Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 37. Jangan Sedih Lagi Yah Bu.


__ADS_3

Aktivitas berjalan seperti biasanya, Akupun selalu menanyakan kabar anakku Aryan. Alhamdulillah dia bertambah sehat, walau harus sering begadang dengan banyak tugas.


Dosennya sungguh egois apa tidak lihat anak itu butuh waktu istirahat yang cukup


Sudah seminggu berlalu Imram sudah membaca Chat ku, malah sangat cepat membacanya. hanya satu hari setelah aku kirim. Rasa bersalah memenuhi lagi rongga dadaku, Apa boleh buat aku melakukan hal konyol lagi. Nak Imram pasti sangat kesal denganku sangat plin plan. Padahal disana dia sudah sangat senang aku melepaskannya.


Namanya juga Amira, yang bodoh amat. Yang tak bisa melupakan begitu saja anak baiknya.


Akupun chat kembali dengan video permintaan maaf dan penyesalanku. Dan kata - kata penyesalan yang sudah membuat Imram mungkin sudah mual dan muntah disana, dan berteriak kesal saking banyaknya, pengulangan.


"Stop Tante..Ini sudah basi...!!


"Stop Tante jangan menggangguku lagi, Anda sungguh sangat menyebalkan, "


Dan meremas rambutnya depresi.


Membayangkan hal itu seharusnya aku membencinya, eeeehh malah mewek dan sedih.


Akupun merengek kembali seolah dia ada di depanku. Aku selalu menghayal narsis agar aku cepat move on, tapi tetap juga tak bisa.


"Oooh..Tuhanku, Aku mohon hilangkan dia didalam hatiku, jika anak baikku itu, sangat muak denganku dan terganggu Ya Tuhanku.


"Nak Imram mau di apa nak, ibu ini cerdas dan punya feeling kuat kalau kita nak, belum benar - benar maafkan Tante, makanya Tante sedikit tak waras, Karna menghadapi anak sepertimu yang sebelas dua belas dengan sifat Aryan, harus sedikit tak waras menghadapi kalian, karna kalian itu manusia dingin , manusia fresher."


Akupun tersenyum sendiri.


"Waaah..aku benar - benar telah sinting, tapi bodoh amat. Aku khan bukan kekasihnya yang minta balikan. Hanya teman baik saja, walau tak di akui lagi sih"


Akupun depresi kembali dan sedih, mulai menangis lebay.


"Beginilah jika orang bucin di hadapi, urat malu pada putus semua, andai kamu tahu nak..., sangat banyak yang antri mau jadi temanku....


sedangkan dirimu membuang ku seperti sampah, Aaaaaahhh....sungguh memalukan sekali diriku ini."


Begitulah nasibku jika menulis chat, yang sebenarnya, aku sudah tahu jawaban dan respon nak imram walau sebatas hayalan, tapi entahlah aku merasa meyakininya bahwa dia sudah sangat muak denganku. Akupun mewek lagi deeh.


Anak baikku Ardi setiap hari rajin menyapaku.


Anak ini benar - benar mengurangi kesedihanku, dia sangat bucin dan penyayang, mirip nak Imram, tapi dia lebih lucu dan menggemaskan kata - katanya, dia sungguh tak menganggap aku seusia mamanya, tapi adiknya dan sahabatnya yang rapuh. Kadang aku tertawa membaca chatnya.

__ADS_1


Anak yang masih berumur 21 tahun ini, sangat memanjakan aku, seperti adik kecilnya yang dia sangat sayang.


"Apa ibu sudah makan...?


Apa Ibu Sehat...?


Jangan begadang yah ibu, jam 11 tidur yah ibu..?


Jangan lupa makan ibu, banyak minum air putih.


Dia sangat peduli, apa dia tidak tahu aku khan baper, namanya juga ratu bucin.


Anak baik ini, selalu menanyakan.


"Ibu dimana...?


Akupun membalasnya.


"Ada di luar nak, main ponsel."


"Masuk yah Bu, dingin di luar nanti ibu sakit."


"Jangan sedih lagi yah bu.


Jangan lupa makan yah bu.


Jangan begadang yah bu.


Dia sungguh menganggap aku adik kecilnya yang bandel.


Bahkan jika aku bercerita lucu dia pun membalas chatku.


"Hehehe...Ibu lucu deeh..."


Anak ini sungguh menggemaskan, tapi aku tak boleh terlalu menyayangi nya, aku tak mampu harus bersedih kembali untuk kesekian kalinya. Walau anak ini pernah berkata.


"Jangan sedih lagi yah Bu. jika ada masalah bicarakan denganku ibu, kita cari jalan keluar sama sama yah Bu, Ardi tidak mau lihat ibu sedih lagi."


Ardi mau kok jadi sahabat dan anak ibu, yang penting ibu tak sedih lagi.

__ADS_1


Anak yang sangat penyayang, baik, bijak dan menggemaskan.


Setiap berangkat kerja dia selalu menyapaku di WA.


"Assalamu Alaikum Ibu, Ardi berangkat kerja yah."


Pulang kerja pun.


"Assalamu Alaikum Ibu, Ardi sudah pulang, mau mandi dulu dan makan. Nanti Ardi chat ibu lagi yah, Apa sudah makan Ibu, makan yah.."


Aku terkadang tertawa sendiri, bagaimana anak ini tak menggemaskan, walau tak semanis wajah Imram, tapi hatinya sungguh sangat manis.


Anak ini tampan, sama anakku Aryan, hanya butuh berpakaian rapi dan kulit putih, karna mereka sungguh tak cocok berkulit hitam dan berpakaian biasa, mereka adalah seni yang sangat bernilai, tambah di poles tambah menarik.


Apalagi jika mereka berpakaian macing dan kulit putih di tambah postur mereka memang tinggi, seperti model top deh. Sebenarnya mereka memang berkulit putih, hanya keadaan yang membuat mereka berdua berkulit hitam, karna sering terbakar matahari.


Jika Imram mau biasa dan luar biasa, anak ini tetap manis dan imut. Tapi kalau sedang marah seperti saat ini, sangat membuat depresi, dan sulit melupakannya.


"Semoga Ibu bisa move on dari kita nak, anak baik ibu yang sudah jaga jarak dengan ibu, jadi sedih lagi deh, kita sangat baik sama ibu nak, dan tulus, sangat sulit untuk ibu melupakan kita nak. Jadi mewek lagi deeh."


Akupun melanjutkan bermain ponsel untuk mengurangi kesedihan ini.


Akupun memeriksa chat nak Imram, tapi belum dia baca.


*****


Sudah dua minggu berlalu nak Imram, tak membaca chatku, anak itu pasti sangat kesal padaku.


Akupun mengirim video lagi, tapi belum ada tanda contreng biru, sudah ada emojinya tanda salam minta maaf.


Dia belum baca chatku, dia sudah memberi emoji salam, minta maaf.


Aku berpikir narsis lagi, kalau nak Imram mengatakan.


"Tolong Tante jangan mengganggu aku lagi, Tante mau salto kek, mau nangis kek, mau terjun ke jurang kek, mau jadi pengemis dijalan pun, aku bodoh amat, dengar Tante rasa peduliku telah luntur Tante, jadi tolong jangan menggangguku lagi, hidupku sangat nyaman dan bahagia menjauhi mu Tante."


Memikirkan itu jadi mewek lagi deeh, walau jauh didalam hatiku dia tak sekejam itu padaku, ini hanya hayalan narsis ku saja, agar aku ikhlas melepaskan dia dan tak mengganggu dia lagi,


Semoga dia tak mengirimkan kata - kata kejam itu padaku, Karna hatiku pasti butuh berbulan lagi menangis bombay jika memikirkan bahwa nak Imram, benar - benar muak dan sangat membenciku.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2