Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 90. Amira Sungguh Type Idealku.


__ADS_3

Maaf yah My Readers 🙏🙏 Anakku lagi sakit jadi baru ada kesempatan nulis lagi,🙏🙏 jika anakku sakit aku adalah type ibu yang sangat posesif 🥰🥰 jadi curhat deeh 🙈🙈


Jangan lupa dukungannya yah 🥰🥰🙏🙏


Like, vote, dan Comment nya sangat Author butuhkan untuk penyemangat nulis.bab bab berikut.🙏🙏🥰🥰


Love Love You All ❤️❤️🥰🥰


Lanjut ke cerita Amira dan Andin.


"Amira ...Aku sudah putus dengan Fathir."


"Maaf yah, Andin..Aku sudah berusaha membantu kamu, tapi Fattan juga kayaknya tak serius deeh, baru ospek cinta jalan kaki saja, dia sudah menyerah."


"Hahahaha...haha..."


Andin tertawa keras, Amira pun bingung, orang patah hati begini, masih sempat tertawa lepas. "Apakah dia tak sayang, kehilangan pacar tampannya itu.?"


"Secepat itukah kamu move on Andin.."


"Tidaklah, aku tak putus sama Fathir, kami pacaran sembunyi saja dulu sementara."


"Fathir sangat baik yah, mau menderita untukmu Andin, tak seperti kakaknya, yang manja dan egois itu."


"Iya aku sangat beruntung memiliki Fathir, padahal aku tak cantik lho, kulitku juga tak terang, wajah ku biasa saja. Tapi Fathir sungguh sangat serius padaku."


"Aaaahhh...jadi baper deeh, kamu sangat beruntung Andin.."


"Tapi ada hal yang tak boleh di ketahui orang lain Amira, kekurangan Fathir."


Amira pun penasaran.


"Memangnya Fathir kenapa Andin.?"


"Fathir pemakai obat terlarang, juga aku Amira..."


"WHAAAT....!!!! itu sangat bahaya, bagaimana jika kalian tertangkap, Andin jauhi obat itu..!!"


"Kami sudah sangat ketagihan, tak bisa lagi mundur."


Amira begitu sedih, mendengar penuturan Andin.


"Andin jangan menjerumuskan aku yah, aku teman baikmu, bahkan aku rela pacaran dengan orang yang tak aku sukai, karna kamu Andin, teman baikku, mohon jaga aku yah."


"Kamu sangat baik Amira kamu cantik, baik dan sangat tulus serta sangat peduli padaku, padahal aku ini adalah teman yang paling buruk, tak ada sedikitpun kelebihan, tapi kamu mau berteman denganku.


Makasih yah, jika aku jahat padamu bukan saja yang Maha Kuasa yang akan menghukum ku, tapi dunia ini juga akan menghukum ku."


"Aaahhhh.....jadi bapeeeer deeh..di puji, kalau kamu cowok, aku mau deeh jadi pacar kamu."


"Hahahahaha....hahaha...."


Kami pun ngakak bareng.

__ADS_1


Sebuah suara memecah kesunyian.


"Andin...Andin...!!!!".


Kami pun menoleh ke arah luar kelas. Tampak tiga pemuda tampan kakak kelas, lagi tersenyum ramah kepadaku, sambil memanggil Andin.


Andin berjalan keluar, langsung di rangkul bahunya oleh pria yang tinggi, berkulit putih.


Dia adalah kakak kelas, anak seorang Bidan, tapi mengalahkan kekayaan dokter, Karna punya klinik perawatan sendiri di rumahnya, bahkan terkenal satu kabupaten ini, keahliannya meracik obat, dan membantu persalinan. dan memiliki rumah yang sangat besar, yang dia rancang seperti kamar - kamar penginapan untuk pasien rawat inap.


Pria itu bernama Dimas, dia sudah lama mengincar ku jadi pacarnya, tapi Andin tak pernah memaksaku, beda pada Fattan, Andin sedikit memaksaku.


Kedua temannya juga, lumayan tampan, terutama yang satunya itu, membuatku sedikit menyukainya, walau berkulit sawo matang, tapi dia sangat manis dan tampan, Alis nya yang tebal, matanya yang teduh dan indah, hidungnya mancung. wajahnya seperti lukisan sangat adem melihatnya. Kalau dia mau denganku pasti langsung aku terima, tapi sayang dia tak mungkin mau berpikir mau denganku, karna sahabatnya mau sekali denganku. Menyebut namanya saja, hatiku serasa di tumbuhi banyak bunga. Yusuf adalah Namanya.


"Tapi aku khan memang gampang suka orang.


Apalagi kalau orangnya nggak mau sama aku,


Aku makin penasaran tapi giliran orangnya sudah mau, eeehh, langsung deeh auto ilfeel.


Entahlah mungkin karna dia tak suka dengan ku, makanya aku suka dia. Tapi dia memang sangat tampan. Walau Dimas juga tampan, kulit putih bersih, tubuh tinggi ideal, wajahnya kalau lihat pertama kali, langsung waaahhh deeh gantengnya, tapi dia terlalu mengejar ku, jadinya aku auto ilfeel deeh."


Entah apa yang dia bicarakan dengan Andin, sesekali Dimas menoleh denganku dan tersenyum manis, aku juga heran dengan Andin, tidak memanggilku, setidaknya khan aku bisa menyentuh tangan Yusuf, aku khan mau nyentuh tangan pangeran tampan itu, jadi modus deeh..wkwkkwkwk."


Pikiranku terus melayang kesana kemari, aku tak tahan lagi, Akupun berdiri,.dan menghampiri mereka.


Dimas sangat senang melihatku, dan langsung menjulurkan tangannya, tertawa memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan terawat. Pakaian bersih, rapi sudah di setrika, bahkan dari ujung rambut sampai sepatu, dia sangat perfect, rapi, bersih dan ganteng.


Lamunan ku buyar tersapu suara lembut Dimas.


"Aku Dimas cantik, Namamu Amira Khan, nama yang sangat cantik seperti orangnya."


Mendengarnya aku langsung auto ilfeel deeh,


Aku hanya senyum, dan berusaha melepaskan tanganku, yang masih kuat dalam genggamannya.


Akhirnya terlepas juga, aku yang ada niat modus, langsung menyodorkan tanganku pada Yusuf.


Yusuf malah kaget, dan kelihatan sangat segan memegang tanganku, dia sangat sombong di hadapanku, semakin aku menyukainya.


Akupun meraih tangannya, dan langsung menggenggamnya.


Jantungku berdetak, aku pun kegirangan.


"Amira nama kamu siapa...?"


Yusuf panik, dan langsung menjawab.


"Yusuf.."


Yusuf menatap Dimas dengan wajah segan.


Terasa lembut tangannya, rasanya aku tak mau melepasnya. Tapi aku melepasnya juga dan beralih ke teman nya yang lain, menyodorkan tanganku, pria berwajah manis itupun, sangat ceria menyambut tanganku.

__ADS_1


"Amira..."


"Anton.."


Akupun melepas tanganku, aku menatap Yusuf, pria target ku sekarang, tapi dia malah mengalihkan pandangannya.


Dimas pun berkata.


"Boleh Amira aku datang bertamu di rumah kamu."


"Boleh sih, tapi langsung dengan ibu mu serta bawa mahar nya sekalian."


Dimas tertawa, dia tak menyangka Amira yang cantik, dan sangat manis itu, kocak juga seperti dirinya.


Amira berbalik menatap Yusuf, yang wajahnya mengandung teka teki, padahal Amira sengaja mengatakan hal itu, agar dia bisa melihat tatapan cemburu dari Yusuf, tapi wajah itu begitu misterius.


Suara Dimas memecah kesunyian lagi.


"Benar nih, bisa bawa ibuku, dengan mahar."


"Bolehlah, tergantung Ayahku dong, semoga mau menerima mu, Karna Ayahku sangatlah galak, dia tak akan membiarkan mu bertemu denganku, kecuali bawa ibumu, hahahaha...hahaha...."


Akupun tertawa begitupula dengan Dimas dan Andin, dan Anton, sedangkan Yusuf hanya tersenyum sedikit saja, sungguh pria misterius.


"Wah Andin, Amira sungguh type ideal ku, !!"


Andin tertawa tapi langsung Auto pucat, melihat Fattan memperhatikan kami dari depan kelasnya.


Andin langsung menarik ku.


"Sudah dulu yah Dimas, kami ada tugas."


Dimas tampak sangat kecewa, karna dia masih ingin berbicara lebih akrab lagi denganku.


Aku dan Andin duduk berhadapan.


"Kenapa takut sekali dengan Fattan, dia lho yang jaga jarak denganku."


"Iya tapi tetap aku tak enak padanya, nanti di pikirnya aku menyepelekan dia, dan sengaja menjodohkan kamu lagi dengan Dimas."


"Ooh ya, aku ini heran sama kamu Andin, kok kamu akrab semua dengan pria kaya, dan populer di sekolah ini."


"Orang tua ku khan punya warung makan di tengah kota, mereka sering mangkal di tempatku, dan adik Fattan adalah pacarku, sedangkan Fattan dan Fathir akrab juga dengan pria - pria kaya ini, ibarat nya mereka adalah satu geng komunitas."


"Oooh begitu yah, sayang nya aku tidak suka bergaul dengan geng tajir itu, wkwkkwkwk."


Andin pun tertawa.


"Hahahaha...kasian sekali mereka yah, banyak lho yang mau sama kamu Amira, tapi aku cuma jual nama Fattan, Hahahaha..."


"Hahahaha...hahaha...!!!"


Kamipun terpingkal bersama.

__ADS_1


__ADS_2