
Akhirnya anak baik aku pun, berangkat kerja.
Tak lupa minta ijin kepada Ayahnya dan diriku.
Akupun memesan mobil untuk pulang ke rumah kembali,
Ayah Ardi membawaku berjalan - jalan melihat lokasi tanah keluarganya, memakai mobil pribadinya.
Kami cukup lama berjalan - jalan. Sampai ada mobil jemputan ku, menungguku,.Dan akhirnya akupun pulang. Setelah bersalaman minta pamit pada keluarga anak baikku Ardi yang juga tim solidku.
Akupun naik ke mobil yang mulai bergerak maju meninggalkan kota tempat Ardi bekerja.
Setelah menempuh tiga jam perjalanan, mobil yang aku kendarai telah sampai di depan toko bangunan adikku.
Hari itu berlalu begitu cepatnya. Hari berganti Minggu dan Minggu pun berganti dengan bulan.
Ardi masih sering WA menanyakan kabarku, anak manja dan bawel mulai aku rindukan seperti anak kandung sendiri, membuatku sedikit melupakan anak baikku Imram, sahabat muda ku yang baik hati, yang saat ini begitu kecewa padaku. Walau jika masih mengingatnya membuat aku selalu bersedih, sungguh aku sudah sangat sayang padanya, dia bagai Arul bagiku.
Hanya dua orang inilah yang bisa menembus hatiku. Membuatku menjadi orang bodoh, dan bertekuk lutut karna rasa sayang, hormat dan sangat menghargai mereka. Sungguh aku sangat bodoh tidak bisa menjaga mereka dengan baik, padahal mereka sangat baik dan peduli denganku. sangat tulus dan sayang padaku.
__ADS_1
Kenangan mereka akan selalu aku simpan dalam hatiku. Mereka adalah dua malaikat baik yang telah di bawa di dalam kehidupanku, untuk membuatku tersenyum.
Walau hanya sesaat, tapi mereka hadir di waktu yang tepat, pada saat aku sangat membutuhkan mereka, dalam mengarungi lautan kesedihan yang mendera kehidupanku.
Kesedihan yang hampir menenggelamkan aku, dan membuatku mati dalam lautan kesedihan yang mengungkung hidupku..
Mereka bagai kapal yang melindungi ku, dari membawaku mengarungi lautan kesedihan, melindungi ku dari terjangan badai kehidupan yang tak ada hentinya mendera, di dalam kehidupanku. Di saat sampai di tepi, mereka pun akan meninggalkan aku.
Begitulah diriku yang selalu memakai kata perumpamaan, kiasan hanya untuk menyenangkan hatiku saja, agar selalu berpikir positif untuk menghilangkan rasa sedih yang berkepanjangan, kehilangan mereka. Dua pria dengan umur yang berbeda jauh, antara masa lalu dan masa kini.
Imram datang di kehidupanku, masuk perlahan di hatiku, membangkitkan kenangan ku kepada Arul, dan anak ini mulai aku sangat sayangi seperti Arul bagiku. Dan dia datang memberiku pelajaran bagaimana rasanya di tinggalkan.
Kini aku menyadari, bahwa akupun melukai hati sahabat yang sangat aku sayangi Arul.
Mengingat mereka sebagai kenangan terindah di dalam hidupku, sungguh sangat membuat hatiku hancur sehancur nya.
Aku mengingat di masa lalu, masa kuliah, aku sering membuat puisi, dan selalu berhasil di muat di koran, juga cerpen - cerpen aku.
Di saat Arul masih selalu ada setia di sampingku, kapanpun aku membutuhkannya dia selalu ada di sampingku.
__ADS_1
Saat ini aku merasa lebih baik kehilangan cinta daripada kehilangan kedua kesayangan aku itu, aku benar - benar seperti kehilangan anak kandungku yang meninggal dunia.
Kini baru aku menyadari, kalau cinta dan sayang itu berbeda. Cinta itu buta tapi sayang itu tulus. Seperti Cinta Orang Tua kepada anaknya, ternyata jauh lebih besar dari cinta kita kepada kekasih bahkan Suami sendiri.
Aku mulai rajin shalat dan selalu mengadu dan mengucapkan trima kasih kepada Yang Maha Kuasa telah menghadiahkan aku rasa cinta dan sayang. Sebagaimana Nabi Muhammad sangat menyayangi para sahabatnya.
Akupun menyadari kalau aku begitu bodoh, tidak tahu menjaga mereka dengan baik. Dan hanya bisa berharap kata maaf dari mereka berdua yang aku sayangi, semoga mereka bisa memaafkan aku, sahabat bodohnya ini karna hanya itulah harapan ku saat ini.
Di setiap Doaku aku selalu meminta ampun dan meminta kepada Yang Maha Kuasa agar mereka, kedua kesayanganku mau memaafkan aku.
Kesedihan kehilangan Nak Imram, membangkitkan kenangan ku pada Arul. Mereka sungguh sama, hanya wujud yang berbeda tapi pribadi yang sama. ketulusan dan kepedulian mereka sungguh sangat membantuku, di saat aku begitu sedih dan sangat rapuh.
Aku selalu menangis mengingat Imram karna dia membangkitkan kerinduanku pada Arul, teman kecilku yang tersayang, yang sangat aku hargai dan sayangi.
Semoga waktu bisa membuat aku bisa bertemu kembali dengan mereka, dan mereka bisa memaafkan aku. Sungguh aku sangat sayang kalian berdua.
Ini bukan cinta haram, tapi ini rasa tulus penuh kasih sayang seorang sahabat sejati kepada sahabat sejatinya. Rasa yang begitu tulus seperti rasa sayang Orang Tua kepada Anaknya dan Rasa sayang Nabi besar Muhammad SAW kepada sahabatnya.
Begitu berharganya kalian di hatiku. Mengapa kalian hadir di hidupku jika hanya ingin saling menyakiti seperti ini ?.
__ADS_1
Rasa sedih ini sudah dua bulan lebih, masih membuat air mataku tak pernah kering. Sungguh sangat beruntung aku memiliki rasa sayang ini, tapi karna menyakiti kalian berdua sungguh aku sangat tidak beruntung, karna harus kehilangan kalian berdua, dan inilah yang membuatku selalu menangis. Air mata penyesalan yang seolah tak ada ujungnya.
Bersambung