Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 57. Kasian Lady Daung.


__ADS_3

Mertua perempuanlah sarangnya rengekan Istri Pak Surya, karna istri sangat cinta Suaminya yang sangat tampan itu, tapi nyebelin.


Akhirnya terkumpullah tiga ratus gram emas mertua perempuannya, siap di gadai tampa sepengetahuan Bapak mertua.


Karna dasar kebohongan akhirnya belum satu tahun bangkrut lagi, dan minus lagi dua ratus juta.


Mertua laki - laki rasanya mau gigit telinga menantunya.


Mencoba merayu lagi jadi pengembala sapi dan petani. Mana maulah Pak Surya sudah ancam istri mau cerai kok.


" Saya sudah tobat bertani dan jaga sapi. Sudah cukup penderitaanku lima tahun dia siksa Ayahmu, aku mau cerai pokoknya kalau bapakmu paksa saya."


Begitulah deskripsi kemarahannya dengan istrinya, di ancam cerai,


"Aku cinta matilah sama Abang, janganlah ancam begitu Abang, aku akan membantumu lah Abang ku tersayang. Anak kita sudah tiga lho Abang."


Begitulah deskripsi suara hati istrinya yang merengek seperti biasanya.


Pada saat itu, sudah gempar orang cari emas, Karna daerah itu ternyata banyak emas. Mertuanya hanya cuek saja.


Sedangkan lahannya yang kurang lebih dua ratus hektar itu, lahan kandang sapinya yang hampir seribu ekor itu, di sebelah tanahnya nya banyak orang cari emas, tapi tak ada yang berani ganggu tanah mertua pak Surya, karna mereka orang di desa sangat hargai barang orang lain. Apalagi sosok mertua Pak Surya sosok tuan takur dan tuan tanah yang dermawan.


Contohnya kedermawanan mertua Pak Surya. adalah, jika ada yang mau menikah warga di sana, terus tak ada uangnya, dan berani minta tolong sapinya di utang atau di berikan percuma, Beginilah deskripsi Pak Rahman mertua Pak Surya.


Contoh Aco mau menikah, calon mertua minta mahar seekor sapi, karna uangnya juga tak ada, kebun tak ada hanyalah buruh tani di desa itu, memberanikan diri bertemu Bapak mertua Surya.


"Assalamu Alaikum, Ambo...saya mau tanya berapa harga sapi kita yang paling murah ?


Panggilan Ambo adalah panggilan kesayangan warga desa, pada pak Rahman. Karna Pak Rahman berdarah Bugis bahkan jika ditelusuri, keluarganya adalah para Datuk Bugis keturunan raja zaman dahulu kala, adalah sepupunya, tapi tak mau pakai marga keluarganya, karna sosoknya yang rendah hati.


Pak Rahman, Nama mertua Pak Surya, bertanya.


"Wa alaikum Salam Aco, Berapa uang mu di situ ?"


Aco tersenyum ramah dan polos serta menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Belum ada Ambo, saya hanya mau bertanya."


Pak Rahman mengetahui Aco, keluarganya bahkan alamatnya.


"Kemarikan saja uang kamu Aco, yang kamu bawa itu"


Si Aco garuk kepala, ngelangsa dalam hati.


"Uangku hanya gopek lima ribu di kantong. Apa dia tidak tempeleng aku yah ?"


Mertua Pak Surya memanggil namanya lagi.


"Aco...coba kemarikan uangmu, berapa saja di kantongmu."


Aco mulai depresi, tangan bergetar, keringat bercucuran, badan sudah panas dingin, sepertinya dia sudah di serang penyakit malaria.

__ADS_1


"Waduh bagaimana ini, ?


Mending kalau dia tempeleng aku pakai tangan, Aduuuhhh...!!


Bagaimana coba kalau dengan golok waduuuuhh...emak...!! nyesal deeh gue kemari ke kandang singa emaaak...!!"


Mulai meratap memanggil emaknya yang tak tahu apa - apa.


Pikiran Aco semakin depresi, jika ada tembok di depannya sudah dia pentok kepalanya, agar cepat pingsan, diapun mulai meracau dalam hati.


"Pak Rahman khan masa mudanya mantan bajak laut, dan sangat di segani di dua negara. Sampai pak Kapolda saja merengek minta jadi anak angkatnya.


Apalagi gue, emangnya gue siapa, aku hanyalah pasir dan debu yang beterbangan emaaaak...!!"


Mulai meratap sadar posisi, dan hati semakin ngelangsa. Mulai menggaruk kepalanya yang mendadak banyak kutu, entah dari mana asalnya.


Bentakan mertua pak Surya menyadarkannya, membuat Aco tampa sadar memberikan uang gopek nya, recehan lima ribu perak.


"Waduh ini sapi bro, bukan somay, aku khan cuma datang mau cari solusi."


Hatinya saat ini semakin ngelangsa dan hati mulai bergetar,


Seperti mercon petasan Dag..Dig.. Dig.. Deg.. tak lama dooorr.


Begitulah deskripsi hatinya saat ini.


Pak Rahman berteriak memanggil salah satu penggembalanya, membuyarkan lamunan Aco yang sudah di langit ke enam.


"Bento...Ambilkan Aco nih, satu ekor sapi yang bernama lady Daung...!!!"


Berlari lah Bento, pengembala yang selalu punya semangat juang empat puluh lima, diapun mencari cap sapi yang bernama Lady Daung, dan akhirnya ketemu juga, setelah memanggil namanya juga.


"Lady Daung...kamu dimana, cepat maju ke depan."


Kasian Lady Daung, sangat senang di pikirnya mau di ajak piknik, dengan manja dan tersipu berjalanlah dia ke arah bento.


Aco melongo tak percaya, sampai Lady Daung, sudah di rumahnya pun, dia masih melongo tak mempercayai apa yang dia alami.


Begitulah deskripsi baik hatinya Mertua pak Surya, bahkan tak segan menyumbangkan sapinya gratis, apalagi hasil taninya, jika ada acara di kabupaten dan kantor dinas pemerintahan. Pak Ambo sangat di sayangi satu kabupaten. Mantan Bajak laut menjadi sosok orang kaya raya yang dermawan, walau dari keturunan Raja.


Jika ada mau jadi Caleg, Bupati atau apa saja, satu suaranya, adalah satu suara satu kabupaten. Begitulah sosoknya. Andai sapi bisa ikut mencoblos mereka akan setia antri juga.


"Okey lanjut lagi perkenalan tentang mertua Pak Surya."


Ada sekitar Empat puluh hektar tanah mertuanya di sekitar emas yang muncul itu.


Akhirnya mertua mengalah lagi, Karna saat ini Istri dia dan Istri Pak Surya yang juga sudah pengaruhi Kakaknya juga, seorang Pria juga sudah menikah untuk buka lahan itu.


Akhirnya melunak Mertua pak Surya cuma suruh buka lahannya setengah hektar.


Mulai ceramah.

__ADS_1


"Harta saja di atas tanah banyak, kenapa mau lagi korek harta di bawah tanah.? Kalian ini sungguh menyebalkan."


Biasa ngamuk dulu, tapi Istri dan anak tak akan berhenti merengek jika keinginan mereka tak terpenuhi.


Akhirnya terjadilah perjanjian yang di buat sang Ayah. dengan tiga syarat.


Bisa buka tapi pertama, cukup setengah hektar saja di olah.


Semua garuk kepala, tapi daripada tak jadi biarlah dulu mengalah.


Syarat kedua, Orang yang mencari cukup kalian terima sewa sepuluh persen.


"Waduh kok sedikit sekali, biarlah dulu yang penting jadi dulu."


Wajah sudah cemberut dan tak berseri lagi.


Syarat ketiga, jika kacau langsung tutup.


Akhirnya terbukalah lahan itu, dan banyak yang mendaftar. Dan sungguh banyak sekali emasnya. sampai naik kilo hanya per minggu.


Tapi kacau akhirnya mertuanya tutup lagi.


Pak Surya sudah uring - uringan. Sudah bolak balik ke kota kakaknya di kabupaten lainnya.


Akhirnya Mertuanya tetap kekeh, dan memberikan uang untuk pembibitan sapi. Senilai tiga ratus juta.


Pak Surya tak mau, malah uangnya dia belikan perumahan di kota. Karna tak enak tinggal di kakaknya, ada mama tercinta yang selalu usir pulang dan ancam tak mau akui sebagai anak kandung lagi, tapi anak tetangga..


Mertuanya tambah garuk kepala, tak kehabisan ide. Usahakan lagi dia belikan mesin jonder dan Loder, agar bisa di sewakan


di petani.


Habis lagi di jual Pak Surya dia malah pergi ke Propensi lainnya olah emas, tapi gagal lagi dan sekarang mendarat di desa Pak Uya di gunung Peyi dengan menggandeng Mitra baru dari perusahaan Kakaknya dan saudara nya lagi membantunya. Bagaimana kami tak mau datang bantu. Dia berkata dengan sangat tegas.


"Pokoknya jika saya tak berhasil, saya tak akan pulang. Dan biar saja saya tinggal di hutan atau buang diri atau mendaftar jadi pasukan jihad."


"Waduh...Belum tahu dia, Ini Pak Surya lho, bintang Leo lambang Singa. Kalau sudah bicara pokok nya.


Hujan, badai, angin topan, dan banjir pun, akan aku terjang semuanya yang penting keinginanku tercapai. Dan akhirnya Amira ikut arus dan terombang ambing dengan adiknya yang tak tahu perjuangan akan berakhir dimana.


Ibu Amira tak memperdulikannya lagi, di hatinya saat ini niat baik untuk lapangan pekerjaan, dan bisa buat amal, kenapa tidak mari kita berjuang. Masalah berhasil itu rahasia yang Maha Kuasa. Kita jalani saja semampu kita.


"Okey lanjut lagi di cerita tentang awal pertemuan Pak Uya dengan Pak Surya. Salah satu tim terbaiknya di Gunung Peyi. Yang sangat kocak dan jenaka.


Dan mereka berdua nantinya adalah pasangan Teletubbies kartun yang suka berpelukan itu. Pak Uya sangat menyayangi Pak Surya.


Kata hati Pak Uya mulai berkata kembali.


"Sedangkan anda manusia yang memang sangat tampan sih, mau di antar bayar satu juta saja kami masih berpikir. Ini malah minta di antar. Tapi maaf beribu maaf saya lebih baik akan sabar memberi petunjuk di mana lokasinya, kalau cuma menggambar. saya ahlinya, cuma lurus, belok kanan dan kiri kok.


Oooh ya...manusia tampan yang entah dari kota Anta barantah yang mana. Kalau mau bunuh diri, jangan ajak kami dong, Karna kami masih banyak anak dan istri mau kami hidupi, lagian kamu siapa sih, datang - datang minta tolong, baru minta tolong yang susah sekali, kalau makan dan minum air atau minum kopi. Mari sini, kami orang desa pasti ramah dan baik hati, pokoknya gratis tak usah bayar."

__ADS_1


Begitulah deskripsi hatinya selanjutnya.


Bersambung


__ADS_2