Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 41. Ayo Kita Pergi Ambil Jagung Pamanku


__ADS_3

Jasmin tetangga yang rumahnya berada di seberang jalan raya, jika melewati bendungan waduk besar depan rumahku, dan kita menyeberang jalan poros dan di pinggir jalan rumahnya. Dia memiliki rumah yang sangat besar, Ayahnya adalah Tukang memperbaiki Gigi yang terkenal di kotaku.


Mau cabut gigi, tambal gigi bahkan buat ganti gigi, dengan gigi buatan ayahnya. Pokoknya yang berhubungan dengan gigi, ayahnya adalah tukangnya.


Dia datang dengan kedua adikku dan beberapa temannya yang juga dia bawa, mereka adalah tetangganya yang ada di dekat rumahnya, adalah teman teman bermain kami juga.


Mereka pun masuk menyerbu aku dan arul lagi duduk melongo melihat mereka datang.


Di pikiranku dan Arul, dia jarang datang bermain ke rumah kami, entah apa maksudnya datang. kami jadi kebingungan.


Jasmine duduk di sofa, dan mulai bercerita.


"Ayo kita pergi ambil jagung pamanku, ada di belakang rumahmu di tengah sawah di antara padi padi itu."


Kami hanya menatapnya tapi tak begitu percaya. Dia selalu mengajarkan kami yang berbahaya.


Contohnya kami di suruh bawa kantong plastik, terus ke belakang sawah. Terus di suruh ambil buah padi yang dipinggir, dan masukkan ke kantong plastik, dan dua orang melihat keadaan sekitar, dan aku dan kedua adikku dan Arul di suruh ambil padinya. masukkan di kantong Itu, Dan kami tahu itu adalah pencurian namanya, tapi kami tetap bego melakukannya. Kami yakin Jasmine memiliki ilmu pelet pemikat sukma. Jadi kami kenapa sangat penurut padanya.


Karna kami tak tahu pemilik sawahnya, sembarang saja kami pilih, dan mulai menarik buah padinya, dan memasukkan nya di dalam kantongan, dengan dada berdebar seperti mercon, tapi kami tetap melakukannya, walau tahu itu salah.


Baru kami satukan di karung kecil tapi terlebih dahulu membersihkannya dan menjual di penadah yang ada juga di dekat rumah kami.


Tapi setelah itu aku mendengar ada beberapa

__ADS_1


pemilik sawah bergosip, kalau akan mencari


pencuri gabah mereka yakin ini ulah anak - anak bandel, dan akan menghukum mereka.


Mendengarnya kamipun ketakutan, dan tak mau mengulanginya lagi. Padahal uang jajan kami juga berlebihan, Karna orang tua kami tidak pelit masalah uang, bahkan makanan apa saja kami mau makan.


Sekarang Jasmine datang membawa kabar lagi, tapi entahlah sepertinya dia punya ilmu penarik jiwa, setiap dia berkata kami selalu percaya padanya.


Seperti saat ini, berjejer lah kami seperti kereta api, berbaris rapi belakang rumah, melewati pematang sawah yang cukup luas untuk motor lewat.


Kami terus berjalan berjejer ke belakang semakin jauh ke tengah sawah, yang seolah tak berujung.


Jasmine pun membawa kami masuk lorong sebelah kanan jalan, masuk kedalam kebun jagung. Jasmine sudah mengambil beberapa


buah jagung, dan ujung jagung dia mulai mengeluarkan rambut jagung, seolah jagung itu boneka yang memiliki rambut yang panjang.


Jasmine mulai memperagakan kedua jagung itu, seperti sebuah boneka barbie yang lagi bercakap cakap.


Kami pun otomatis tertarik lah, dan berebutan mengambil jagung juga. Bahkan aku ambil 5 buah jagung. Begitu pula yang lain, kedua tangan kami yang kecil pun penuh buah jagung.


Kamipun naik kerumah ronda itu, dan mulai


bermain dan berbicara seperti orang tidak waras, akhirnya terkumpullah banyak orang tak waras di atas rumah ronda. Percakapan dengan diri sendiri.

__ADS_1


Cukup lama kami bermain, tapi hari semakin sore, kamipun berjejer kembali untuk berbaris pulang dengan rapi, dan mulai ramai berbicara seperti orang tak waras lagi.


Ada sebuah teriakan keras membuyarkan hayalan tingkat tinggi kami.


"Wooooiiiii....tuungguuu....Awas...kalian..!!!!"


Seorang pria dengan kayu kecilnya seperti bambu kecil, dia berteriak sambil mengayunkan kayu kecilnya.


Kami pun serempak berbalik ke belakang, tapi tak ada orang lain selain kami.


Keringat mulai bercucuran, dada sudah meletup seperti mercon petasan, muka kami seperti tak memiliki darah lagi, sedangkan darah kami pun seakan ketakutan dan berlari dan bersembunyi di dalam kepala kami.


Badan pun mulai bergetar, pengaruh darah kami telah duluan kabur menyelamatkan dirinya. Tinggallah kami seperti mayat tapi masih tetap hidup, walau masih ada nafas, itupun sudah tersengal - sengal mulai ketakutan.


Jasmine dan temannya sudah melarikan diri terlebih dahulu, dan kami masih bego saling menatap, karna kaki kami terasa ada rante yang membelitnya, Sedangkan bapak itu sudah semakin dekat pada kami yang sudah sangat ketakutan.


Kami pun dengan kekuatan penuh berlari secepat mungkin, dan mengutuk Jasmine habis - habisan telah menjebak dan menipu kami berulang kali. Dan mengutuk diri sendiri yang sangat bego dan tolol selalu di kibulin,


Padahal kami sudah sangat tenang dan bahagia didalam istana kami, tapi penyihir bernama Jasmine itu, telah memelet kami dengan ajian pemikat sukmanya, akhirnya kami ada di posisi saat ini antara mati dan hidup, antara dunia dan akhirat dan entah antara apa lagi, yang jelasnya kami hanya berpikir lari secepat nya menyelamatkan diri, dari amukan bapak yang ternyata kami curi jagungnya.


Sabetan kayu kecilnya, seperti sabetan cambuk sembara di drama kolosal Mak lampir. Yang sudah mengenai kami yang sedang berlari kencang. Tapi sungguh kayu panjangnya itu berapa kali mengenai kaki kami, seperti sebuah cambuk yang begitu sangat panjang.


Rasa takut melebihi rasa sakit yang kamu terima dari amukan cambuk sembara.

__ADS_1


Adikku yang pawang ular sempat di tangkapnya, dan dia dipukuli bokongnya. Dia menangis bersimbah air mata, ,tapi tak ada rasa kasian sedikitpun melihatnya, walaupun adikku menangis darah sekalipun, pasti kami tak juga kasian melihatnya, karna kami hanya berpikir terus berlari menyelamatkan diri, dari amukan cambuk sembara yang di perankan petani jagung itu


Bersambung.


__ADS_2