
Anak sulung ku pribadi pendiam dan rumahan, mirip sahabat muda ku imram. Mereka banyak memiliki kesamaan pribadi.
hanya imram lebih ceria, berwawasan luas dan smart dan romantis. Sungguh beruntung wanita yang nanti nya memiliki mereka berdua.
Karna kedua anakku ini, Aryan dan Imram memiliki pikiran positif dan akhlak yang terpuji, dan berpikiran maju.dan baik hatinya. serta susah jatuh cinta dan tentunya pasti akan sangat setia pada pasangannya nantinya.
Aku selalu bersedih jika mengingat Imram, anak itu sangat baik, rasanya aku sangat merasa bersalah menyakiti hatinya walau hanya salah faham.
Rasanya aku merasa berdosa sekali membuat anak yang sangat baik itu membenciku, walau sangat membuatku sedih karna terlanjur menyayanginya seperti sahabatku Arul, tapi ibarat nasi sudah jadi bubur aku hanya bisa selalu bersedih jika mengenang semua hal baik yang di lakukan untuk ku.
Aryan dari kecil mau jadi seorang Dokter bahkan ingin jadi seorang Dokter di luar negeri. Tapi impian terkadang tidak sesuai kenyataan.
Setamat SMA aku minta dia menganggur, dan mencoba bekerja di perusahaan pamannya, adik kandungku. Kebetulan dia adalah direktur di perusahaan Mitra Paman ku. Aku harus menghilangkan dulu sifat intervort nya yang selalu mengandalkan dirinya. Jika di tempat adikku dia akan melihat orang banyak dengan banyak karakteristik sifat dan jiwa yang berbeda, agar anakku yang biasanya hanya dalam ruangan mengurung diri bisa hidup bersosialisasi,
Tapi aku sarankan dulu pulang di selatan di kampung orang tuaku untuk mengambil kursus komputer, supaya dapat piagam nya.
Sebenarnya bukan itu intinya, aku cuma ingin dia bisa kesana dan belajar silahturahmi dengan keluarga orang tuaku, dan keluarga Suamiku. Karna Aryan tampa kursus komputer dia jenius komputer Karna masih kelas satu sekolah dasar (SD) Aku sudah belikan Laptop.
Tapi aku tak pernah terus terang pada Aryan tujuanku, Karna aku selalu mendidik anakku menjadi dirinya dan menghargai keputusannya, walau kadang aku memakai cara lain, yang masuk di akalnya dan tak merasa aku perintah.
Aku tak mau anakku tak mengenal dunia luar, dia sudah lama terkurung di dunianya yang intervort dan anakku Aryan pribadi cerdas dan mengangungkan privasi, jadi aku hanya bisa mengarahkan dia dengan taktik cantik dan halus demi kebaikan dan masa depannya, yang tidak hanya terkurung di dalam ruangan tapi dia akan terjun juga nantinya di dalam masyarakat yang banyak.
Tiga bulan berlalu dengan baik, di kampung orang tuaku yang juga tanah kelahiranku. bahkan si jenius Aryan, yang ahli komputer hanya satu bulan menyelesaikan semua tugas nya, tapi peraturan tempat kursus harus tiga bulan baru keluar ijazah, jadi dia luangkan waktu mengajar di tempat kursusnya, sambil saya kasih tahu sepupuku dan iparku agar mengajak dia silahturahmi di semua keluargaku.
Selesai kursusnya, Aryan yang sudah mulai sedikit tahu dunia luar, kembali ke Propensi lain, tempat adikku dan mulai bekerja disana.
__ADS_1
Anakku sangat jenius komputer, pekerjaan yang di kerjakan 4 admint bisa dia kerjakan. Dia sangat jenius membuat program nya sendiri, dengan rumus yang bisa menyelesaikan pekerjaan admint yang seharusnya 12 jam menjadi 2 jam. Dan semua kagum akan bakatnya yang jenius.
Dia mencoba semua pekerjaan di sana, bahkan membantu admint laboratorium. Aryan bahkan di bebaskan. menjadi apa saja oleh pamannya yakni adikku. Bahkan mencoba menjadi manajer pun di cobanya.
Akupun memberi saran untuk kuliah di pertambangan di kota yang aku tempati, awalnya dia tak mau, Karna ada salah satu mata pelajaran yang dia tak sukai, dan termasuk mata kuliah terbanyak di sana, tapi aku membujuknya walau dia sedikit kecewa denganku.
Aku tahu, Aryan mau jadi Dokter, tapi menjadi seorang Dokter anakku yang memiliki sifat intervort akan semakin parah, aku mau anakku hidup melihat dunia luar bukan dunia buku, ruangan dan meja operasi.
Aku ingin dia punya banyak waktu untuk menikmati hidupnya. bergaul dengan banyak orang. Semoga suatu hari nanti dia akan menyadari, bahwa ibunya ini bukan orang tua yang egois dan gila jabatan, aku hanya ingin anakku hidup tenang dan nyaman serta bahagia.
Untunglah anakku Imram yang lulusan sama dengan kuliah anakku, membantu Aryan dengan membagi ilmunya, dan mengajarkan Aryan yang tidak dia mengerti.
Membantuku mencari emoji penyemangat untuk Aryan jika sedang depresi, dan menyerah dengan pelajarannya.
Imram sangat berjasa bagi kami berdua, walau saat ini dia menjauhkan diri dariku. Tetapi aku selalu berdoa agar sahabat muda ku yang baik hati itu, suatu hari nanti mau memaafkan aku dan mau berteman baik lagi denganku, walau hati kecilku merasa ragu.
Flashback Arul.
"Arul...Ambil batu yang besar itu, jika kita mau lewat sana."
Aku pun mengingatkan Arul, dan mencari dua batu besar dan memberinya satu kepada Arul.
"Ini pegang satu, Ayuk kita lewat sana, cari Jambu."
"Untuk apa sih batu besar ini...?"
__ADS_1
Akupun membawa tangan Arul untuk memegang kepalaku, yang benjol yang tersembunyi di tengah rambutku.
"Pegang ini...benjol khan..!!"
Arul pun memegangnya dan mengangguk.
"Memangnya benjol karna apa sih, siapa yang berani melempar kamu sih."
Kata Arul penasaran.
"Jika dia bukan anak lima tahun, sudah saya hajar habis - habisan dia."
Kata ku sengit.
"Kamu tahu Iwan khan, yang rumahnya yang kita mau lewati di depannya itu. Dia itu punya adik sangat nakal suka pegang batu dan melempar, bukan aku saja korban anak bandel itu, hampir semua teman kita dia lempar batu."
"Jadi batu ini...!! Aku tak mau melempari anak orang, apalagi batu besar ini, bisa meninggal anak orang, Apa kamu bego..? Ataukah kamu sinting.?"
Kata Arul lebih sengit.
"Sudah... Aaahhhh...bawel kamu tuh...Siapa juga suruh kamu lempar dia, cuma pakai mengancam doang kok.."
Kataku juga lebih sengit.
"Ooohhh begitu yah...."
__ADS_1
Akupun langsung menarik tangan Arul, dan membawanya menyebrang jalan raya.
Bersambung.