
Ardi adalah anak bungsu dari Tim Solidku, Anak yang masih muda tapi mandiri seperti Imram.
Ardi tak mau merepotkan orang tua, dan sangat bucin pada orang tuanya. Bukannya dia yang di manjakan orang tuanya, tapi malah dia yang sangat memanjakan orang tuanya.
Suka mencubit pipi ibunya, memeluknya dan memanjakan ibunya.
Sangat rajin di suruh sama bapak nya, belum selesai ucapan bapaknya, dia sudah langsung bergerak cepat dan rajin memijat kaki dan tubuh Ayahnya.
"Terima Kasih Yaa Allah, Yaa Rabb ku. Telah membawakan dua anak baik berhati malaikat ini, di dalam kehidupanku. Walau saat ini Nak Imram marah padaku Ya Allah, semoga suatu hari nanti dia akan kembali baik padaku, dan mau menerima aku kembali jadi sahabatnya.
Anakku Aryan juga memiliki jiwa bersih, baik, mandiri dan sangat menyayangiku Ya Allah. Trima Kasih memberiku anak Sholeh Ya Allah. Semoga kedua anakku, dan kedua anak baikku ini, Ardi dan Imram. Selalu sehat, nyaman dan bahagia dan sukses dan mapan dan selamat dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin 🤲
Aku juga mengenal anak baik lainnya bernama Wandi, anak ini sudah menikah dan punya istri dan istrinya baru habis melahirkan.
Dia juga anak yang baik, Aku mengenalnya waktu di kota adikku Surya mau buat Perusahaan. Waktu itu anak baik itu, adalah supir mobil on line, dan aku kebetulan membutuhkan mobil sewa, dan aku mengenalnya dan sering aku pakai jasa nya. Bahkan waktu bertengkar dengan Adikku Surya, dia juga yang mengantarku ke penginapan, dan kembali ke kontrakan adikku Surya mengambil bajuku.
__ADS_1
Aku marah dan bertengkar dengan Adikku. Dia sangat keras kepala tak pernah mau dengar saranku, bahkan menuduhku gila jabatan dan mau gantikan tempatnya padahal dia yang memanggilku untuk membantunya.
Aku sangat sedih aku selama hampir satu tahun bekerja dengan nya tulus, Tampa pamrih, bahkan masak, cuci pakaian dia dan mengurus sosialisasi di masyarakat dan staf pemerintahannya terasa sia - sia.
Aku Amira bukan pecinta uang, aku manusia romantis dan humoris dan penyayang saudara, teganya dia menuduhku seperti itu.
Akhirnya perjuangan adikku gagal pada waktu itu, hampir satu tahun tak ada hasil, malah minus milyaran rupiah.
Walau kami tak cukup dua hari marahan, Karna adikku itu tak berhenti meminta maaf dan membujukku seperti adik kecilnya.
Akupun kembali ke kota ku lagi, bantu adikku yang buka lagi toko cabang bahan bangunannya.
Aku sangat cerdas tapi aku tak mau terikat pekerjaan monoton, jadi kadang berpindah mencari pekerjaan di adik yang lain, yang hampir semua wiraswasta.
Aku terbilang santai menjalani hidup, hanya memikirkan uang sedikit Karna aku orangnya sudah trauma usaha besar, trauma dengan kegagalan.
__ADS_1
Lebih baik mencari uang kecil yang penting pasti walau hanya pas - Pasan, bahkan terkadang tidak cukup tapi tak banyak kurangnya, dan ada saja rejeki juga dari saudara dan gaji Suami yang sudah hampir sepuluh tahun bekerja di perusahaan tambang.
Kami lebih memilih di gaji karna jadi pengusaha butuh pikiran yang kuat, dan mental siap jatuh bangun. Dan kami sudah mencobanya tapi kami sudah trauma, dan lebih memilih hidup sederhana..
Untunglah aku juga ada sedikit aset tanah kami beli.
Di aset tanah ku yang lain, aku bangunkan rumah di bantu juga dengan adik.
Aku menjalani hidupku seperti biasa, rumah dan ke toko adik dan juga keluar kota ke tempat adik yang lain. atau ke kota lain bertemu ibuku yang tinggal di adikku di rumah besarnya di tengah kota.
Ibuku juga punya rumah besar, tapi di sewakan, karna anak - anaknya sudah tak ada di kota itu. Jadi kami menyarankan Ibuku tinggal di adik perempuan ku, yang tinggal di kota besar. Sisa kami datang sesekali berkunjung.
Sedangkan Ayahku, Pria yang hampir sempurna akhlaknya, dan sangat kami hormati dan sayangi telah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu.
Bersambung
__ADS_1