Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 103. Benar Kata Sandi


__ADS_3

Dua hari berlalu, para pemuda - pemuda tampan itu pun, tetangga Andre. Berkumpul lagi di rumahnya.


Andre hanya tinggal dengan kakak perempuannya yang belum menikah, karna orang tua mereka tinggal di desa kelahiran mereka berkebun. Setelah Ayahnya pensiun


Di kantor negeri tempat Ayahnya Amira bekerja sebagai orang kedua yang memiliki jabatan tertinggi di kantor pemerintahan itu.


Lanjut ke percakapan mereka yah.


"Kemarin aku sudah berapa kali lalu lalang kayak setrikaan di depan rumah cewek cantik itu, tapi sayang wanita cantik itu tak keluar juga dari rumahnya, kalau dia keluar pasti langsung aku ajak kenalan."


Kata Irfan dengan pedenya.


"Pantas saja aku capek cariin kamu, ternyata kamu telah menikung kami."


Kata Leo kesal.


"Ada - ada saja kalian ini, percuma kalian berusaha pasti aku pemenangnya, kalian hanyalah buang waktu saja."


Kata Iwan dengan sombongnya.


Anton pun kesal.


"Jangan terlalu pede kamu kawan, tak semua wanita memilih wajah tapi hati."


Iwan pun ngakak.


"Hahahaha...haha...memangnya gadis cantik itu, gadis Kunti yang bisa lihat hati mu itu."


Sandi pun menengahi pertengkaran yang sepertinya tak memiliki ujung.


"Sudah .sudah...sudah...Apa kalian tidak tahu gosip baru ?"


Para pemuda itu pun serempak terdiam, dan fokus menatap Sandi.


"Gosip apa sih Sandi, ? Jangan buat kami penasaran."


Kata Irfan sangat penasaran, di sambut anggukan kepala pemuda lainnya.


Sandi pun berkata.


"Dua hari yang lalu aku dan Andre sudah jadian dengan Nia Dan Amira. Nia dengan aku dan Amira dengan Andre."


Anton pun berkata.


"Siapa itu Amira dan Nia."


Sandi pun berkata dengan nada bahagia


"Siapa lagi kalau bukan bidadari Syurga yang kalian perebutkan. itu."


Semua pun sangat shock dan bersamaan teriak.


"WHAAAT....!!!!"


Iwan sangat kesal.


"Kamu tak usah mengarang cerita Sandi..!!"

__ADS_1


Irfan berkata dengan kesalnya.


"Iya jangan bicara omong kosong kamu..!!"


Sandi pun berkata dengan cueknya.


"Terserah..kalau tak percaya, aku sih bodoh amat.."


Sandi pun berjalan ke arah pintu luar Andre dan pulang ke rumahnya.


Semua pandangan beralih lagi ke wajah Andre yang tampan.


Andre pun berkata.


"Benar kata Sandi..."


Langsung masuk kamarnya dan menguncinya.


Anton pun teriak depresi.


"Mengapa Ayahku tak menikah dengan ibu Andre, ? Agar aku ganteng...Ooohh...tidaaak."


Irfan pun berkata dengan tak kalah depresi nya..


Oooh...nasib...nasib....Mengapa kita harus bertetangga dengan Andre dan Sandi.?


Anton pun berkata.


"Kapan kita bisa juga memiliki pacar secantik itu, aku pastikan dia akan sangat aku manja kan, biar injak tanah tak akan aku biarkan, ku pastikan akan aku Gendong kemana - kemana saking sayang ku sama dia."


"Memangnya bakul jamu kamu mau Gendong kemana - kemana, Ayo bubar..bubar..lebih baik pulang dan tidur..."


Iwan pun bangun dari duduknya, dan mengucek rambutnya kasar, saking kesalnya di tikung oleh Andre."


Tak cukup dua sore, kabar Andre dan Sandi jadian dengan tetangga baru, sudah meledak seperti bom.


Para emak - emak bahkan anak gadisnya bahkan suaminya pada penasaran ingin melihat secantik apa tetangga baru mereka itu, yang bisa memikat Andre yang terkenal ketampanannya di kompleks mereka itu, bahkan sekitarnya.


Maka ramai lah jalan di depan rumah Amira., tempat lalu lalang para emak - emak, juga para gadis remaja ABG bahkan para bapak - bapak pun, biasanya jika naik motor langsung masuk lorong mereka, tapi mereka sengaja melewati depan rumah Amira juga ikut penasaran melihat ketiga gadis cantik tetangga baru mereka, sejak gosip itu merebak.


Akhirnya dengan kesabaran menjadi setrikaan yang lalu lalang bolak - balik itu, untuk menyelidiki selama beberapa hari mereka pun, akhirnya berhasil melihat wajah cantik ketiga bersaudara itu.


Sedangkan Amira pun yang tak tahu apa - apa hanya bisa melongo tak percaya, kalau tetangga anggap dirinya berpacaran dengan Andre.


Para gadis remaja putri yang menjadi anggota remaja mesjid pun, mengajak Amira bergabung dengan mereka, bahkan mereka percaya jika Andre dan Amira benar - benar pacaran.


Karna jika mereka bertanya pada Andre, dia pun tersenyum walau tak berkata iya itu bagi mereka sudah kode Iya.


Bertanya pada Amira, dia pun tersenyum juga jadi kuatlah bukti bagi mereka jika dua pasangan yang sangat serasi itu telah resmi berpacaran.


Sedangkan Sandi masih tanda tanya.


Amira sering di ajak ke mesjid shalat magrib, dan Isya oleh para remaja putri.


Karna mereka terlalu banyak, hanya beberapa saja yang mengajarkan beberapa anak mengaji di dalam mesjid.


Yang lain duduk di luar mesjid bercerita riang menunggu waktu shalat Isya.

__ADS_1


Pertama kali bertemu antara Amira dan Andre, cukup membuat mereka saling tersipu malu.


Lama kelamaan Amira dan Andre sudah mulai ada percakapan.


Tak ada yang tahu kalau mereka belum ada pembicaraan bahwa mereka pacaran.


Bahkan itu berjalan satu bulan, bahkan tiga bulan berlalu dengan cepatnya.


Andre sudah terbiasa selalu duduk di dekat Amira.


Amira dan Andre selalu dikelilingi teman - teman yang lain.


Bahkan ke belakang rumah pun, Amira sudah terbiasa duduk bersama, Andre di teras rumahnya. ada kursi di sana.


Ayahnya tak pernah lewat jalan itu, Ayah selalu lewat jalan poros depan rumah saja.


Tak jauh beda di sekitar mereka pun banyak emak - emak, dan para gadisnya berkumpul disana.


Pemuda yang awalnya bersaing untuk dapatkan Amira, kini sudah bisa move on, dan menerima kenyataan, bahwa Andre layak bersama Amira, karna jika mereka duduk berdua, mereka sungguh sangat serasi.


Sedangkan Sandi sampai saat ini belum bisa buktikan kalau dia berpacaran dengan Nia.


Nia bahkan Ana pun sudah mengetahuinya, tapi kelihatannya kedua adiknya itu tak rewel.


dan terlihat biasa saja.


Hubungan Amira dan Andre pun semakin dekat.


Amira sudah jarang ke rumah Arul.


Bahkan sore itu Arul dan Ani datang berkunjung ke rumah Amira.


Arul tampak kalem saja, duduk dengan tenang.


Amira Ingin sekali mengucek wajah tampan Asrul lagi, seperti cucian kotor,dan memeluk dan mengacak rambutnya mengganggunya, tapi Ayahnya ada duduk di sana.


Jika ada Ayahnya Amira tak berani menganggu Arul, karna Ayahnya tak pernah masuk ke rumah Arul, tak pernah melihat betapa dekatnya Amira dan Arul.


Ayah kalau pulang kerja bantu Mama mengurus rumah, atau pergi ke kebun, atau menjadi pengacara membela yang memang layak Ayah bela.


Tapi orang tua kami kadang juga saling bercakap di teras, tapi sangat jarang sekali.


Jadwal ayahku sangat lah sibuk.


Arul tak lama di rumah ku, akupun mengantar Arul keluar yang tak bicara satu katapun.


Amira hanya memukul bokong Arul, sewaktu Ayahnya sudah masuk ke dalam rumah.


Seperti biasa Arul menatap jengah, sedangkan Amira seperti biasa hanya mayungkan bibirnya, sebagai kode mau mencium Arul.


Arul dan Ani pun pulang, Amira hanya berkata.


"Besok aku kesana yah..."


Ani hanya mengangguk, sedangkan Arul hanya terdiam saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2