
Akupun kembali ke kamarku, Suamiku masuk kerja ship malam.
Akupun kembali bersedih mengingat kenangan tentang Ayahku dan Arul.
Flash back Ayah dan Arul
Sore itu seperti biasanya, aku membuat ibuku marah kembali. Dia sangat tak suka jika aku menindas adikku, dan mengatakan adikku dengan nama binatang An*ing.
Ayahku yang dulunya pernah juga memukulku dengan kayu, Karna pergi mandi di sungai besar dan salto di atas kincir waduk mengikuti teman - teman priaku, Karna aku sosok tomboy dan berani.
Aku sampai tak bisa jalan tiga hari, yang membuat Ayahku trauma Karna aku tak mau mengucapkan kata Ampun, ayahku menyuruhku mengatakan kata Ampun agar berhenti memukulku, tapi aku sangat gengsi mengatakannya. Akhirnya ayahku terus kalap memukulku dan aku hanya diam menahan sakit tampa air mata.
Sejak saat itu Ayahku tak pernah menyentuhku lagi dan selalu membelaku dan jika menasehati ku, dia pun menyuruh ku wudhu dulu, dan shalat Sunnah dua rakaat baru dia duduk ceramahi aku dengan sangat halus dan lembut. Bahkan aku pura - pura tidak tahu jika setiap shalat shubuh, Ayahku datang mendekati kepalaku dan meniupkan Doa.
Ibuku menampar mulutku, dan berkata.
"Awas kalau kamu lari, tunggu aku ambilkan cabe kecil saya hancurkan di mulutmu yang kurang ajar itu."
Seperti biasa aku menatap dengan kesal tampa gentar dan tenang menunggunya.
Melihat ibuku masuk dapur, Ayahku segera melompat dan berlari ke depanku, membujukku untuk melarikan diri, tapi seperti biasanya aku cuma menatap sinis Ayahku, sangat gengsi aku melakukannya.
Ibuku datang dan Ayahku hanya bisa garuk kepala. Ayahku sangat sayang ibuku, dia tak mau membelaku terang - terangan Karna hanya akan memperburuk keadaan.
Ada empat cabe kecil dia langsung hancurkan di bibir dan wajahku. Ayahku menutup mukanya.
"Awas kalau kamu mengipas nya, mulutmu itu semakin hari tak ada etika, kamu sangat bandel tak pernah di rumah, selalu saja main entah kemana, datang lagi dirumah menindas adikmu dan memberi kata - kata binatang, jadi kamu anggap aku juga binatang."
Ibuku seperti biasa nyerocos tampa jeda, Ayahku hanya bisa meringis melihatku.
Tapi Aku Amira. gadis yang sangat tinggi gengsi, dan sangat bandel. Makin keras akupun makin menantang.
Aku hanya diam menahan perih dan panas di wajah ku yang imut, dan putih bersih tapi sudah memerah. Aku hanya diam dan tetap menatap angkuh.
__ADS_1
Ibuku pun masuk ke kamar, dan tetap bawel mengomel.
"Awas kalau kamu cuci mukamu.."
Ayahku tak menyiakan kesempatan dan berkata.
"Andaikan kamu tadi ikut saran Ayah, pasti kamu tak akan alami itu."
Ke dapur saja cuci muka kamu, aku masuk dulu di kamar tutup pintu dan kamu lari cuci muka.
Aku tak peduli malah pergi meninggalkan rumahku, dan pergi ke rumah Arul di samping rumahku.
Akupun singgah ke sumurnya mencuci mukaku sabun. Ibuku kalau sudah masuk kamar pasti langsung tidur. Apalagi Ayahku sudah masuk juga di kamar nya.
Arul melihatku, akupun masuk bersamanya ke dalam rumah.
Tapi wajahku masih perih dan panas, akupun kembali mencuci wajahku.
Rasa perih dan panas. sudah tak terasa lagi. Akupun kembali ke dekat Arul yang sementara menonton TV. Arul pun mulai kepo bertanya.
"Ada apa dengan wajahmu ?"
Akupun menoleh kepadanya.
"Biasa Mak lampir itu, menyerang ku lagi dengan senjata cabe kecilnya."
Arul terpingkal.
"Hahahaha...."
Akupun kesal dan langsung memeluk lehernya, menempelkan nya di dadaku.
Arul pun berontak dan melepaskan tanganku.
__ADS_1
"Iya...iya ampun deeh..."
Akupun melepaskannya.
"Sebenarnya apa yang kamu katakan, sehingga Mamamu marah..."
Begitulah Arul selalu kepo dengan hidupku.
Akupun menceritakannya, diapun tertawa tapi menutup mulutnya.
"Ooh Yaa...masih mending kamu, waktu kita bertengkar, dan aku melempar mu dengan batu kecil di jendela mu. Kena Mama mu, terus mama mu marah, dan berteriak kesal memarahi aku. Kamu tahu apa yang terjadi padaku."
Akupun menggeleng.
Arul menatapku dengan wajah sendu berharap di kasihani.
"Ayah dan Ibuku menggantung ku dengan sarung , dan kepalaku di bawah."
Kamipun terpingkal bersama, Arul mulai menggelitik ku, dan aku pun melakukan hal yang sama kami saling berpelukan sambil menggelitik di tubuh masing - masing. Sampai kami lelah dan tertidur dengan satu bantal di depan TV.
Arul dan Ayahku selalu mendukungku, walau aku melakukan hal yang salah.
Akupun bangun duluan menyusul Arul. Akupun ke meja makannya, dan mencari makan seperti biasanya. Arul pun bangun dan ikut duduk di sampingku.
Akupun mulai menyendok nasi dan lauk dan memberikan pada Arul, agar menyuapiku makan. Dia menatap jengah sangat kesal aku selalu menindasnya.
Akupun melecehkan tubuhnya lagi, membawa tanganku mencengkram alat vitalnya, walau belum aku tekan kuat. Arul pun menepis tanganku kasar dan mulai menyuap ku makan dan diapun juga makan, walau tatapan nya sangat kesal dan jengah kepadaku, tapi dia tetap menyuapiku makan. Aku sangat bandel tapi aslinya sangat bucin pada Arul.
Aku juga suka mencium pipinya bahkan menjilatinya. jika dia terus menghapusnya. akhirnya dia tidak menghapusnya lagi. Arul anak yang sangat bersih tak mau buka sandal jika bermain, tak mau main tanah, dia sangat pecinta kebersihan.
Kami saat itu sudah kelas 3 SD, kami kalau mandi bersama sudah di suruh pakai ****** ***** oleh mama Arul. Tak seperti masih TK dan SD kelas satu, aku sering mandi tampa penutup dengannya, aku sangat dekat dengan Arul tapi sering juga duel.
Bersambung.
__ADS_1