
Waktu terus bergulir seperti biasanya, Wa ku pada nak Imram, belum ada balasan kata - kata.
Pagi itu, aku tak punya pekerjaan yang lain akupun mengingat kembali masa kecilku bersama Arul.
Flashback Arul
Waktu itu kami sudah kelas empat Sekolah Dasar.
Ibuku jual es lilin kacang ijo, gula merah
.Biasanya ibuku bawa ke sekolah, dan jika sudah keluar main, di jam istirahat, aku tungguin esnya jongkok depan kelas. sebentar saja ludes deeh es lilin nya.
Aku sangat tomboy, tapi berwajah imut dan cantik.
Tak ada teman pria yang nakal tidak aku ajak duel, jika menantang ku.
Aku sangat kesal jika teman yang lawan jenis ku, suka sekali mencari masalah denganku.
Seperti hari ini, mereka menyanyi tapi nadanya mengolok ku, entahlah mereka begitu kepo dengan hidupku.
Apa mereka tak kapok, duel denganku.
Seperti hari ini, ada empat teman sekelas ku, lawan jenis ku. Mereka pun asik bernyanyi, tapi menyebut nama ku, alamatku bahkan sungai bendungan depan rumahku.bahkan nama jalan depan rumahku.
Mereka pun kompak bernyanyi.
lirik lagu Rasa Sayange ciptaan Paulus Pea, dari kota Maluku. dan mengubah liriknya dengan nada mengejekku, yah aku menahan kesabaran dulu, baru aku terjang satu - satu mereka.
"Jalan - jalan ke jalan mawar, saya lihat ada bendungan besar, banyak airnya....saya pikir buaya berenang....ternyata Amira yang lagi mandi, sambil gosok gigi....
Rasa sayang ngeeeh..rasa sayaaang.. sayang - sayange.. lihat Amira mandi di sungai...
__ADS_1
yang kotor air nya...sungguh sangat menjijikan."
Akupun masih menahan kesabaran, dan mulai menyanyikan lagu yang sama, tapi nadanya aku ganti juga dengan wajah tersenyum manis.
Kebetulan temanku itu anak pedagang di pasar. jadi akupun mulai bernyanyi.
Jalan - jalan ke pasar, di hari Minggu.... Saya lihat penjual telor.., juga penjual ayam..., juga penjual bawang..., dan penjual sayur...., Saya pikir, Bapaknya mereka lagi menjual, ternyata anaknya di larang main ...tapi di suruh jualan... kasian banget..
Rasa Sayange ..rasa sayang sayang nge, kasian betul anak orang di suruh jualan.
Herannya setiap aku yang kepo dengan hidup mereka, walau mereka yang duluan, tetap saja membuat mereka emosi, mendengar laguku, dan mendatangiku.
Dua dari keempat temanku yang bernyanyi lagu ejekan pun mendatangiku, sedangkan yang dua temanku yang lain itu, bersorak mengompori.
"Ayo...kalahkan dia, kamu pasti bisa kawan."
Kata Irwan dan Andi yang menjadi profokator.
Kata ku mulai sengit menantang.
Anton dan Dika pun langsung menendang dan aku pun pastinya menangkis, seperti biasa dan memukul, sebagian temanku juga memukulku, tapi pukulan mereka tak mempan di tubuhku, dan makin membuatku ambisi untuk terus memukul dan menendang mereka satu - satu yang bisa aku dapatkan. dan selalu lincah menghindari pukulan mereka, walau sesekali pukulan mereka mengenai tubuhku.
Aku selalu berlari di depan papan tulis karna di situ luas, untuk saling memukul dan aku menghindari pukulan dengan lues.
Tak pernah ada guru yang melihat, Karna mereka sibuk dengan aktivitas gosip mereka di kantor sambil makan.
Orang tua di jamanku tak rewel, kalau anaknya di pukul dan di cubit oleh guru, malah mendukung.
Jika anaknya di pukuli teman nya malah orang tuanya malah pukul ulang, kenapa katanya bisa di kalah.
Makanya kami berkelahi, berhenti sendiri dan cepat baikan lagi, dan merahasiakan pertengkaran pada guru, dan orang tua, Karna bukannya di bela malah nanti kami di adu kayak ayam jago. siapa yang kalah dan menang .giliran guru yang menambah penderitaan yang kalah, dan yang menang semuanya di jewer, atau di suruh berdiri angkat kaki dan putar kuping sendiri.
__ADS_1
Jadi beginilah kerasnya kehidupan anak kecil di jamanku, harus berkelahi dan jika lelah dan kalah main tos deeh dan memuji deeh yang belum menyerah.
Jadi menghayal deeh, akupun tetap fokus dengan keempat lawanku,yang tak tahu malu sedang mengeroyok seorang wanita, tapi aku heran juga, teman wanitaku tak ada yang sebandel aku. Dan teman pria ku hanya menganggu ku, sepertinya mereka tak anggap aku wanita.
Jika mereka mau mencengkram tanganku, aku secepatnya menepis dan menendang kuat, perkelahian berjalan sengit, dan selalu mereka yang angkat tangan menyerah tak sanggup lagi kena pukulan ku, padahal mereka juga ada beberapa yang mengenai tubuhku , walau aku kebanyakan menangkis dan menghindar.
Aku sudah terbiasa berkelahi di sawah belakang rumahku, dengan teman - temanku. jika kami main drama kolosal Brama Kumbara, dan Mak Lampir Bahkan dengan pendatang yang mengacau, dan sok berkuasa. Aku wanita tapi badanku sudah kebal pukulan.
Kulitku yang putih bersih banyak lebamnya, tapi aku tak peduli.
Teman yang lain hanya menonton, dan sudah malas lihat drama kami, hanya bertengkar tak lama aku baikan ulang, di balik sifat keras ku, aku adalah tipe pemaaf, selesai urusan selesai masalah.
Teman yang aku ajak duel, mulai mendatangiku dan mengajak tos, dan mengacungkan jempol kalau aku hebat, kemudian keadaan membaik kembali seolah tak terjadi apa - apa. Malah aku ngobrol bareng dengan mereka lagi.
Di bangku belakang, yang semua di sekitarku adalah lawan jenis ku. aku pakai rok pendek tapi selalu pakai celana pendek di dalam kain rok ku, untuk persiapan olahraga karate dengan temanku yang usil.
Mereka masukkan ular karet di tasku, pas aku buka aku hanya santai. Apa mereka tidak tahu kalau musim hujan ? banyak ular sawah masuk ke dalam rumahku, dan aku yang sementara belajar hanya mengangkat kaki ku, malas menangkap ular itu.
Karna ada juga Ayahku dan adikku yang jago tangkap ular. Bahkan ibuku kadang malah tindih ular di bawah punggungnya, sedang bergulung. dipikir ibuku kain. Habisnya ibu suka tidur melantai.
Aku cuma tidak suka iseng, bisa saja aku bawakan mereka. Tapi aku Amira hanya suka
menghadapi masalah, bukan mencari masalah.
Apalagi aku malas menangkap ular, jika tak memakai kain, aku paling malas Karna aku selalu kena gigit, aku malas sekali melihat kulitku bengkak dan gatal dan bentuknya kasar.
Kalau Arul takut ular, sudah tahu ular nya kabur, dia juga sibuk lari menghindar. dan ular di sekitar rumahku, pilih kasih tak ada yang mau masuk ke rumah Arul, hanya rumahku saja.
Saat itu aku berpikir kalau Ayah Arul, ada ilmu penangkal ular.
Bersambung.
__ADS_1
..