Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 74. Pembelajaran Hidup Bagiku.


__ADS_3

Bahkan walau aku sudah SMA, aku masih suka bermain Ayunan dengannya, duduk di pangkuannya. Tapi tak ada yang mendorong.


Arul melangkah mundur ke belakang, setelah itu aku pun naik di pangkuannya, dan diapun melepaskan pijakan kakinya, dan kami pun terayun bersama.


Aku heran tali itu begitu kuat, dan tak pernah putus.


Bahkan aku suka naik di atas pohon, bawa garam dan kecap serta rica kecil, sudah saya ulet satu kali, dan menyimpannya di piring kecil. Pisau aku simpan di kantong belakang. Akupun mulai manjat, dan diatas ada dahan ranting yang lebar untuk tempat duduk. Akupun ambil mangganya yang mengkal sudah mau masak, dan mulai mengupasnya dan langsung menyantapnya.


Walau ada ular daun, kami sudah saling menghormati, dia tak berani lagi mematuk aku, hanya melihatku menikmati makanan yang begitu nikmat aku makan. Kadang juga Arul naik membantuku makan, tapi karna sempit, Arul malas ikut naik lagi.


Rumah kami sangat Asri, banyak pohon mangga dan jambu, bahkan ada juga Empang ikan, biar di rumah Arul. Sawah di belakang pun, membentang luas, sungguh pemandangan yang sangat indah. Waduk besar di depan rumah, yang sungainya begitu besar.


Aku tak pernah mandi lagi di sana, mungkin sudah dewasa jadi aku malu. Teman - taman kecil ku pun semakin beranjak dewasa, yang perempuan sudah mulai malu kucing dengan Arul yang semakin tampan dan begitu pun sebaliknya denganku, pria yang biasa aku ajak duel, mulai risih dan malu juga denganku.


Kami pribadi yang kalem, pendiam dan sangat mahal, jika di pandangan orang lain. yang membuat lawan jenis kami sangat malu mendekati kami.


Tapi jika Aku dan Arul, kami tak pernah berubah sama sekali. Amira yang rese, jahil, mesum, suka menindas, sombong dan narsis adalah ciri khas ku, yang susah aku lepaskan jika bersamanya.

__ADS_1


Begitupun Arul. Pria menyebalkan, suka menghina, mencaci maki diriku, dan selalu merendahkan aku serendah mungkin, tapi aku terus berusaha terbang setinggi mungkin, walau berapa kali Arul berhasil selalu, menghempaskan aku kembali ke tanah.


Flashback Amira.


Amira kembali bersedih mengingat anak baik nya, Imram yang sudah semakin menjauhinya, mungkin dipikiran anak baik ku itu.


Aku sungguh tak punya rasa malu, andai dia tahu jika aku adalah sosok yang sangat mahal, hanya karna aku sudah anggap Imram sahabat terbaikku, walau terasa lucu, bagi orang yang melihat kami. Karna selisih umur kami yang begitu jauh, tapi dia bisa menembus hatiku, dan berhasil menumbuhkan rasa sayangku, seperti aku menyayangi sahabat ku, yakni Arul.


Andai Imram tahu, sifat yang mahal, manja, bawelnya, rasa tulusnya dan pedulinya begitu mirip Arul sahabatku. Dan akupun begitu percaya dan terbuka padanya.


Yang Maha Kuasa membawa Imram ke dalam hidupku hanyalah sebagai pembelajaran hidup bagiku, tentang kesalahan masa lalu, tapi rasa sayang sahabat untuknya, terlanjur tumbuh dan menyiksaku.


Sungguh membuatku sangat sedih dan terluka. Dan menjadikan aku seperti wanita yang sangat jahat, dan tega dan buta hati, karna membalas kebaikan Imram dengan penghianatan privasi, dan prinsip hidupnya yang sebenarnya hanya canda ku dengan orang tuanya, yang sama sekali orang tuanya jauh lebih tahu sifat anaknya, dan kami tertawa bahagia bersama.karna canda ini hanya dianggap adalah keunikan anak mereka.


Tapi karna sifatku yang selalu mencoba menjelaskan, akhirnya makin menjadi salah faham yang besar, dan semakin besar dan masalah yang semakin rumit, bertambah rumit.


Akupun menyalahkan diriku,

__ADS_1


Mengapa tak bisa mengikhlaskan anak baik aku itu, ?.


Dan jangan menganggu nya lagi.


Semoga waktu bisa membuatku bisa mengikhlaskan semua kenangan Ayah, Arul dan Imram, serta percaya jika orang sebaik mereka, memang tak pantas aku miliki, dan berharap aku bisa menjalani hidupku jauh lebih baik, melepaskan kenangan mereka yang hanya selalu membuat air mata ini keluar karna rasa bersalah.


Saat ini aku seharusnya fokus dengan tujuan hidupku, untuk membuat keluarga ku bahagia, dan orang di sekitarku bahagia, dan semoga aku bisa mewujudkan cita - cita ku menjadi orang kaya raya yang dermawan. Dan bisa menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Kabulkan Lah Ya Allah..Amin 🤲🤲.


Saat ini aku tak perlu bahagia.


Mungkin Amira hanya ditakdirkan untuk hidup di dunia ini, hanya untuk membawa kebahagiaan di hati orang lain di sekitarnya, juga keluarga tercinta nya. Sifat nya yang terlalu penyayang dan setia hanya membuat orang lain takut padanya.


Semoga waktu bisa menyembuhkan luka ini, dan Amira selalu mampu mengobati lukanya sendiri. Karna Amira wanita kuat, sabar dan tabah dan selalu berpikir positif.


Dan percaya jika suatu hari nanti diapun akan bahagia. Dan semua akan baik - baik saja, dan semua kesalah fahaman. dari orang yang di sayangnya, suatu hari nanti akan berganti dengan kepercayaan, kalau Amira pantas mereka sayangi. dan mereka pun percaya kalau Amira sama sekali tak memiliki niat buruk sedikitpun.


Semoga Allah Meridhoi, dan mengabulkan cita - citanya. Amin Yaa Rabbal Alamin. 🤲🤲."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2