
Ayah masih ragu dengan penjelasan teman karibnya itu.
Sorenya Ayah kembali mendekati putrinya yang sangat manis itu.
"Nak...Ayah sungguh mau bantu kamu nak, walau utangmu sepuluh juta, Ayah akan bantu bayar nak, yang penting jangan ulangi lagi yah nak..!!"
Amira cukup tersentuh dengan perhatian Ayahnya, padahal di jaman itu, uang sepuluh juta sangat lah banyak, gaji PNS saja, waktu itu hanya 1.200.000. per bulan.
Uang jajan aku saja sampai 20 RB tiap pagi ke sekolah, belum pulang, sepuluh ribu lagi jadi tiga puluh ribu, sungguh uang yang banyak. Orang tuaku sangat royal pada anak - anaknya.
Adikku saja Nia, selalu hobby membuat resep makanan sendiri, menonton dan mencatat nya di televisi, walau hanya dia sendiri yang mencicipinya. Jika masalah makan, Ana yang harus selalu banyak bagiannya.
Bahkan kata cerita Mama, sewaktu kami masih bayi. gaji PNS Ayah dan Ibu. hanya 700 RB per bulan jadi 1.400.000. Per bulan. Semua habis belikan Susu kaleng bermerk untuk kami, yang paling mahal di jaman kami, sampai gaji kedua orang tuaku habis hanya beli susu. Karna kami bertiga, Aku, Nia Dan Ana hanya jarak satu tahun dan dua tahun, sedangkan aku sudah berusia lima tahun katanya masih kuat minum susu.
Untunglah ada hasil sawah, dan kebun untuk makan sehari - hari.
Bahkan kata Mamaku aku sudah berusia lima tahun masih di ayung juga. jadi kadang Ayah harus memakai kakinya mengayung aku, Karna tangan kanan dan kirinya dia pakai mengayung Nia dan Ana, Ayah sangat penyayang.
Di suku Bugis, anak sudah terbiasa tidur dalam Ayunan.
Kata keluarga Ayah, akulah yang paling bandel. Kalau malam suka nangis. Jadi Ayah pura - pura. menjadi dua orang.
Ayah lari keluar dan memukul pintu, kemudian masuk lagi, dan seolah ada orang jahat di luar yang marah kalau kami ribut.
Ayah dan Mama ku, selalu bisa menjadi pasangan drama yang hebat.
Ibu mengayung tampa aku lihat, Karna Mama menutup kain sarung yang ada aku di dalam Ayunan, agar tak melihat Ayah berlari keluar mengetuk pintu dengan sangat keras.
"TOOOOKK...TOOOOOKK.....TOOOOKKK"
Kemudian Ayah berlari masuk lagi dengan pelan, dan berkata.
"IYAAA...IIYAAA...Amira ku, tak nangis lagi kok, Amira ku khan, anak pintar, jangan di bawa yah, Apalagi di simpan di atas pohon, nanti Amira Jatuh lho."
__ADS_1
Kata Ayah menakuti ku, yang suka menangis ini, yang merupakan ritual wajibku sebelum tidur.
"Wkwkwkwkwk"
Jika aku masih menangis Ayah sampai berlari lagi keluar mengulang akting nya kembali.
Bahkan Ayah kadang bersuara bunyi Tokek yang keras, atau anjing yang melolong. Agar aku takut, dan berhenti menangis.
"Wkwkwkwkwkwk"
Dari kecil Ayah sangat bekerja keras, merawat ku, dan sangat sayang denganku, mengingat Ayah aku kembali menangis pilu.
"Hik...hik..hik..hik...hik..."
Baiklah My Readers lanjut lagi yah, ceritanya.
Dari balita kata Mama ku, aku sangatlah bandel.
Bahkan jika habis Air susu Formula yang di buat Ayah, yang sudah di isi di botol dot masing - masing. Aku selalu merangkak tengah malam mengambil lagi air Susu Dot Nia, atau Ana, karna milikku habis, membuat adikku menangis, dan membangunkan Ayah membuat susu lagi.
Kata Mama dan keluarga Ayah yang menjadi tetangga waktu itu. kami belum pindah rumah
di sebelah rumah Arul sahabat sejati ku.
Setelah umur enam tahun kami pindah di samping rumah Arul. Rumah pembagian dari pemerintah untuk PNS pada waktu itu, yakni dua perumahan yang ada di tengah antara sungai yang cukup besar dan yang banyak kincir air irigasinya, dan di belakang nya sawah yang mungkin ratusan hektar saking luasnya seolah tak berujung.
Kata Mama waktu itu saya masih berusia sekitar empat tahun , Ana masih dalam kandungan Mama ku, dan Nia berusia dua tahun lebih.
Jika aku menangis walau di rumah yang jauh dari rumah, Karna aku adalah balita yang sangat imut dan manis mirip boneka, berkulit putih bersih, banyak yang suka mengambilku untuk mereka jaga, dari keluarga Ayah.
Mereka bilang kalau aku lagi bad mood, dan menangis, aku tak mau jika bukan mama ku yang datang ambil, aku akan berlari lagi ketempat ku semula dan kembali berguling guling menangis. Jika seseorang memaksa menggendongku untuk di bawa pulang.
Mama yang sudah tak bisa jalan, karna perut nya sudah menghitung hari melahirkan sangat kesal padaku. bahkan menyuruh Ayahku mengirim aku ke Nenek dari Ayah, di luar propensi. Karna sangat ampun dengan sikapku yang sangat bandel, sudah suka nangis, dan sangat bandel, jika ada keinginanku harus di laksanakan.
__ADS_1
Dari balita Mama dan Aku tak pernah akur, bahkan sampai aku sudah menjadi gadis yang sudah kelas tiga SMA.
Ayah sangat sedih harus mengantar aku kerumah nenek, yang harus naik kapal laut satu malam baru sampai di sana.
Karna Nenek dan Saudara Ayah merantau ke luar propensi, yang perlahan dan pasti menjadi orang sukses di sana.
Nenek sangat bahagia, dengan kehadiranku, kata Nenek dari Ayah, aku sangat suka jajan, sudah jam enam pagi, sudah ada di kios belanja cemilan.
Nenek sangat senang karna aku tak rewel yang penting tak terlambat susu nya, dan rajin di bawa ke kios, dan tidur tetap di atas ayunan.
Nenek tinggal di adik bungsu Ayah. Suaminya beli hasil bumi, dan Tante ku memiliki toko alat bangunan yang paling besar di daerah itu. Bahkan tanah ratusan hektar. Tante ku sangat sukses di sana. Semua orang menyayangiku.
Tapi sayang Ayah selalu murung, dan sedih dan hanya dua bulan, Ayah berbohong pada Mama ku, kalau ada tugas penting di luar kota, padahal kabur untuk datang ke kota Nenekku, untuk mengambilku kembali.
Nenek sangat kesal dan nangis - nangis, tak mau memberikan aku, yang sudah sangat Nenek sayangi.
Sayang nya Ayah juga sudah nangis - nangis tak bisa hidup, tampa melihatku di sampingnya.
Tangisan lebay pun berakhir, dan Ayahku keluar sebagai pemenang.
Nenek sangat kesal pada Ayah, tapi Ayah sangat kekeh mau membawaku pulang.
Aku yang masih kecil tak tahu apa - apa kalau aku lagi diperebutkan Ayah dan Mamanya.
Ayah sangat senang membawaku pulang, meskipun harus melihat wajah Mama ku yang cemberut, melihat anak bandel nya datang kembali.
Aku selalu berhasil membuat Mama ku, selalu kesal padaku. Wajah ku yang imut dan sangat manis ini, tak membuat Mama ku berubah pikiran. Bahkan sampai aku sudah memiliki anak yang sudah kuliah, Aku dan Mamaku masih sering bertengkar, karna kami berdua memiliki dua watak yang berbeda.
Tapi aku sungguh menyayangi Mama, yang memiliki rasa peduli yang sangat tinggi pada anaknya, hanya terlalu membela adik - adikku yang sering aku tindas menurut versi Mama ku.
Tapi menurut versi ku, aku tak menindas aku hanya sedikit keras pada adik, karna memang salah, dan harus di beri ketegasan.
Dan Mama selalu bisa jadi bidadari Syurga untuk adik - adikku, selalu sabar menghadapi Adik - adikku.
__ADS_1
Bersambung.