
Amira pun tersenyum manis, mengingat betapa Ibunya begitu kesal padanya, karna mendukung pilihan Pratama dan menjodohkan Yudi dengan keponakan temannya.Walaupun keluarganya jarang memujinya, tapi melihat semua nya baik - baik saja, sudah membuatnya tenang dan bahagia.
Amira pun tersenyum mengingat betapa adiknya Surya, yang kesal dengan mertuanya tapi selalu membanggakannya dan sangat menghormati mertuanya. Bagaimana sabarnya mertuanya dan Istrinya menghadapi sifat keras kepalanya.
Amira pun menjadi sangat rindu kepada semua tim solidnya, yang begitu baik dan setia dan sangat menyayangi Amira, dan mengingat betapa kompaknya mereka bersama dalam hubungan sebagai tim yang solid tapi rasa persahabatan sejati, seperti keluarga kandung sendiri, bahkan kasih sayang mereka terkadang melebihi kasih sayang saudara kandung.
Mereka semua terasa sudah lama menunggu Amira dan Surya. Seolah semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa, jika mereka adalah orang - orang yang telah Yang Maha Kuasa pilih, untuk mewujudkan impian kami, dan semoga kami akan selalu kompak dan saling menyayangi dan mereka pun selalu tampa pamrih membantu kami walau dalam suka maupun duka.
Dan selalu sabar dan menyayangi kami yang hanya selalu membuat mereka kecewa, walau tak ada sedikit pun niat untuk mengecewakan mereka.
Semoga sahabat - sahabat ku yang terbaik dalam perjuangan, lapangan pekerjaan untuk umat, dan niat memajukan daerah kalian menjadi daerah yang makmur, dan sentosa akan terwujud suatu hari nanti. Amin Ya Rabbal Alamin 🤲.
Akupun mengingat kenangan ku kembali sewaktu Arul masih di sisiku.
flashback Arul.
Sore itu, aku bertengkar lagi dengan Arul, waktu itu kami sudah kelas enam SD.
Kami lagi memperebutkan sesuatu, dan Arul berlari dan aku pun mengejarnya.
Arul berlari ke pematang sawah, dan akupun mengejarnya.
Dia selalu curang, Apa kalian tahu sifat konyol Arul, hal yang memalukan yang dia lakukan jika aku mengejarnya.
Jika Arul sudah lelah di kejar olehku, Arul akan segera melorotkan celananya, dan memperlihat bokongnya. Sungguh aku sangat tak suka melihat bokongnya. Dan akupun menyerah mengejarnya dan kami berbaikan ulang seperti biasanya.
Akupun berkata.
"Bisakah kamu tak memperlihatkan bokong mu, apa kamu tahu aku sangat jijik melihat bokong mu...!"
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu tak suka, makanya aku lakukan, agar kamu berhenti mengejar ku."
Kata Arul sambil terpingkal.
"Begini saja Arul, lain kali jangan bokong mu, yang kamu perlihatkan aku, karna aku sudah hapal mati, modelnya kamu punya bokong, sungguh adalah mimpi terburuk ku."
Arul kembali terpingkal seperti biasanya.
"Hahaha...hahaha..."
Akupun tertawa bersamanya.
"Apa kamu tahu Arul bokong mu, sungguh mengerikan bagiku, membuatku mau muntah."
Arul makin tertawa.
"Hahahaha...hahahaha..!!"
Arul baru tahun lalu di sunat, dan apa kalian tahu aku juga melihatnya di sunat. Karna dia di sunat di ruang tamu. Betapa dia mencoba mengusirku tapi aku tak mau, namanya bandel dan ratu kepo. Lagipula aku sudah biasa melihat aset pribadinya. Iya juga sih, sewaktu masih kelas tiga SD ke bawah, sedangkan saat di sunat Arul sudah kelas lima SD, dan saat ini Arul sudah kelas enam SD, tapi tidak akan malu memperlihatkan bokongnya, jika aku mengejarnya seperti saat ini.
Jika aku sudah berbicara tentang barang aset pribadinya, Arul pun langsung marah, dan langsung memasang wajah yang sangat kesal, dan menatapku jengah, dan sangat jijik melihat wajahku.
Akupun yang terpingkal tak menarik perhatiannya lagi padaku, tapi sebesar apapun dan hebohnya tawaku, jika sudah menyinggung aset pribadinya Arul akan menjadi sangat pendiam, dan hanya menatapku dengan sinis dan jengah.
Akupun Iseng memegang celana depannya, dan mau membuka kancingnya.
Kamipun mulai bergulat lagi, Arul memegang kuat kedua tanganku, dengan kedua tangannya pula, berusaha melepaskan tanganku.
Jika bersama Arul, semua urat malu yang ada dalam diriku akan putus semua. Dan Arul akan menjadi pria yang sangat mahal dan sangat sombong kepadaku. Dan sangat menyesal aku menjadi tetangganya bahkan sangat menyesal telah mengenalku.
__ADS_1
Begitulah aku jika bersama Arul, aku tak akan malu berkata apa adanya pada nya. Aku tak pernah anggap dia sebagai pria, aku selalu menganggap dia sejenis dengan diriku.
Ditengah pergumulanku dengannya, yang ingin membuka celana nya, dan dia mempertahankan sekuat tenaganya. Akupun berkata kembali dengan kata - kata yang membuat Arul bertambah kesal padaku.
"Apa aku salah mengatakan itu, namanya juga aku penasaran saja, coba aku lihat dulu."
Arul pun berkata sambil mencengkram tanganku dengan kedua tangannya, dan sudah duduk jongkok, mempertahankan celananya agar tak melorot karna tarikan tanganku.
"Tidak mau...!!! jangan harap aku mau memperlihatkannya, dasar wanita tidak tahu malu...Aaaaahhh....lepaskan...sungguh wanita yang tak tahu malu....!!!"
Dan anda mau tahu Arul, Walaupun aku selalu berkata hal yang sangat mesum dengannya, Arul adalah pria yang sangat terhormat, dia tak pernah sekalipun berbicara mesum.
Dia hanya terdiam dan menatapku penuh amarah, jijik dan kesal dan bahkan langsung meninggalkan ku, dan tak mengajakku berbicara, atau mempertahankan aset pribadinya, yang selalu aku iseng mau menyentuhnya, atau melihatnya.
Dan aku yang sudah berwajah tembok, dan memiliki rangka wajah besi dan baja. Akan cuek saja dan tetap selalu di dekatnya, dan menertawakan dia yang sudah ngambek tingkat dewa. Dan akupun seperti orang tak waras, hanya berbicara sendiri, seperti orang tak waras, karna aku selalu bertanya, namun Arul hanya cuek dan menatap ku jengah.
Akupun hanya bisa mencubit pipinya dan hidungnya. dan memeluknya gemas walau langsung di dorong keras olehnya, yang tak mau di sentuh. Dan orangnya sudah diam membisu, dan memasang wajah cemberut tingkat dewa.
Aku Amira bagi Arul, adalah wanita yang sangat mesum, bicara tak sopan, egois, tak tahu malu, muka tembok, bandel dan selalu membawanya dalam masalah.
Jika Arul sudah marah, aku pun tidak membahasnya lagi, hanya tetap melengket seperti prangko di tubuhnya, dan tak mau jauh darinya, tetap ganggu dia, tapi aku tak membahas lebih lanjut tentang aset pribadinya, dan diapun akan membaik lagi seolah tak ada masalah antara kami berdua.
Dan Arul pun duluan memelukku, dan kamipun duel kembali seperti biasanya.
Ibarat aku diam Arul yang aktif, dan ibarat Arul yang diam aku lagi yang aktif mengganggunya. Makanya orang tuanya hanya hanya cuek saja, karna sudah bosan melihat drama kami.
Walau kami sudah duel saling gantian saling menindih. Orang tuanya tetap santai melaksanakan aktivitasnya, dan tak merasa terganggu dengan ulah kami, kadang duel, kadang saling mengejar dalam rumah, bahkan saling dorong dan mendorong pintu kamar, karna Arul melarang ku masuk tidur di kamarnya.
Makanya kami hanya terbiasa tertidur di depan TV nya, sedangkan Ayah dan Ibunya tetap nyaman menonton TV. Seolah kami tak ada di depannya. Walau anaknya sudah aku peluk dan cubit pipi, dan hidungnya bahkan memeluknya Orang tuanya sudah menganggap aku juga adalah anak kandung mereka.
__ADS_1
Bersambung.