
Okey lanjut lagi ke cerita aku berjalan ke belakang rumah baruku, yang banyak juga rumah penduduk.
Aku sudah cukup lama berkeliling, di belakang rumah baruku, terdapat banyak sekali rumah.
Tampak beberapa orang memperhatikan aku, tapi aku tak begitu peduli. Aku yang ramah hanya melempar senyum manis, kepada mereka.Kebanyakan ibu - ibu yang aku temui, yang sibuk ngerumpi.
Biasalah emak - emak, kalau pekerjaan rumah pada beres semua, ngerumpi adalah jadwal asik selanjutnya.
Hanya ibu ku yang berbeda. Pulang mengajar makan, membantu pelayan rumah menyiapkan makanan untuk kami juga, dan pastinya di bantu Ayah tercinta.
Kami hanya sibuk dengan dunia kami, sisa tunggu kode makan, mandi atau belajar. Hanya itu yang orang tua kami terapkan.
Di keluarga. Ayah dan ibu ku, tak pernah menyuruh kami, anak - anaknya membersihkan rumah, kecuali inisiatif sendiri.
Jika tak ada pembantu. Adikku kedua ku Nia, yang paling rajin membersihkan rumah. Mereka jarang ke rumah Arul.
Kalau aku jangan di tanya lagi, aku selalu tiap hari tampa jeda, tak pernah alpa ke rumah Arul, selalu pul absensi.
Andai rumah Arul sekolah, aku pasti masuk siswi paling rajin ke sekolah.
Bagaimana Arul tidak merasa sangat, dan amat sangat terganggu olehku.
Aku baru dua hari pindah ke rumah baru orang tuaku. Aku sudah merindukan Arul. dari umur lima tahun sampai kelas dua SMA ini, baru kami berpisah.
Wajarkah aku sungguh sangat merindukan Arul yang kelihatan sangat cuek, bawel, pemarah walau hanya akting menakuti ku. Tapi Arul sangat baik hati, sangat tulus dan peduli. Dia juga pria sangat mahal, dan sangat terhormat. Kami berdua banyak di sukai lawan jenis kami, tapi sayangnya menumbuhkan rasa cinta itu, begitu sulit.
Jadinya aku mau pacaran dengan Arul, yang tentunya hanya canda ku saja, dan dia pun tak pernah juga menerima ku, setiap aku melamarnya dia pasti menyuruhku bercermin.
menghina ku adalah hobby terbaiknya, dan aku pun menjadi orang yang tak waras karna aku senang sekali jika aku menaikkan derajat ku setinggi mungkin, dan Arul ahlinya selalu menghempaskan hayalan ku ke tanah, dengan sukses.
Walau berakhir dengan duel dengannya dan aku pun bisa lagi menjadi ratu di rumahnya, dan hidupnya dengan keterpaksaan, karna aku sangat ahli menindas nya. Itulah hobi dan keahlianku.
Okey lanjut lagi, aku mau ke rumah lama ku, dan tentunya melanjutkan hobby ku, menindas Arul dan membuatnya depresi.
Aku langsung menyetop ojek, yang sementara lewat. Aku ingin ke rumah Arul, aku tak sempat pamit padanya. Saat ini dia pasti sangat bahagia.
Akupun berdiri di pinggir jalan poros, menunggu ojek lewat, dan akhir nya, aku mendapatkannya.
Akupun langsung naik duduk di belakangnya.
Ojek pun langsung mengantarku, ke tempat tujuan. Untunglah aku selalu mengantongi uang. Orang tuaku tak pernah pelit uang jajan, kecuali kebanyakan, pasti ibuku curiga, karna sudah tahu sifat asli ku yang penolong.
Sampai juga ke rumah lama ku, Mama Arul senang melihatku.
"Hai...Amira, naik apa kemari nak ?"
"Naik ojek Tante, Arul mana Tante."
"Biasa tidur siang di kamarnya.
Akupun langsung berjalan ke kamar nya, aku sungguh tak senang melihatnya tentram, dan bahagia, tampa bersama ku.
Akupun naik ke kasur nya, kebetulan Arul tidur menghadap ke pintu masuk kamarnya.
__ADS_1
Akupun naik di kasurnya, berbaring di sampingnya. Mulai memencet hidungnya, memencet bibirnya. Akhirnya dia pun terbangun dan langsung depresi dengan kata lebaynya.
"Aduuuuhhhh....!! Mengapa kamu datang lagi..?
Aku sungguh sangat bahagia kamu pindah, tapi kenapa kamu datang lagi ke rumahku..!!"
Langsung membelakangi aku.
Akupun memeluknya dari belakang.
Arul pun berontak tak mau di peluk, dia pun menyeret ku, keluar kamarnya.
"Apakah mudah mengalahkan ku, ?"
Adu otot pun, saling dorong mendorong dimulai antara Aku dan Arul, sampai kami kelelahan. Bersama Arul kami tak pernah dewasa.
Namun akhirnya kami berakhir juga dengan tidur berdua lagi seperti biasanya. Arul selalu bisa membuatku tidur nyenyak, walau hanya satu atau dua jam saja.
Setelah tidur kamipun seperti biasa duduk berhadapan di sofa, setelah mencuci muka.
Akupun mulai berkata narsis kembali.
"Apakah kamu tak merindukan wajah cantikku Arul. ?"
"Uuuuhwaaa....!!"
Seperti biasa Arul akting mual seperti biasanya, dia sangat tak menyukai jika aku memuji diri sendiri.
Akupun menerkamnya kembali, dan mencubit kedua pipinya gemas.
"Cepatlah kamu pulang Amira, Aku sungguh bahagia kamu pindah. sueer deeh."
Menaikkan dua jari nya, dan tersenyum dengan sangat manis.
Akupun langsung merangkul lehernya.
"Jangan harap aku bisa melepaskan mu, selamanya kamu adalah milikku."
Arul langsung mendorong dahi ku.
"Jangan terlalu tinggi hayalan mu, aku sangat tinggi sekali, dan sangat terhormat, levelku sangat tinggi di atasmu, seleraku juga sangat tinggi sekali, jadi sangat tak mungkin kamu bisa meraih ku"
Akupun menyiksa wajahnya kembali, memencet hidungnya, mencubit gemas kedua pipinya dan mencubit bibir nya yang selalu membuat ku iri, dia pria tapi bibirnya sangat merah alami. Adu duel pun terjadi kembali. Mama nya tak pernah menegur kami. Mereka sekeluarga hanya menjadi penderita tuna rungu, jika aku duel dengan Arul. Mereka sudah malas mencampuri drama kami, cepat berantem tapi cepat baiknya lagi. Walau kami selalu tak akur, tapi kami ujungnya pasti akur, dan lebih kompak lagi.
Flashback Amira.
Amira tersadar dari lamunannya kembali, mengingat masa lalu nya, Amira kembali bersedih, mengingat Arul lagi.
"Arul benar, dia begitu tinggi dan tak mungkin bisa aku raih, aku bahkan tak pernah bertemu dengannya lagi, sejak delapan belas tahun lalu.
Kamu benar Arul, kamu terlalu sempurna untukku, semoga di sana, di tempat yang entah dimana. Arul aku selalu sehat dan bahagia dan dicintai oleh keluarganya. Amin 🤲🤲
Aku sungguh sudah kehilangannya. Andai dia masih ada di sampingku, aku yakin dia akan selalu mendukungku. Di balik sifat cuek dan kata - kata kasarnya, yang hanya karangan semata darinya, yang tak sesuai hatinya.
__ADS_1
Dia adalah kakak dan sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Begitu juga Ayahku. Di saat aku sudah kehilangan mereka. Dan sangat merindukan mereka di setiap tangisanku, Yang Maha Kuasa membiarkan Imram masuk di hidupku.
Dan yang Maha Kuasa mengambilnya kembali dariku. Sungguh hal yang begitu menyakitkan bagiku.
Walau hati kecil ku berkata ini hanya ujian, dan pasti aku akan bisa lewati, dan selalu berpikir yang positif bahwa Yang Maha Kuasa ingin aku bisa melepaskan kenangan Ayah dan Arul agar aku hidup lebih baik.
Karna aku begitu terpukul, dan DIA Maha Mengetahui kalau hambanya ini sangat lah rapuh.
Yang Maha Kuasa telah mengirim kembali malaikat baiknya yang lain, nak Ardi.
Anak ini selalu berkata.
"Jangan sedih yah Bu, Ardi selalu doakan ibu kok."
Ibu harus sehat yah, jangan banyak pikiran macam - macam Bu.
Makan sedikit yah Bu. harus makan yah Bu.
Jika ada masalah kita cari solusi sama - sama yah Bu, Ardi khan sahabat ibu.
Ya Allah mengapa Engkau bawa lagi pengganti yang lebih menyayangiku setulus ini, bahkan mau menjadi anak angkat ku yang penting aku tidak sedih. Tiap hari ini anak ini mengabarkan setiap hari kegiatannya, dan selalu menanyakan aku dimana dan apa kegiatanku, anak yang manja, kepo dan sangat perhatian. Anak bungsu tim Solidku, yang berusia 21 tahun, dari keluarga yang mampu, menyuruhnya kuliah tapi memilih menjadi karyawan untuk jiwanya yang mandiri seperti Imram.
Suara hatiku berkata . ENGKAU sedang mengajarkan aku untuk arti keikhlasan.
Sedangkan Imram sudah empat bulan kepergiannya, aku belum bisa ikhlaskan dia, karna Imram membangkitkan kenangan yang tak bisa aku lepaskan selama belasan tahun, yakni rasa bersalah pada Ayah dan Arul, dan kerinduan menyiksa ku, satu kali dengan satu kali himpitan.
Aku tahu Ya Allah ini bukan karna Imram, Akulah yang tak bisa melepaskan masa lalu ku dan hidup bahagia. Imram datang ke dalam hidupku sudah Engkau atur sedemikian rupa untuk memberiku pembelajaran hidup, agar melepaskan rasa bersalah masa lalu ku.
Di samping Imram menolongku, karna saat itu aku mungkin tak mampu bertahan, jika anak baikku itu, tidak hadir dalam hidupku.
Trima kasih Ya Allah aku bisa mengenal sosok baik ini, dan dia pernah peduli padaku. Aku yakin suatu hari nanti kesalafahaman antara kami berdua, Aku dan Imran akan berakhir, dan kami bisa saling memahami satu sama lain dengan lebih baik lagi, tanpa noda ketidak percayaan lagi.
Semua ujian berbuah hikmah dan ENGKAU ya Rabb. Telah mengajarkan aku untuk mengikhlaskan masa lalu, dan hidup bahagia.
Saat ini ENGKAU ya Rabb sedang mengajarkan aku, tentang kesabaran dan keikhlasan, aku terlambat menyadarinya, dan baru saat ini aku merasa semua ujian ku ini ada pembelajaran yang sangat berharga.
"JIKA MASALAHMU SEBERAT GUNUNG, JIKA MASALAHMU SELUAS LAUTAN, MAKA PANDANGLAH LANGIT MAKA SEBESAR ITULAH PERTOLONGAN YANG MAHA KUASA KEPADAMU. KARNA YANG MAHA KUASA TAK AKAN MENGUJI HAMBANYA DI LUAR BATAS KEMAMPUANNYA. AMIN 🤲🤲 "
Yang Maha Kuasa mengambil Arul dan Ayahku, di saat aku merindukan mereka, dan sangat membutuhkan pertolongan mereka. Hadirlah Imram dalam hidupku, setelah Imram pun pergi, hadirlah Ardi yang sangat mirip Imram, yang bisa membuat ku selalu tersenyum walau banyaknya kesedihan dalam hidupku.
Yang Maha Kuasa sungguh adil padaku. Seharusnya aku harus tetap melanjutkan hidupku.
Arul. Ayah dan Imram seharusnya mereka cukup dalam Doa terbaik ku saja.
Aku harus melangkah maju meninggalkan masa lalu. masih banyak orang yang jauh lebih membutuhkan aku, untuk bangkit, dan bisa mewujudkan Insya Allah impian masa kecilku.
Menjadi orang kaya yang dermawan
Dan menjadi Istri Sholeha, menjadi Ibu teladan untuk anakku, dan menjadi anak yang berbakti pada orang tua, dan menyayangi adik - adikku, dan membimbing mereka ke jalan menuju Syurga Allah SWT.
Semoga perjuangan ku dengan Tim Solidku akan berbuah keberhasilan, untuk mensejahterakan daerah mereka, dan menciptakan banyak lapangan kerja, dan bisa menyekolahkan anak - anak mereka untuk hidup yang jauh lebih baik. Dan Impian Amira menjadi orang kaya raya yang dermawan dengan Izin Yang Maha Kuasa akan terwujudkan. Amin 🤲🤲
Insya Allah Yang Maha Kuasa, mengabulkan dan Meridhoi dan Memudahkan jalan untuk Impian Amira dan Tim Solidnya. Amin Yaa Rabbal Alamin.🤲🤲🤲."
__ADS_1
Bersambung.