
Kami pun bergandengan tangan menyeberang jalan. Akupun seperti pencuri mengendap - endap di depan rumah Iwan.
Tak lama anak nakal itu muncul dan akupun mulai memperlihatkan batu ku yang besar, untuk mengancamnya.
Anak itu tertawa sinis dan tetap maju mengambil batu, dan duduk dan melempari kami.
"Aduuuuhh....Anak gendeng...!!menyebalkan...!! Aku kutuk jadi Monyet kamu...Haaaahhh....!!!"
Aku terus mengumpat dan memaki anak nakal itu. Tapi jidatku kena, lemparan batu anak bandel itu, dan terasa dingin, Arul kaget dan cepat menarik ku kabur melarikan diri.
Arul pun terkena kepalanya, batu dan berteriak.
"Aduuuuhhhh....!! kepalaku kena juga, Aaaaaaahhhh....!!!."
Kamipun terpaksa mundur tampa perlawanan.
Kamipun duduk di depan waduk air, yang di bawahnya sungai besar yang menggelembung besar, karna air yang keluar dari pintu air waduk.
Arul memegang keningku, akupun meringis. Arul memperlihatkan darah di jemarinya, sehabis memegang keningku.
"Keningmu berdarah, ini darahnya."
Keningku sudah terasa nyeri, tapi aku wanita kuat hanya cuek, dan malah memikirkan rencana untuk membalas dendam pada anak nakal itu.
Arul pun memegang kepalanya dan mulai mengumpat.
"Aaaahhhh...!! anak gendeng, kepalaku juga benjol dia timpuk batu.."
Darah sudah mengucur sampai di di wajahku dan ke hidungku, tapi aku cuma mengusapnya tapi mengapa bertambah banyak. ? Arul pun panik dan segera menarik ku pulang ke rumahnya.
Rasa amarahku pada anak kecil itu, jauh lebih sakit daripada luka ku. Aku sudah biasa dengan rasa sakit, karna aku suka berkelahi adu fisik dengan lawan jenis ku. Jika marah aku tak segan duluan menerjang dan bergulat.
"Mama ....mama...!!!"
__ADS_1
Arul mulai teriak memanggil mamanya, tapi tak ada sahutan. Arul terus masuk kedalam rumah tapi tak bisa menemukan mamanya.
"Kayaknya mamaku ke pasar, "
Arul pun mengambil kotak P3K. di lemarinya. dan mengambil kapas dan mulai menekan lukaku dan membersihkannya, mengeluarkan obat merah, gunting, perekat dan perban, Dia sangat sibuk dan khawatir padaku, sedangkan aku yang punya luka, hanya berpikir keras bagaimana caranya bisa menaklukkan anak bandel itu.?
Dengan telaten Arul membersihkan lukaku, memberinya obat merah, dan menggunting perban untuk menekan lukaku.
Akupun teriak, mendapatkan ide cemerlang.
"Aruuuuulll...."
Arul sangat kaget dan ikut berteriak.
"Maaaaaaffff....!! sakit yah...!!!"
Akupun merangkul lehernya dan mendekatkan wajahku, dan membisik telinganya.
Arul pun mendorongku dan memijat keningnya.
"Kamu membuatku kaget saja, saya kira aku menyakitimu...!! dasar wanita aneeehh...!! sini cepat ku obati luka kamu."
Arul pun kembali fokus merawat lukaku, dan akupun menjadi kambing congek nya lagi. Pasrah dia tempelkan perban, dan memberinya perekat di dahiku agar tidak lepas.
Arul dan aku kadang tidak akur tapi lebih banyak akurnya, dia memiliki perasaan yang sangat peduli, lain denganku berbanding terbalik denganku, yang sangat cuek dan egois.
Dia selalu setia menemaniku, dan rela berbagi barangnya bahkan makanan nya demi aku, walau terkadang juga malas membaginya denganku, karna aku suka menindasnya, menyuruh Arul menyuapiku makan, dan dia sangat kesal di perintah olehku tapi tetap mengalah, Karna aku punya banyak cara yang sangat licik untuk membuatnya pasrah aku menindas nya.
Dia sangat pemurah dan juga sangat peduli dan romantis. Tapi cepat juga marah, jika aku meledeknya, dia tidak suka di ledek apalagi di tertawakan, tapi hatinya cepat move on, dan aku adalah orang yang paling pandai merayunya.
Walau terkadang aku dan Arul kadang duel seperti pegulat tangguh. Dia tak mau kalah jika berkelahi denganku, untung selalu ada penyelamat. Apakah Mamanya..? Ataukah petani yang lewat, Jika teman - teman hanya meninggalkan kami, malas melihat drama kami, kadang baik dan kadang jahat.
"Naaaahhh....sudah rapi...."
__ADS_1
Kata Arul sangat senang mengagumi hasil karyanya di keningku..Tapi bukannya trima kasih, aku langsung bangun dan berjalan mencari sesuatu.
Akupun berteriak kegirangan dan membawa barang yang aku temui, memperlihatkan nya kepada Arul yang saat ini menatapku dengan tatapan melongo dan bingung.
"Aaaaaaahhhhh.....senangnya, akhirnya aku dapat juga, yang aku cari."
"Untuk apa Kedua helm orang tuaku..?"
Kata Arul mulai kesal.
Akupun tertawa.
"Hahahaha...haha...Kamu memang lambat loading Arul, Ayuk kita kesana lagi, dengan memakai helm ini, agar kepala kita aman, dan kita pungut batu kecil kita lempari kaki anak itu. kita cari batu yang sangat kecil tapi banyak.!!"
Arul menganga dan melongo dan menepis tanganku.
"Apa kamu tidak kapok..hahh..?"
"Tidak..!!! malah aku tambah semangat mengalahkan anak bandel itu.."
"Tidaaaaaakkk...!! aku tidak mau....!?"
Akupun memakai helm, dan memakaikan di kepala Arul. Dan menariknya. Seperti biasanya aku menariknya seperti kerbau. Arul kerbau dan akulah gembalanya. dan Seperti biasanya Arul walau mengomel tetap setia menemaniku.
Helm terasa longgar di kepala kami, karna memang helm orang dewasa.
Kamipun mulai menyeberang dan memungut batu kecil.
Arul mengikuti ku, memungut batu kecil.
Bersambung
.
__ADS_1