Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 123. Kami Semua Mencintaimu Ayah.


__ADS_3

Aku putuskan tinggal dulu bersama Mama, Suami ku hanya tiga hari, dia pun pulang dengan mobil carteran kami, yang suaminya keluarga teman di kota tempat kami berjualan.


Dia pasti sangat heran melihat kondisi keluarganya yang ternyata cukup berada, sedangkan di kota nya aku dan suami hanya penjual rempah - rempah dengan modal di bawah lima juta, hidup di gubuk sempit.


Mama menyarankan aku berusaha di tanah kelahiran ku saja, tapi mengandalkan harta orang tua aku tak mau suami ku merasa tertekan.


Mama sedikit kesal dengan keputusan ku, tapi aku ingin mandiri walau hidup ala.kadarmya.


Mama hanya bisa berkata tak akan membantuku modal jika tak pulang. Aku hanya diam saja.


Aku dan Mama tak pernah akur, prinsip kami selalu bertolak belakang. Mama sosok yang selalu cari kesalahan, jadi biar seratus kali pun benar, Mama hanya selalu cari kekurangan, Beliau selalu kesal padaku.


Aku juga sosok meledak jika selalu di tekan, Karna tak pernah di benarkan.


Mama selalu ingin aku merendah pada adik, selalu memanjakan adik sedangkan aku sosok tegas, jika adik salah yah aku marah.


Mama sangat sabar pada adik - adikku sebesar apapun kesalahannya, dan hobby selalu menyalahkan aku.


Ayah selalu datang membela ku, bagi Ayah seorang Kakak itu harus di hargai dan di hormati.


Aku selalu berusaha yang terbaik, tapi Mama selalu kesal, aku tahu Mama sangat kecewa dengan pilihan ku memilih Suami. Bagi Mama dunia ini butuh di hargai, jika kita berada di kalangan bawah harus sadar diri dan menunduk.


Aku sangat hargai orang, tapi jika aku di bentak aku sungguh tak bisa diam menjadi orang yang munafik, dan bermuka dua.


Jika aku bertengkar dengan Mama, Ayah selalu mencoba menengahi dengan menasehati kami berdua.


Ayah selalu berkata.


"Ma... ini anakmu, seharusnya berilah contoh yang baik, dan kamu nak, ini ibumu jangan jadi anak durhaka, jika ada tak sesuai hatimu diam adalah yang terbaik."


Terus Ayah mengendong Mama masuk ke dalam. Agar kami tak berdebat lagi.


Saat ini Mama sudah berubah, dia sudah lembut padaku.


Mama.memutuskqn.tinggal.dulu beberapa bulan di rumah peninggalan Ayah, baru ke kota adikku, setidaknya adikku lumayan mapan, dan ada pembantu yang bisa mengurus Mama.


Jika aku untuk makan saja pas - Pasan, Setidaknya adikku adalah sosok yang sayang Mama.


Satu bulan aku tinggal di sana, Anakku Aryan yang selama ini tinggal dengan neneknya pun, aku bawa.


Aryan masih sekolah di kelas 4 SD. Aryan sosok yang selalu di raja kan Ayah, Aryan kesayangan Ayah. Ayahku sosok Ibu juga bagi Aryan, Rajin masak dan membawa Aryan jalan - jalan, dan hobby kuliner dan membeli makanan jadi.


Mama jika sudah lelah sepulang sekolah, hanya langsung tidur, Ayahlah yang belanja makanan serba jadi, bahkan sesekali bantu Mama mencuci juga, Ayah sosok Suami idaman.

__ADS_1


Ayah sangat memanjakan Mama, suka memijitnya bahkan menyuapi Mama makan.


Kehilangan Ayah pasti pukulan berat sekali bagi Mama.


Untuk memilih baju saja, Ayah yang pilihkan.


Aryan masih butuh di urus, dan di jaga pola makannya yang selama ini Ayah lah yang mengurus Mama, Aryan Dan adik Bungsuku.


Mama butuh ketenangan jiwa.


Niat ku membawa Aryan di setujui Mama ku, Setelah Mama sudah agak move on, akupun pulang ke kota tempat Suami ku mencari rejeki halal.


Aku membawa Aryan, dia pasti kaget dengan kehidupan ku, yang seratus kali lipat berbeda dengan kehidupannya dari bayi di rawat Ayah dan Mama yang serba ada.


Satu bulan dengan Mama akupun minta pamit, Dengan pelukan hangat dari Mama untuk aku dan Aryan melepaskan kami berdua.


Adik - adikku pun kembali ke kotanya juga, tempat mencari nafkah halal nya. Mereka hanya satu Minggu dengan Mama, Karna mereka punya usaha yang butuh keberadaan mereka, sedangkan aku hanya memiliki usaha kecil untuk menutupi rasa lapar saja.


Sejak Bangkrut di usaha Toko.bangunan yang hanya bermodal kan kepercayaan Suku Cina saja.


Aku dan Suami merantau merintis dari nol, itupun dengan modal kepercayaan pedagang di pasar.


Menjadi penjual rempah - rempah dan sayur hanya modal kecil saja di bawah lima juta, cukuplah untuk makan sehari - hari.


Kami berdua pun meninggalkan kota kelahiranku, dengan lambaian tangan Mama.


Mama pasti sedih melepaskan Aryan, tapi Mama dalam keadaan mental yang rapuh kehilangan Ayah, Mama hanya bisa ikhlaskan Aryan aku bawa.


Di tempat baru Aryan pasti sangat kaget dengan keadaanku.


Mobil pun terus melaju meninggalkan kota kelahiran ku.


Selama satu hari satu malam, kami menempuh perjalanan.


Dua kali pindah mobil.


Keesokan siangnya sampai juga kami berdua di kontrakan kami.


Tatapan Mata anakku sedikit linglung melihat rumah pondok kecil kami, berbentuk pondok Ronda.


Rumah Mama ku, sebuah Rumah Ruko dua lantai.


Aryan ada kamar sendiri, Ada TV khusus untuk dia, Laptop dan fasilitas mewah lainnya.

__ADS_1


Saat ini dia ada di depan rumah dengan kata lain gubuk, berukuran lebar Lima meter, dan panjang lima meter juga.


Berdinding kalsibor, dan Kamar mandi di luar rumah yang berdinding terpal saja.


Sedangkan pintunya terpal juga, hanya bisa di ikat dari dalam.


Rumah kami di samping jembatan, Tanah kami sewa, hanya Suami ku jadi tukangnya, bahkan atapnya pun bukan lah atap seng, hanyalah Atap Rumbia, dari daun Sagu.


Lengkap sudahlah kesederhanaan rumah gubuk kami.


Suamiku menyambut kami, dan langsung memeluk anaknya yang masih terbengong melihat rumah kami.


Aku takut membahasnya, biarlah Aryan yang mencari kedamaian hatinya sendiri secara perlahan, sampai bisa menerima keadaan ekonomi kami.


Satu Minggu Aryan tinggal sudah mulai beradaptasi.


Aku sedikit tegas padanya, Karna bersikap lembut dan manjakan dia, akan membuat anakku semakin lemah.


Aku mulai daftar sekolah, untunglah sangat dekat dari rumah kami tak cukup lima puluh meter.


Di belakang rumah adalah laut lepas, sangat banyak anak - anak bermain.


Aryan yang biasanya terkurung dalam Ruko Mama ku, yang keluar pun hanya pergi kursus dan membeli mainan atau makanan dengan Ayah. Menjadi anak yang bebas bermain di lautan lepas yang air lautnya jauh dari rumah, jadi depan laut adalah lapangan luas untuk anak - anak bermain.


Aku pun mengajarkan Aryan mencuci piring, dan pakaiannya sendiri juga menyapu.


Aku didik anakku di siplin, jika sudah jam tiga sore anakku sudah aku bolehkan main sepuasnya.


Bermain di sekitar laut, bahkan mandi air laut, membuat kulit Aryan hitam pekat, tapi setidaknya anakku sudah sedikit menerima perubahan ekonomi orang tuanya.


Mama juga masih sering menelpon Aku, mengingatkan kalau Aryan masih minum Susu, suka kue, Roti tawar, buah semangka.


Aku hanya iyakan padahal kami sudah sangat elit makan tempe dan telur. Sesekali beli ikan, tapi Aryan tidak begitu suka Ikan.


Ayahku biasanya belikan cumi, udang, bakso , ayam kentucky dan sosis serta nugget crispy. Pangsit, bakso. Ayah sangat royal dari dulu kalau soal makan, kami anak - anaknya selalu di beri makanan enak. Ayah juga sangat royal kasih uang jajan, jika Mama kasih, Ayah juga suka kasih uang jajan tapi menyembunyikan nya ke Mama. Ayah sangat takut kami kekurangan uang, dan makanan, itulah Ayahku.


Kehilangan mu Ayah, adalah kesedihan yang sangat besar bagi Mama, bagi anak - anakmu bahkan cucumu Ayah, aku yakin Insya Allah Ayah masuk Syurga Allah, Amin 🤲 🤲


Karna Ayahku orang baik untuk keluarga, maupun orang lain, juga Ayah sangat rajin shalat lima waktu, dan shalat tahajjud.


Insya Allah Ayah ku saat ini, sudah mendapatkan tempat terbaik di Sisi Yang Maha Kuasa. Amin YRA 🤲🤲


Kami semua mencintai mu Ayah, dan sangat menyayangimu Ayah. 😭😭😭😭😭

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2