
Kembali lagi cerita di rumah sakit.
Akhirnya semua sudah kelar, Kami pun membawa Surya pulang, tapi dia sangat oleng dan selalu singgah muntah dan tak mau naik di mobil. Istrinya mau masukkan ulang ke rumah sakit. Pak Surya segera naik ke mobil.
Aku tahu paman ku besok pasti datang marah, Amira pun mencari dokter praktek ahli saraf, tapi jam nya sudah padat pasien, di suruh besok lagi.
Amira mulai memutar otak cerdasnya
Adikku hanya sakit kepala dan muntah, jadi biar dokter psikiater bisa juga tuliskan resepnya. Kebetulan jalan ke rumah adikku adalah jalan ke rumah sakit jiwa, otomatis ada dokter psikiater di sana.
Begitulah Amira si otak jenius, tak akan kehabisan ide.
Akhirnya mendaftarkan dia di antrian psikiater.
Amira paling tak bisa bohong.
Mamanya juga yang ratu kepo menelpon.
"Kamu dimana ini ? Bagaimana dokter ahli saraf, apa sudah dapat antrian. Adikmu muntah terus ini."
"Dokter syaraf mama, lagi padat jadwal. Besok lagi dan hanya dua dokter praktek tak ada lagi."
"Jadi bagaimana adikmu, Itumi kamu suka bertindak sendiri, kenapa kamu kasih keluar adikmu di Rumah Sakit "
Begitulah mama tercinta akan selalu mencari kesalahan Amira, jika kebenaran diam seribu bahasa malas memuji, tapi jika ada kesalahan walau sedikit habislah telinga Amira, walau sudah tua begini anaknya, dia tak akan segan menampar mu dengan sandalnya. Baginya anak nya selalu anak kecil di pandangannya.
"Apa mi ini adikmu muntah terus, dan bla bla akhirnya Amira menutup ponsel sebelum dia juga menjadi durhaka, dan menentang mamanya.
Tak banyak antrian, dan tibalah waktu nya Amira dipanggil masuk ke ruangan Dokter.psikiater rumah sakit jiwa.
Dokter mulai kepo bertanya.
"Ibu pasiennya..?"
"Bukan Dokter, pasiennya di rumah."
"Mengapa tak di bawa pasiennya, ? bagaimana saya mau periksa ?"
__ADS_1
Amira ketemu Dokter bawel, otaknya cepat berpikir, dia selalu banyak ide dadakan.
"Dokter.. keluhan adik saya hanya sakit kepala dan muntah. jadi saya minta resep obat paling paten obat sakit kepala dan muntah."
"Tapi Bu, tak bisa asal kami tulis resep Bu "
"Dokter khan keluhannya di pasien khan tidak datang, dan saya tak bawa nanti muntah di sini Dokter. Dan sekarang khan ada ponsel jadi saya video call, dan dokter langsung wawancara face to face."
Amira selalu ada saja ide jenius.
"Baiklah video call sekarang, saya wawancarai dia, sebenarnya paling bagus dia datang bisa langsung saya sentuh, dan tahu jenis penyakitnya."
Akupun menelpon Istri adik ku, agar memperlihatkan muka suaminya yang ganteng itu.
Mama pun terlihat happy di sana mendampingi, mulai tersenyum ada wajah dokter berbaju putih, belum tahu dia kalau dia itu dokter orang tak waras.
Dokter mulai mewawancarai, terjadilah pertanyaan dan jawaban dari Surya.
Di dalam hati Amira berkata.
Pamanku itu tak akan berhenti jika misinya gagal, dia sangat teguh dan misi ku Surya harus bisa duduk, dan terlihat sangat kuat agar pamanku tak memasukkan adikku lagi di rumah sakit swasta."
Akhirnya resep di buat, dan akupun tenang.
Akupun pulang setelah membayar Dokternya.
Di rumah penderitaan ku tak akan berhenti di situ saja..Aku menyuruh Surya minum obatnya.
Mama ku mulai berceramah, mama tercinta ku itu tahu anaknya, akan menghalalkan segala cara untuk misinya.
"Kamu bilang tak ada lagi Dokter syaraf, kenapa tadi itu ada Dokter. Jangan sampai dokter umum itu. Adikmu ini parah penyakitnya harus dokter syaraf."
Karna Surya juga sudah minum obatnya, akupun berterus terang.
"Mama itu tadi Dokter Psikiater, Dokter rumah sakit jiwa di atas itu."
Surya dan Mama ku sangat terkejut dan tentunya langsung marah sekali.
__ADS_1
"Kak, aku bukan orang gendeng kenapa resep obat tak waras saya dikasih."
"Tak usah banyak bacot kamu, intinya khan kamu hanya sakit kepala dan muntah. Dia dokter orang tak waras, intinya juga orang tak waras adalah kepala. pasti dia tahu obat sakit kepala dan mual yang paten, lebih tahu daripada dokter umum.
Kalau aku tak sembuhkan penyakitmu. Besok Paman datang, jika kamu tak duduk manis dan sehat di pandangan matanya. Mau kamu masuk ke rumah sakit dan ditusuk jarum lagi dan jadi kelinci percobaan. Kamu tahu Paman sangat teguh. pokoknya besok jika dia datang. kamu duduk dan tertawa senang."
Akupun kabur tidur, melawan dua Singa hanya bisa membuat sandal mamaku mendarat lagi di wajahku. Karna mamaku selalu membela adikku. Hanya Ayahku lah yang selalu membelaku. Aku jadi sedih jika mengingat Ayahku.
Surya merengek pada istrinya.
"Coba katanya kamu tanya teman mu Apoteker itu, jenis obat apa aku minum ini. Dia sungguh suka menghalalkan segala cara untuk menipuku, coba aku tahu jika dia mendatangi Dokter Rumah Sakit jiwa, mana mau aku minum obatnya. Jangan sampai salah obat dan aku jadi pasien baru lagi di rumah sakit jiwa. Mama, Kak Amira sangat menyebalkan."
Istri adikku secepatnya menelpon temannya, dan temannya menjelaskan kalau itu obat paten sakit kepala, dan muntah saja, tak apa juga, termasuk dosis tengah.
Adikku pun dan Mama ku langsung menarik nafas lega dan berhenti berkotek.
Shubuh nya aku bangun dan Istri Surya sudah bangun masakkan Suaminya bubur dan sayur.
Aku menyuruhnya meminumkan lagi obatnya sebelum pamanku datang.
Surya pun bangun dan makan di suap istrinya dan langsung meminum obat itu, Karna sakit kepalanya sudah hilang dan mualnya. dia sudah bisa duduk senang dan tertawa, dan mana mau dia puji aku, mereka hanya cari kesalahan ku saja. Jika aku benar tak akan ada yang memujiku. kasian benar hidupmu Amira. Tapi jika aku salah, habislah telingaku mereka tempati mengamuk.
Jam dinding sudah menunjuk angka tujuh, benar saja, Paman tercintaku datang marah, Karna mengeluarkan adikku dari Rumah sakit. Jiwanya yang tinggi rasa pedulinya, cocok jadi menteri sosial, membuatnya bawel dan keras kepala.
Untung aku melihat dia datang, Surya aku kode duduk dan tertawa senang, agar akting sehat wal Afiat berjalan sukses, agar misi Pamanku aku gagalkan.
Diapun datang dan berdiri sambil berkacak pinggang, dan mulai mengomel dengan nada yang tinggi.
"Hari ini aku antar adikmu ke rumah sakit, ini penyakit malaria tropicana yang hanya hidup di tengah hutan, dan sangat mematikan. Obat malaria yang di suntikkan itu, dosisnya sangat tinggi dan menyerang anti bodi dan menimbulkan reaksi penyakit kronis lainnya. Adikmu masih perlu di rawat lagi jangan ada yang coba menentang ku lagi."
Kasian Pamanku, pasti latihan satu malam, memikirkan rencana nya pasti akan berhasil, tapi tunggu dulu Paman, jika Amira si akal seribu, yang memiliki ilmu kesaktian Abunawas, Paman pasti akan pulang dengan harapan yang gagal.
Pamanku bukan Dokter tapi gemar membaca , tadi malam pasti habis juga paman google dia tanya - tanya sampai akar - akarnya tentang bahaya penyakit yang menyerang adikku.
Jika adu argumen yang akurat, pamanku tak ada lawannya, Karna dia sangat haus ilmu pengetahuan. Hobinya adalah membaca tentang apa saja. Masalah hukum, medis, agama, dan lainnya full di memorinya. Jadi soal itu Amira kalah, tapi jika mengolah kata, Amira ahlinya dan selalu masuk di logika orang yang di tentangnya.
Bersambung.
__ADS_1