
Waktu terus bergulir, Aku sudah kelas empat SD, Adikku Nia kelas Tiga SD dan Ana kelas Dua SD.
Kami memiliki kolam ikan yang luas di samping rumah. Nia adikku sangat pandai menangkap ikan. Dia suka turun ke kolam, dan mencari lobang dan memasukkan kedua tangannya tampa sarung tangan.
Jadi jangan heran jika dia mendapatkan ular air, bukannya ikan di dalam lobang. Tapi dia sangat lihai menangkap kepalanya tampa digigit, dan dengan cepat membuangnya ke belakangnya, Apa dia tak takut ular itu mendatanginya ? dan menggigit bokongnya yang menunduk lagi, fokus lagi mencari ikan di lobang lainnya, tampa memperdulikan ular itu.
Tapi kayaknya ular sudah mengenal adikku dengan baik, mereka lebih memilih mengalah dan mencari tempat persembunyian yang lain.
Berbanding terbalik denganku, aku lebih suka memakai jala ikan, jika mencari ikan, dan tentunya banyak ular juga yang aku tangkap, dan bagian Nia lagi yang melepaskannya dari dalam jala dan tetap membuang ular itu ke dalam kolam, jadi bagaimana ular mau berkurang malah tambah banyak. Kayaknya Nia menganggap ular itu adalah ikan juga yang perlu dia lestarikan. Akupun hanya bisa menepuk jidat menganggap adikku bego, dan akupun bego tak menegurnya.
Arul dan adiknya hanya jadi penonton setia, mereka berdua takut hidup kotor, dan selalu bersih, perfect dan wangi.
Anak - anak depan rumah ku bersorak riang, otomatis kamipun kepo seperti biasanya, menghampiri mereka.
"Ayo...kalian bisa...!!"
Ayo...kalahkan dia bego..!!"
Ada lima anak cowok, sedang bersorak dan sibuk menusuk - nusuk kayu kecil di depannya.
Akupun si ratu kepo, dan para dayang - dayang aku yakni, Arul, Ani adiknya Arul juga kedua adikku Nia dan Ana. ikut kepo juga dong, kamipun meninggalkan aktivitas kami cari ikan dan membuang ular.
Kamipun duduk berjejer, dan kamipun bersamaan geleng kepala.
Bukannya adu ayam, eeh malah adu anak ular.
Mereka buat lobang memanjang, terus mengurung anak ular sawah, dan menusuk mereka berdua dan mengadunya. Jika ularnya lari ke atas mereka tarik lagi kedalam lobang buatan mereka.
"Kasian bayi ular, pasti mamanya cariin."
__ADS_1
Kata ku lebay, padahal akupun berminat melakukan hal yang sama.
Akupun menarik Arul, dan Anita dan bocah cowok seusia ku juga. Untuk ke belakang rumah ku yang sangat luas sawah membentang luas seolah tak berujung ratusan hektar, entah siapa saja pemiliknya. Akupun sibuk mencari lobang ular, kayaknya seru juga adu anak ular begitu.
Akupun tak lupa ambil kain baju yang di jemur ibuku, aku khan bukan Nia, yang suka tangkap ular dengan tangan kosong, aku lebih baik bengkak di tinju, daripada bengkak di gigit ular.
Kamipun bersama cari lobang di pematang sawah.
Aku pun menggulung kain baju melilit di jemariku, kemudian memasukkan tanganku di dalam lobang, tapi tak dapat juga, hanya dapat ularnya tapi anaknya tak ada. Hampir putus asa. akhirnya dapat juga dua ekor anak ular.
Akupun membawanya dan menantang anak ular bocah itu, yang bermain depan rumahku.
Tapi sayang belum kelar pertandingan di bubarkan Mama Arul, yang menyuruh kami kembalikan ularnya. Dan segera pulang mandi.
Aku dan kedua adikku pun pergi mandi, begitu juga Arul dan Ani.
Kami pun bertiga habis mandi berkumpul lagi dirumah Arul.
Arul sangat jinak jika kedua adikku memerintahnya, potong kuku lah, bahkan di suruh lihat kutu juga mau, kalau aku mencoba
memberikan kepalaku langsung di toyer olehnya. Akhirnya duel terjadi dan cara licik lagi aku pakai agar bisa menindasnya.
Tapi Arul sangat baik, dia selalu membantuku jika aku butuh bantuannya.
Kemanapun aku mengajaknya, dia adalah kerbaunya dan aku penggembalanya.
Aku ajak bocah pria duel saja, aku panggil Arul temani. Arahkan dia jika aku kalah bantu aku. Jadi jika aku berkelahi terus ada temannya mau bantu temannya, yang sudah aku kalahkan, Arul pun maju menolongku.
Jadi musuh pun tahu kalau ada Arul memang sebagai wasit, jika keadaan adil satu lawan satu, tapi jika curang Arul pun dengan berani terjun di medan pertempuran membelaku.
__ADS_1
Aku wanita, tapi sangat kebal pukulan. Mungkin karna terlalu banyak pria di sekitarku, dan bandelnya juga tak kalah denganku.
Bahkan aku mau jual jambu, dan ikan di pasar, Arul juga mau menemaniku.
Kami duduk jongkok di dekat penjual ikan, dan mulai memegang dagangan kami. Padahal kami kelebihan uang jajan juga dari orang tua.
Tapi sialnya baru pertama jualan, kami berdua malah terciduk Ayahku di pasar, kami lihat sepatunya kami pikir pembeli eeeh....ternyata orang yang sangat kami kenal yakni Ayahku tercinta. Habis deeh aku di ceramahi. Mengancam ku, kalau mengulanginya lagi, tak akan kasih lagi uang jajan, dan putuskan sekolah ku, dan menyuruhku jadi pedagang ikan saja dan jambu air di pasar, bahkan mau modali aku.
Ayahku sungguh memiliki ide cemerlang melumpuhkan minatku lagi menjual ikan dan jambu. Karna jika dia memukulku, dia sudah tahu jawabannya..Aku akan makin ambisi melakukannya.
Yang bisa di lakukan Ayahku jika memarahiku , menyuruhku dulu berwudhu agar katanya iblis kabur, menyuruhku shalat Sunnah dua rakaat baru mulai berceramah dengan sangat lembut dan bijak, walau tak membuat ceramahnya masuk di telingaku, malah membuatku mengantuk, membuat ibu ku kesal dan wajah expresi mual dan menatap jengah kami berdua yang sudah duduk bersila saling berhadapan.
Ayahku kadang ceramahi aku karna suka berkelahi, dan sadar status ku adalah wanita bukan pria.
Mandi di waduk bendungan besar, dengan air menggelembung besar, bahkan aku ikuti temanku naik di atas kincir waduk dan lompat salto ke air.
"Bukan aku yang salah Ayah, Rumah Ayah berhadapan dengan waduk air irigasi sawah Bagaimana aku tak jago renang dan salto. " Aku cuma mengomel dalam hati. Tapi tetap sabar mendengar Ayahku yang tersenyum manis berceramah, di pikirnya apa yang dia katakan aku cerna dengan sangat baik, padahal
"aku hanya menyayangimu Ayah."
Dan ibuku memilih masuk kamar, karna ibuku jika menghadapi ku sangat banyak senjata pamungkas. Panci, sendok, sandal sangat mudah melayang di bibirku dan mukaku dan andalan pamungkasnya adalah cabe kecil beberapa biji dia ulet di wajahku, dia pikir wajahku adalah cobeknya di dapur.
Walau Ayahku selalu menyuruhku kabur, jika Ibuku masuk ke dapur ambil senjata pamungkasnya.
Aku tak mau kabur, walau Ayahku menarik ku, aku sangat gengsi melakukannya.
Duduk santai menerima hantaman Ibuku, yang sudah melengkapi penderitaan ku dengan bonus omelannya yang sangat bising di telingaku.
Ayahku hanya bisa meringis seperti dia yang kesakitan, jika ibuku menghukum ku yang sangat bandel ini.
__ADS_1
Bersambung