
Amira mulai memulai percakapan, memakai teknik seni nya kembali.
"Bapak yang terhormat, Ibarat saya adalah pedagang ikan di pasar."
Surya yang tegang makin kesal pada Kakaknya.
"tadi pak dewan dia beri kata - kata serdadu di medan perang, agak keren sedikit sih, tapi menyebalkan. Sekarang malah ini lho, semua tokoh yang di segani, penentu masyarakat, bahkan pak dewan saja menghormatinya, apalagi ini kampungnya, bunuh kita saja mereka sangat mudah melakukannya, tampa ada yang di tangkap. Karna mengatasnamakan masyarakat banyak.
Apa mampu polisi memberi makan ratusan masyarakat di sel tahanan. Ooh kak, masalah apa lagi yang akan kamu berikan padaku."
Surya mulai depresi berat, sangat menyesal memanggil kakaknya datang.
Amira melanjutkan kata - katanya, Tokoh Masyarakat pun kelihatan kesal. Menganggap Amira melihat mereka seperti penjual ikan di pasar yang bau amis.
Amira melirik adiknya yang sudah meliriknya sangat kesal, semua tokoh masyarakat juga kelihatan kesal, Amira pun memulai percakapannya kembali.
Ibarat saya adalah penjual ikan di pasar, anggaplah penadah ikan terbesar yang langsung dari nelayan - nelayan langganan saya.
Otomatis saya punya banyak langganan ikan dan mereka biasa saya antarkan ke rumah mereka. Tapi saya punya supir langganan yang sudah bertahun langganan dengan saya, dan tak pernah kecewakan saya, bahkan melihat semua rumah langganan saya.
Datanglah seorang supir yang lain, mau menggantikan supir langganan saya, sedangkan supir langganan saya juga ada di situ, sementara mau bawa ikan saya.
Kira - kira jika bapak di posisi saya, jelaslah saya pilih supir langganan saya. pertama saya sudah tahu bukti kinerjanya, dan kedua saya sudah lama berlangganan dan tak pernah kecewakan saya.
Pastinya saya memilih supir langganan saya, Karna jika supir lain. pertama nggak kenal, kedua ambil waktu jelaskan alamat, mending kalau tak kesasar.
Amira melirik adiknya kembali, yang sudah terlihat sangat kesal dan depresi. dan Tokoh Masyarakat juga kelihatan bingung juga, Amira pun melanjutkan kata - katanya kembali.
__ADS_1
Jadi ibarat saya adalah orang yang biasa bangun Perusahaan, dan saya punya tim khusus yang terlatih di bidangnya mengurus ijin, dan dia sudah berapa kali terbukti berhasil, sedangkan pak dewan terhormat saya belum kenal, makanya ada pepatah tak kenal maka tak sayang.
Apakah sudah ada bukti ? Pak dewan berhasil urus PT. Tim Saya ini bukan saja di sini koneksinya, biar di pusat pemerintahan negara, karna memang pekerjaannya dari dulu, jadi dia sudah di kenal. dan banyak bukti nyata berhasil mengurus ijin PT.
Saya Khan sudah bilang di pak dewan jika saya ada hambatan, nanti saya minta tolong.
biarkan saya yang mencoba dulu, Karna ibarat bapak Surya ini menteri. Dia hanya menteri sosial, tugasnya mengurus masyarakat, sedangkan saya menteri keuangan, yang jelasnya hanya dua di kamusku. Untung dan rugi.
Otomatis saya mencari titik yang paling aman agar saya tak menyesal, karna di dunia bisnis. Uang tak bermata dan bersaudara, karna yang rugi saya dan bapak hanya rugi tenaga.
Tapi saya rugi tenaga, rugi uang saya dan uang gabungan mitra, karna harus uang banyak dipakai.
Jika saya tidak mempertanggung jawabkan nya dengan baik, pasti saya.di jebloskan lagi masuk penjara. Karna di dunia bisnis harus ada materei tanda tangan di atasnya, dan kontrak kerja jika merugikan pihak mitra dia bisa menuntut saya.
Amira mulai berbicara dengan nada gas yang tinggi, jika sudah dia pakai teknik ini, takkan ada yang bisa merubah keputusannya.
Bapak yang terhormat.."
Mulai memelankan nada suaranya, Bapak yang terhormat, sedangkan dewan itu pak tugasnya adalah sebagai jembatan membawa investor masuk ke desa untuk kemakmuran masyarakatnya, bukan mengatur keuangan investor.
Bukankah itu janjinya untuk kemakmuran masyarakat kalau dia mau kendalikan keuangan investor, saya jamin tak ada investor yang mau masuk.
Dan masyarakat pasti akan menyalahkan bapak - bapak juga. Rejeki sudah di tangan kok dilepas.
"Semua terpana dengan kecerdasan ibu Amira, tapi mereka juga pusing hadapi pak dewan, Karna mereka datang atas suruhannya, kalau Ibu Amira tidak mau, menyerahkan pada pak Dewan nanti suruh pulang saja, tapi apa yang dikatakan ibu Amira benar. Desa kita mau diolah kok, kita mau campuri keuangan dia. Kita tahunya khan terima sewa, dan dapat lapangan pekerjaan kenapa kita persulit dia."
Kata hati mereka terus menjawab, dan membenarkan argumen ibu Amira yang kelihatannya sangat cerdas.
__ADS_1
Dua orang tokoh pun menjawab.
"Saya setuju dengan apa yang dikatakan ibu Amira, kita butuh lapangan pekerjaan."
Kata Pak Markus.
"Iya benar, nanti kita tanya pak dewan biarkan dulu ibu Amira yang urus, kalau ada kendala khan minta tolong di pak dewan juga."
Kata Pak Ayat
Suasana mulai tenang, Surya pun bernafas lega. Tapi Pak Iwan sepertinya tak puas. Tapi Amira bodoh amat.
Pak dewan semakin kesal, dia pun mulai menghasut tokoh dan kepala desa yang seorang wanita, yang juga sangat bijaksana dan cerdas.
Tapi jika mereka bertemu langsung ibu Amira yang cerdas, yang memang penulis
mereka yang menentang pun, berubah menjadi pendukung.
Semua pun semakin semangat membantu Pak Surya dan Timnya.
Disinilah Amira bertemu satu persatu tim solidnya, yang benar - benar, baik, jujur, tulus dan berjiwa patriot mau memakmurkan desa yang mereka cintai.
Mereka sosok humoris, lucu, sederhana dan baik hati, disinilah Amira mengenal jiwa dan hati yang bersih, dan penuh rasa peduli yang tinggi, dan semangat gotong royong tampa pamrih, tampa balas jasa, hanya satu tekad bantu desa kami makmur, maka kamipun akan membantumu dengan segenap jiwa dan raga kami.
Selalu ada tawa yang membuat orang terpingkal histeris, saking lucunya. Mereka pelawak yang benar - benar lucu, adikku Surya pun memiliki bakat melucu yang luar biasa, juga pak Markus dan pak Uya. Jika mereka sudah bertemu, siap - siap kalian. terpingkal sampai histeris, dan sakit perut saking lucunya.
Bersambung.
__ADS_1