
Akupun sedih dan mengingat Imram, aku belum pernah ke kostnya, melihat keadaan tempatnya dan dia sudah membenciku dan tak mau mengenalku lagi. Kami hanya sering kontak di ponsel dan bertatap muka di Toko adikku dan di Apartemen Anakku Aryan. Apakah selamanya dia akan membenciku..?
Hampir aku meneteskan air mata, tapi aku menahannya dan mencoba bercanda dengan Ardi.
"Waah...pasti enak nih mie buatan anakku Ardi."
Sepertinya Ardi terlalu serius mulai memasukkan mienya, di air yang sudah mendidih.
Anak yang kelihatan cuek dan pendiam tapi sangat penyayang dan perhatian. Aku sangat bersyukur dia mau memberiku kesempatan untuk di perhatikan oleh anak baikku ini.
Dia mulai mencampur bumbu setelah membuang air nya. dan menghidangkan untukku, dan memberiku piring dan sendok. Aku sungguh sengaja berdiam diri. Aku ingin dia memberikan perhatian padaku. Jika dia anakku sudah aku suruh menyuapiku lagi makan.
Aku sangat mudah baper pada anak yang hampir seusia anakku, karena aku sangatlah penyayang keluarga.
Akupun mulai makan, seorang bocah wanita memperhatikanku, akupun menyapanya.
"Mau makan nak...."
Akupun memberikan makanan yang aku makan. Dan dia menerimanya. Akupun berdiri dan mengambil piring. dan mulai mengambil lagi mie goreng yang sudah dicampur Ardi.
Ardi duduk di depanku, sedang video call dengan mamanya.
Suara bawelnya terdengar kembali.
"Mama...panggil orang temani mama di situ bermalam. Tidak ada yang temani mama..!!"
Mulai marah manja.
__ADS_1
Mamanya berkata, karna suaranya di load speaker, jadi terdengar juga olehku.
"Tidak usah, mama bisa juga sendiri kok..!!"
"Ini orang tua di bilangin tidak mau dengar, Mama...panggil orang temani mama.."
Mamanya menjawab kembali.
"Tidak usah, mama bisa sendiri kok. Tidak takut juga."
"Mama panggil orang mama, temani kita, kenapa sih bandel sekali di bilangin tidak mau dengar..."
Akupun terkekeh geli, tapi Ardi sangat serius dia terus membujuk mamanya yang tetap kekeh tak mau panggil orang. Ardi begitu manjakan mamanya seperti adik kecilnya yang bandel.
Ardi terus mengulang kata - katanya. Dan mamanya mungkin malas berdebat dan membunuh ponselnya.
"Ini orang tua susah sekali sih, di bilangin tidak mau betul dikasih tahu."
Aku tertawa geli mendengarnya mengomel, Ardi sangat menggemaskan di pandanganku.
Aku mencoba membela mamanya.
"Biar saja nak, mungkin mama berani juga sendiri."
"Masalahnya Ibu, sekarang banyak pencuri."
Akupun menjadi khawatir juga, wajar saja Ardi sangat khawatir dengan mamanya.
__ADS_1
Selesai makan akupun ke ruang tengah dan berbincang dengan Ayah Ardi. Aku sedikit bertanya tentang keadaan adikku Surya yang masih berjuang di daerahnya. Namun perjuangan kedua gagal kembali, Karna tidak mau mendengar kan saranku.
Ayah Ardi begitu prihatin dengan adikku yang begitu gigih dan selalu berusaha walau sudah tak bisa di lanjutkan masih tetap berjuang.
Cukup lama kami berbincang dan akhirnya kami pun tertidur di ruang tengah. Tante Ardi menggelar karpet dan kami tidur dengan gaya menyilang lain arah. Sedangkan Ardi tidur di dalam kamarnya.
Keesokan paginya tampak Ayah Ardi mulai bawel membangunkan Ardi, yang tidak mau bangun.
"Ardi...bangun nanti terlambat nak..."
"nanti papa...belum juga masuk kerja..."
Terdengar suara Ardi yang mengomel, kesal Ayahnya membangunkannya.
Terlihat Ayahnya memang sangat bawel juga dan perhatian pada Ardi. Seperti Ardi ke mamanya.
"Bangun mi nak, sudah pagi ini. Nanti kamu lambat masuk kerja nak."
"Aaahhh...papa...Ardi bilang nanti...!"
"Bangun mi nak, terlambat betul nanti nak.*
Ardi memilih diam dan tetap kekeh tidak mau bangun.
Aku sebenarnya sudah bangun shubuh mandi dan berganti pakaian dan berbaring kembali. Melihat Ayah dan anak bertengkar aku hanya tertawa geli.
Ardi mulai kesal dan dengan wajah cemberut bangun. Karna Ayahnya tidak berhenti mengganggunya.
__ADS_1
Bersambung