Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 89. Aku Antar Pulang Yah.


__ADS_3

Amira pun kembali menangis pilu, mengingat kenangan pertama kali bertemu Suaminya.


Siang itu jam dua siang Amira sedang berjalan di lorong belakang rumahnya untuk kedua kalinya. Tapi kini dia bersama teman sekelasnya. Andin.


Temannya yang tomboy itu, minta tolong pada Amira untuk berkenalan dengan pria kakak pacarnya, yang sangat mengidolakan Amira.


Temannya itu sangat mencintai pacarnya. entah pelet apa dipakai Andin, membuat Amira wanita yang sangat mahal, dan susah mencintai seseorang yang namanya pria, mau mengikuti langkah Andin. Padahal ini sangat memalukan mendatangi rumah seorang Pria.


Hati Amira sangat berat.


Pacar Andin adalah blasteran Indo - China, Andin tak begitu cantik, juga sangat tomboy. rambut seperti seorang pria. Tapi pacarnya sangat tampan, tinggi dan putih.


Disinilah bisa kita lihat kalau Yang Maha Kuasa sangatlah adil.


Dia memiliki kakak yang menentang hubungan Andin dan adiknya, tapi akan merestui jika aku mau berkenalan dengan dirinya. Sangat lucu kedengarannya berbau modus, dan bodohnya aku mau saja ikut dalam permainan bodoh itu.


Kakak pacar Andin, satu sekolah dengan kami, dia kakak kelas kami. Dia sudah kelas tiga waktu itu, jurusan IPA.


Akupun ikuti langkah Andin yang terus melangkah sangat riang, mungkin saja menertawakan kebodohanku.


Kami masuk di rumah yang pekarangan yang sangat luas, rumah seorang keturunan Raja di jaman dahulu. Pemerintah sekarang masih menghormatinya,


Gedung yang besar dan bercet putih, memiliki lapangan yang sangat luas di depannya. Didalamnya tinggal Datuk keturunan raja.


Kami berjalan di samping nya, ke sebuah rumah panggung yang luas.


Pacar temanku Andin Papanya keturunan raja, tapi Mamanya adalah wanita dari negara China. walau peranakan juga.


Kakak pacar Andin ini cukup terkenal di sekolah ku, masuk perkumpulan pria elite dari


kumpulan pria - pria kaya.


Sungguh bukan type Amira, tetapi tetap bodoh mengikuti langkah Andin.


Sampailah di bawah rumah panggung itu, ada balai duduk yang besar. Amira pun duduk di sana.


Andin menyuruh Amira duduk di balai itu, dan Andin berjalan masuk ke sebuah kamar, yang di buat di bawah rumah panggung besar itu.


Tak lama Andin memanggil Amira untuk masuk ke kamar itu.

__ADS_1


Amira masih juga sangat bodoh mengikuti arahan Andin.


Amira pun berjalan untuk masuk ke kamar itu. tampak pria berkulit putih, rambut agak ikal, cukup manis, tersenyum menatap Amira.


Andin langsung menarik Amira langsung duduk di samping pria indo China itu, yang berdarah keturunan raja terdahulu.


Amira langsung ilfeel, perasaan nya sungguh tak enak, dia merasa harga dirinya sebagai wanita tak ada sama sekali, dan bodohnya Andin sudah keluar, Amira hanya bisa duduk melongo, menatap Andin.


Tubuhnya kaku, tak bisa bergerak rasa takut menjalar dalam tubuhnya.


Amira tersentak, seseorang memegang jemarinya.


Amira langsung menepisnya, berdiri dan keluar dari kamar itu.


Amira kembali duduk di balai, di bawah rumah panggung itu.


Amira pun segera pamit dengan Andin dan pulang.


Di sekolah Andin mulai berceramah.


"Fattan marah sekali lho kemarin sama saya, kamu seolah menghina dia, dengan menepis tangannya, bagaimana ini Amira, ? aku sungguh tak bisa putus dengan Fathir ..., tolong bantu aku, kamu hanya pura - pura suka saja sama Fattan, dia tak terlalu jelek untukmu kok, coba pacaran walau tak ada rasa cinta, karna cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya kok."


"Andin banyak juga yang mau dengan ku kok. malah jauh lebih baik dari Fattan, jangan pengaruhi aku dong..!"


Amira menjadi kasian lagi pada Andin, bagi Andin Fathir terlalu tampan untuk kata putus.


"Baiklah aku coba membantumu, tapi jika aku tak menyukainya. Aku akan putuskan dia. ini sungguh hal sulit, mencoba pacaran dengan orang yang kita tak suka."


Entah apa yang dia katakan Andin pada Fattan.


Sepulang sekolah Fattan sangat senang, bahkan mau mengantar Amira dengan mobil, tapi Amira tak mau. Juga tak mau naik becak.


Pada jaman Amira bukan ojek motor yang dipakai Siswa dan Siswi, pergi dan pulang sekolah, tapi becak. Bukan karna orang tua tak sanggup belikan motor anak perempuannya, mereka hanya takut ada apa - apa dijalan, jadi menyewa becak dengan bayaran per bulan. Begitu juga para emak - emak jika ingin ke pasar, atau ke tempat lain jika tak tahu naik motor.


Amira tak mungkin naik becak dengan Fattan, jika di lihat Ayah, pasti marah besar.


Sebelum sekolah di sini, Sekolah paling favorit di kabupaten ini, yakni SMA Neg. 1.


Amira sekolah dipinggir kota, SMA Neg .3. Karna waktu itu nilai dari sekolah lamaku, tak lolos standar. padahal aku masuk tiga besar di sekolahku.

__ADS_1


Hanya waktu itu ujiannya memakai komputer untuk pertama kalinya, jadi banyak murid sekolah yang jatuh nilainya, karna masih banyak belum faham melingkari jawaban, jadi mungkin saja benar pilihannya, hanya komputer tidak bisa membacanya.


Di sekolah sebelumnya, Amira menjadi idola.


Di sekolah lamanya banyak seniornya, bahkan angkatannya, yang mengejar cintanya, bahkan ada yang sering datang kerumahnya. Akhirnya Ayah memindahkan aku ke sekolah lain, padahal sudah nyaman di sana.


Di situlah Aku bersahabat dengan Shanty Siswi yang sangat cantik, yang aku jodohkan dengan Arul sahabat ku. Waktu di bangku kuliah.


Walau aku sudah pindah sekolah, sesekali aku dan Shanty melepas rindu dengan saling mengunjungi. Dia teman yang baik hati. Sampai saat ini pun sejak kuliah, dan putus dengan Arul. aku tak pernah ketemu Shanty lagi, aku dengar dia sudah bercadar serta menjadi dosen, dan memiliki Suami Dosen juga.


Aku sungguh sangat merindukannya, dia adalah sahabat yang sangat tulus, ramah dan baik hati. Dia selalu berusaha membuat ku menjadi wanita berhijab sepertinya. Sungguh sahabatku itu adalah wanita Sholeha.


Lanjut ke cerita Amira dan Fattan.


Fattan menyapa.


"Hai Amira...!"


"Hai Fattan..!!


Balas Amira ramah.


"Aku antar pulang yah...!"


"Iya boleh. tapi jalan kaki, apa mau tapi kita lewat lorong pasar dekat sungai.?


Fattan mengangguk.


"Baiklah Amira, aku kasih dulu kunci mobil temanku."


Akhirnya Fattan dan Amira jalan kaki bersama.


Tak banyak percakapan, ternyata Fattan adalah pria pendiam.


Sejak berjalan kaki bersama Fattan hubungan Amira tak berjalan kembali, Fattan malah menjauh, mungkin kapok jalan kaki.


Amira juga menjadi bodoh amat, karna dia pun mau menerima Fattan hanya untuk menolong Andin.


Hubungan pun putus begitu saja, banyak yang mencoba mendekati Amira, tapi Amira memilih untuk tak pacaran.

__ADS_1


Amira takut Ayahnya marah, karna Ayah begitu menjaga anak gadisnya, dan wajarlah di jaman ku anak gadis semua di jaga ketat Ayahnya.


Bersambung.


__ADS_2