Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 96. Uang Surya Di Curi Tikus.


__ADS_3

Semakin hari Amira semakin pendiam dan suka melamun, dia tak tahu kalau Ayahnya pun semakin memperdalam penyelidikannya, dengan tanya jawab dengan beberapa nada sumber, yakni beberapa kawan baiknya.


Siang itu Ayah di rumah seorang ustadz yang juga kawan baiknya, Adikku Surya sangat membencinya, dan tak mau kesana lagi, apalagi melihat wajahnya, Surya yang masih kelas tiga SD, yang sangat pemarah dan egois itu, tiap hari meratap depresi dan mengamuk pada Mamaku.


Bagaimana tidak pak ustadz itu mengaku jago potong rambut, bahkan Ayah sampai memuji temannya itu, setinggi langit kalau sangat jago potong rambut.


Eeh Surya juga sangat senang dan pulang ke rumah sudah nangis guling guling bahkan mau bakar rumah Mamaku..


"Wkwkwkwkwk..."


Habisnya Pak Ustadz itu mencukur rambut Surya sangat mirip helm dan tanaman pagar yang rapi. Rambut Surya berponi rata di depan, dipotong di belakang nya, sejajar poninya sampai belakang, dan menyisakan rambutnya , setengahnya lagi ke bawah kosong, kayak rok pendek perempuan, wajah Surya sangat lucu dan terlihat sangat bodoh.


"Wkwkwkwkkwk..."


Akhirnya Ayah membawanya ke salon cukur ulang, dan akhirnya Surya yang tak suka rambutnya sangat pendek begitu, merelakan rambutnya dan terus menangis dan mengatakan pada Ayah jika Surya sekarang sangat benci temannya itu, bahkan melarang Ayah membawanya lagi kerumahnya, dan melarang juga teman Ayahku datang ke rumahku.


"Wkwkwkwkwk"


Mama sangat sabar menghadapi Surya yang memiliki kata - kata yang teramat sangat pedes, Surya itu adalah mercon petasan, kuat sekali mengamuk dan mengomel.


Dari kecil dia selalu buat kami menderita, hanya karna uang jajan. Bayangkan saja kami sudah mimpi indah di malam hari, eeeh..malah di bangunkan mama hanya untuk memberikan kami uang jajan, Mama selalu tunggu Surya tidur lagi, yang kuat begadang itu. Baru membangunkan kami


Karna jika Mama mengeluarkan uang di pagi hari, dan Surya melihatnya, jangan harap Surya akan membiarkan nya, karna uang di dompet Mamaku adalah semua miliknya. Rasanya mau pitak kepalanya, tapi kami tak pernah bisa menyentuhnya, Karna Mama ku sangat menyayanginya walau bandelnya minta ampun.


Dan di hari Minggu pun, dia tak membiarkan kami nonton televisi, pagi - pagi kartun tuh, siang - siang eeeh..film Roma Irama..anak itu sangat ngefans dengan Roma Irama, entah apa yang dia sukai Surya.


Kami hanya bisa menebak saja, mungkin suka lagunya, atau cara bicara Roma yang aduhai lembutnya, atau cara berpakaian Roma yang celananya bawahnya, seperti kipas angin.


"Wkwkwkwkwkwk"


Jadi di rumah ku bukan Ayahku yang jadi Raja , juga Mama ku yang jadi Ratu, Tapi Surya lah yang memiliki kedua posisi penting itu.


Akupun menepok jidat ku kembali.


Jika Surya Marah, Anak kecil itu sudah mau bakar rumah, Akupun hanya bisa geleng kepala, jika Mama ku selalu di omeli olehnya.


Seperti sore ini.


"Mama kenapa kurang uang di dompet ini...?"


Surya sudah memasang wajah cemberutnya yang seratus kuadrat itu, mulai menyalakan mercon di mulutnya yang bawel, dan sangat cerewet, dan pemarah.


Seperti biasa Mama pun memasang wajah tak bersalah seperti biasanya, walau itu uang nya sendiri, padahal dia yang mencari, tapi harus selalu menderita jika menikmati uangnya sendiri. Dan selalu berpikir keras mencari ide agar Surya tak marah, tapi bukan Surya jika tak bisa menindas Mamaku, dan mengomelinya. Seperti akulah juga yang selalu di tindas Mamaku, dengan peralatan dapurnya atau sandalnya.


Aku akui tak bisa mengambil uang Mama ku yang di kuasai Surya, Karna aku tak mampu menghadapi omelan Surya, jadi korbannya adalah emas mamaku, yang sangat banyak di lemari nya, walau uang nya pun aku tak nikmati, hanya untuk menolong temanku, yang hidup di bawah garis ekonomi yang layak.


Lanjut ke cerita Surya kecil.

__ADS_1


Terdengar nada suara Surya yang sangat marah dan kesal.


"Pasti Mama pakai uangku, !!! Mama itu guru Agama kenapa mencuri, !


Mama sendiri bilang kalau mencuri itu dosa, berarti masuk neraka.


Terus kenapa Mama curi uangku..?


Apa Mama mau masuk Neraka. ?


Semoga saja Mama masuk ner*ka!!."


Aku saja yang dengarnya mau sekali pitak kepala anak itu, yang mulutnya tak ada filter itu.


Tapi Mama ku selalu sangat sabar menghadapi kemarahan Surya, Mamaku sungguh seperti bidadari Syurga jika menghadapi Surya tapi jika mengahadapi ku, Mama ku berubah lagi menjadi malaikat penjaga pintu Neraka, yang pastinya tak akan anda dapatkan senyum terindahnya.


Akupun menepok jidat ku kembali, dalam dunia halu.


Mama ku menjawab seperti biasanya.


"Aku tak mencuri kok, kamu saja itu salah hitung, kamu khan masih kecil belum terlalu faham masalah hitung dan menghitung."


Seperti biasa Mama seperti bidadari Syurga kembali, selalu sabar hadapi Surya.


Tapi bukan Surya dong, jika sudah bilang A dan mau kalian ubah jadi B, itu tak akan bisa jadi B dalam kamus Surya.


Seperti biasa Mama melempar kesalahannya padaku, yang lagi sibuk makan.


"Aduuh Amira...Kenapa tadi malam.kamu lupa kunci rumah, pasti tikus lagi itu datang curi uang. Pokoknya nanti datang Ayah, mau di cari tikus itu lagi, semoga saja uangnya masih ada di simpan tikus itu, belum belanja di kios Tante Marwah"


Aku hanya bisa geleng kepala,


"Mana. ada tikus belanja di kios."


Ooh Mama terus lah lanjutkan Drama konyol mu itu.


Surya yang masih berumur lima tahun, selalu masuk di akalnya kalau Mama ku selalu Fitnah Tikus, padahal Mama ku biang keroknya.


Aku hanya bisa tepok jidat, kasian benar dahi ku ini, selalu kena tepok untungnya nepok nya hanya dalam dunia halu, tumben Author dan My Readers nya tidak ikut nimbrung, mereka khan geng ghibah. Mungkin mereka takut aku ngambek.


"Wkwkwkwkwkwk"


Amira tak tahu kalau Author dan My Readers nya, dari tadi sembunyi di balik pintu, sambil tutup mulut, Karna sedang menertawakan juga drama konyol itu, mereka khan geng Ghibah tak akan membiarkan ada cerita lucu, terlewatkan dari kuping dan mata mereka.


Surya pun masih sangat marah, dan Mama ku pun selalu sibuk dengan kegiatannya, jika Surya marah.


"Aaaaaahhh....!! Mengapa Tikus itu tak pernah bisa di tangkap sih, uangku selalu saja di curinya...!! pokoknya aku tak mau tikus itu masuk lagi curi uangku !!."

__ADS_1


Ayah datang, sudah lengkaplah drama konyol itu.


"Ada apa sih ribut - ribut..."


Mama pun berkata.


" Itulah Ayah, Tikus itu selalu saja berhasil mencuri uang Surya di dompetnya."


Ayahku pun pura - pura kaget, sudah lengkaplah drama membosankan itu, yang judulnya "UANG SURYA DI CURI TIKUS "


Mendengar judulnya saja aku ogah nonton, apalagi yang lain.


Amira kembali tepok jidat dan kembali makan.


Terdengar Ayah pun mulai melanjutkan peran


nya sebagai pembohong kedua setelah Mamaku.


"Kurang ajar betul Tikus itu, pokoknya tunggu saja, aku akan tangkap tikus itu, selalu saja dia yang curi uang, selalu dia yang menjadi biang keroknya. Pokoknya percaya pada Ayah yah, nanti malam Ayah akan jaga tikusnya."


Surya pun mengangguk riang seperti biasanya.


Akupun hanya mencibir, dan berkata dalam hati.


"Surya.. Surya ..kenapa kamu bego sekali sih dek...Perasaan selalu itu alasan Orang Tua kita, Tikus dan Tikus dan mengapa kamu selalu percaya dek, Sungguh dunia balita sangat membingungkan."


Akupun selesai makan dan kabur keruang tamu, begitu juga Author dan My Readers nya, langsung memakai lagi ilmu HALIMUN mereka, agar tak terlihat oleh Amira.


Di pelajaran sekolah pun, Surya sangat OOn..bahkan sedah kelas tiga belum tahu membaca, aku sudah stres dan hampir mau gila mengajari dia, adikku itu sama sekali tak bisa menyimpan hapalan di memori otaknya , hari ini sudah hafal besoknya tidak lagi, aku lelah dan depresi mengajari dia selalu saja Star ke nol lagi.


"Ampuuuun Mama..!!


Aku menyerah mengajari anakmu itu, terima saja takdirnya ..!!"


Untung Mama ku guru di sekolah Surya, jadinya Surya selalu naik kelas.


Adikku itu pernah terbentur kepalanya sangat keras, waktu bermain di bawah rumah panggung tetangga, sampai kepalanya bengkak, waktu itu dia masih kelas satu SD, di umurnya tujuh tahun pada waktu itu.


Jadi Mama ku tak pernah memaksanya belajar, untunglah adikku hanya kehilangan memori menghafalnya. Jika emosi memang dari sononya Surya sangat pemarah dan bawel kuadrat.


Akupun juga sudah menyerah mengajarkan dia, bahkan guru mengajinya pun juga menyerah, capek khan sudah satu bulan ngaji. hari ini hafal, besok lupa lagi, Star nol terus.


Akhirnya Mama yang biasa mengajarkan mengaji tapi tak menyuruh Surya, menghafal hanya mengikuti nada suara Mama ku yang mengaji diikuti Surya.


Itulah sedikit perkenalan tentang adikku Surya yang pemarah dan egois dan sampai sekarang sifat itu masih di milikinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2