
Akupun memeriksa luka anakku kembali, akupun bawel kembali.
"Kasian anakku, bekas luka ini, nanti membekas dan jadi koreng hitam dong nak."
"Tuh khan Mama Doakan Aryan lagi koreng, Mama selalu begitu deeh...., Aryan sudah berapa kali bilang, kalau Mama tidak boleh mengatakan hal buruk sedikitpun walau akan terjadi. Karna masih ada mujizat Mama. Seharusnya berkata kebalikannya agar tidak jadi Doa."
"Aduuh...ribet sekali sih sayang hidup Mama, kamu tahu khan sayang, Mama ini orangnya To The Point."
Beginilah menghadapi Aryan. si raja aura positif, tak ada sama sekali aura negatifnya.
Setiap kata - kata ku adalah Doa Untuknya. Kata jelek harus di ubah tampan, kata Hitam harus di ubah kata putih, Aku yang bar - bar selalu keceplosan dan dia takkan berhenti menegurku sampai aku mengubah kata - kata ku yang negatif menjadi positif.
"Aryan tak mau tahu,, Mama harus berubah, Aryan itu tak akan lelah selalu ingatkan Mama, seharusnya Mama faham, kalau Mama ini Tuhan saya di dunia, dan Aryan percaya baik dan buruk ucapan dari mulut Mama adalah Doa bagi Aryan. "
Berdebat dengan Anakku Aryan tak akan ada habisnya, seperti biasanya akupun merengek dan merayunya kembali seperti biasanya, menjadi adik manjanya.
"Iya deeh Mama salah, Anakku Aryan..paling ganteeeeng ...Bekas luka ini nanti akan putih dan kinclong deeh."
Wajah Aryan yang tadinya masam berubah sangat riang.
"Makasih Mamaku sayang, love you !!"
Anakku Aryan tinggal di Apartemen yang di sediakan oleh kampusnya. Sesekali dia pulang ke rumah.
Akupun memeriksa keningnya, takutnya anakku Demam. Syukurlah anakku Aryan tak demam.
Akupun meminta ponselnya dan dia seperti biasanya tak pernah menolak jika aku periksa ponselnya. Apalagi dia tahu aku hanya ingin melihat Chat nak Imram apa ada lagi percakapan antara anakku dan nak Imram.
"Mama...jangan menyiksa diri sendiri Mama. kita harus move on Mama, Kak Imram sudah tak nyaman dengan kita, jangan dipaksa lagi Mama.
__ADS_1
Mama harus mengakui kalau mama memang salah dan mau ikhlas menerima keputusan Kak Imram tak mau peduli Mama lagi.
Aryan mulai bawel, Suami dan anakku selalu aku rengekkan tentang Imram yang salah faham, mereka sudah bosan dengan ceritaku yang tak ada tamatnya, bahkan Suamiku jadi korban gigitan yang tak ada judulnya.
Bahkan mau telpon Imram kalau dia takkan biar kan aku mengadopsinya , jadi jangan khawatir, agar Imram mau baikan lagi denganku.
Enak saja, apa dia pikir dia pintar menyusun kata kata indah, bukannya membantuku malah Imram tambah marah padaku.
Membela diri tentangku pada Anakku Aryan tak akan ada kemenangan, Dia khan sahabatku dan Abangku bahkan kadang jadi guruku, Aryan selalu aku didik menjadi diri sendiri dan bebas argumen, Andalanku hanya merengek manja, dia akan luluh.
Aryan dan Imram khan manusia fresher, dingin sekali, pastilah Aryan membelanya. satu tetap satu, mustahil jadi dua kecuali mujizat.
"Nah mujizat inilah yang aku masih harapkan, Aku Amira si pejuang tangguh. Yang lainnya bodo amat, aku tak peduli aku wanita setia dan akan tetap setia walau Imram sudah membuang ku sebagai temannya.".
Akupun sedih kembali dan mulai fokus ke luka anakku lagi, melihatnya kulitnya banyak luka lecet.
Aryan pun tersenyum bahagia, dan berkata dengan riang.
"Amin...."
"Aryan...jangan nak, terlalu banyak masuk organisasi nak, kasian tubuh kamu nak. Pokoknya bandel saja yah nak. Jika terlanjur masuk Mama dukung kamu bandel dan rajin bolos."
Aryan hanya tersenyum manis.
"Kok senyum sih, bilang iya dong biar mama senang gitu, sayang..."
Melihatku mulai rewel, Aryan cepat menyahut.
"Iya Mama....!!"
__ADS_1
"Kenapa jadinya Mama tak percaya kamu yah nak, pokoknya Mama tidak mau kamu terlalu aktif organisasi nak."
Aryan hanya diam dan kabur naik ke lantai atas rumah kami.
Aryan bermalam di rumah, biasanya dia tinggal di apartemen kampusnya.
Mungkin anakku merasa sakit semua badannya. Anakku Aryan tidak suka mengeluh jika sakit, nanti aku hanya lihat perubahan wajahnya, jika hanya diam dan banyak berbaring, akupun segera memeriksa tubuhnya, memberinya obat dan mengompres dahinya.
Bahkan tidur di sampingnya sampai pagi aku selalu menganti kompresnya, walau aku sudah memberikannya obat. Jadi Aryan jika sakit demam tak pernah lama hanya satu hari, Karna aku sangat posesif jika anakku sakit.
Malamnya aku naik menemuinya, memeriksa tubuhnya apa dia demam atau tidak dan membawakan obat nyeri agar dia tidak merasakan sakit nyeri di lukanya.
Aku masih sibuk dengan ponsel anakku, dan selalu mau melihat apa ada chat Imram yang masuk padanya, Karna Imram
memang kecewa sama aku, tapi sama Aryan nak Imram masih peduli.
Aryan pun tidak biasanya menegur, dia hanya cuek melihatku membaca chat Nak Imram. Tapi ini dia mulai bawel.
"Mama move on lah Mama, itu hanya membuat Mama semakin sedih."
"Si raja Demokrasi mulai membuka wacana realistisnya, Apa dia tidak tahu ? yang dia hadapi ini adalah ratu bucin dan penyayang.
"Andai waktu bisa aku putar, aku takkan ke rumah Imram dan kesalahfahaman tidak akan terjadi."
Meratap sedih.
Aryan hanya menatap jengah, kalimat itu selalu menjadi iklan di telinganya.
Bersambung
__ADS_1