira aku pacarnya.


Teman anakku Aryan pun jika melihatku, mereka pikir aku adalah kakak Aryan bukan mamanya. Bahkan iseng menggoda anakku untuk bertukaran mama dengannya. Sungguh anak remaja yang ceria dan menggemaskan. Memangnya segampang itu tukaran mama.


Akupun tersenyum geli.


Selesai makan Ardi membawaku ke tempat tinggalnya dirumah tantenya, Kakak Ayah Ardi.


Sangat banyak anak kecil di sana. Cucu dari tantenya ada sekitar 5 orang. Mereka selalu memandangku, dengan wajah terpana. Anak kecil sangat jujur dan polos. Jika tak menarik, mereka pasti biasa saja. Tapi melihatku, mata mereka tidak mau lepas dari wajahku, mereka memandangku seperti orang kasmaran. Akupun tersenyum geli. Di umurku yang sudah tidak muda ini, masih bisa membuat orang yang memandangku terpana.


Akupun di perkenalkan dengan Tante dan Pamannya.


Ardi sangat senang aku datang, aku sempat menanyakan makanan kesukaannya. Dia tak pernah jauh dariku. Anak yang sangat baik dan sangat manja. Jika keponakan ku. Aku sudah peluk dan menciumnya gemas.


Aku selalu manja dan bucin pada anakku dan keponakanku juga Suamiku yang cuek. Karna aku adalah Ratu bucin kelas berat.


Aku belikan dia buah anggur, buah lengkeng dan Apel serta Pir.

__ADS_1


Ardi menyimpannya dan sibuk menelpon Papanya. Dia sangat senang Papanya mau datang. Dia selalu menelpon menanyakan posisi Papanya. Aku sangat gemas padanya.


Ardi selalu mengomel manja.


Ardi sosok yang baik, polos dan manja, tapi terlihat cuek serta pendiam. Begitulah aku menilainya


Dia pernah berkata padaku.


"Aku itu aslinya cuek Ibu, dan cuma asik sama teman yang asik juga, aku juga suka kok bicara dengan Ibu, karna Ibu juga asik orangnya."


Mengingat kata - kata polosnya, aku terkekeh dalam hati.


Ardi mulai mengomel lagi.


"Papa dari tadi disitu terus jika aku menelpon, kenapa di situ terus tempatnya, jika aku menelpon, papa di Emea terus"


Nama tempat yang mungkin dikatakan Papanya."


Ardi sangat sibuk dengan ponselnya, dia selalu menelpon Papanya. Aku semakin gemas kepadanya. Sungguh dia anak baik dan masih sangat manja.


Akupun mengajaknya ngobrol, dia tidak jauh duduk dariku.


"Nak besok masuk pagi atau malam ?"


"Pagi ibu..."


"Kita jalan yuk, keliling lagi lihat perusahaan tempat kamu bekerja."


Ardi mengangguk riang.


Akupun minta ijin sama Tantenya untuk jalan dengan Ardi.


Kamipun keluar rumah, dan Ardi membonceng ku dengan sepeda motornya.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2