
Lanjut ke ratapan hati Suami Amira, Angga Pramana.
Apakah kamu tahu sayangku ? aku kadang menangis di pinggir laut sendirian, Aku ingin sekali memberikan mu kehidupan yang layak, tapi aku telah memilih jalan menjadi seorang pungguk yang merindukan bulan, pilihan yang sangat mustahil telah aku pilih dan harus berada di tengah bintang yang gemerlap, ibarat bintang itu adalah keluargamu sayangku.
Melihat tatapan keluargamu yang seolah menyalahkan aku, karna tak bisa membahagiakan kamu sayang, sungguh aku berjuta rasa bersalah di hati ini, jauh lebih sakit dari hati keluarga kamu sayangku.
Tapi apa dayaku sayang, aku hanya seekor pungguk sayang, seribu nyawa pun aku tukar aku tetaplah seorang pungguk.
Dan menjadi parasit seperti ini, sungguh dalam mimpi pun, aku tak pernah menginginkannya.
Tapi rasa cintaku pada kalian berdua, tak memberiku pilihan lain selain pekerjaan ini.
Walau harus menangis darah pun aku harus kuat menghadapi perbedaan ini. Orang yang tak punya ini harus bertanggung jawab. Walau.aku sangat lelah sayang, penuh luka hati, aku tak pernah mengeluh dalam bekerja walau aku sakit, aku selalu berusaha bekerja, Apalah gunanya tubuh ini, setidaknya Yang Maha Kuasa melihat hati ini, sungguh sangat ingin membahagiakan mu sayang, tapi saat ini keadaan tak berpihak padaku.
Melihat mu tersenyum dan tertawa itu sudah
menjadi obat mujarab rasa lelahku, dan rasa sakit ini yang tak bisa membahagiakan kamu.
Andai bisa aku jual nyawa ini untukmu sayangku, jangan kan satu nyawa ini, walau seribu nyawa pun akan aku jual sayang, yang penting kamu bahagia sayangku.
"Maafkan aku sayangku..Maafkan aku sayang, andai waktu bisa di putar ulang, aku tak akan memilih jalan ini, bukan karna aku tak mencintai kamu sayang, aku hanya berkorban demi kebahagiaan kamu sayang.
Huhuhu...huhuhu....huhuhu..."
__ADS_1
Angga menangis sesenggukan, sungguh dia sangat sedih. Diapun menutup mulutnya, air matanya semakin deras mengalir, dia sungguh sangat sedih tak bisa membahagiakan Istrinya.
Setelah bisa menguasai kesedihannya untuk beberapa saat, Angga pun berkata kembali dalam hati.
Tapi aku sekarang seorang Suami, sepahit apapun kehidupan ini, asalkan kamu tetap di sampingku sayang, aku akan bertahan hingga
jantung ini berhenti berdetak.
Air mata Angga Pramana yakni, nama Suami Amira, semakin deras mengalir membasahi kedua pipinya. Tubuhnya berguncang hebat melawan kesedihan hatinya yang sungguh luar biasa pedihnya.
Tubuh itu terus terguncang melawan kesedihan hatinya, Angga terus menutup mulutnya, agar tak membuat suara tangisannya. Dia tak mau Amira melihat kesedihannya, Amira harus bahagia, jika dia melihat nya tak bahagia, Amira akan sangat sedih, dia tahu istrinya hanya tampilan luarnya sangat kuat, tapi didalamnya hatinya adalah anak kecil yang sangat polos dan manja.
Hatinya akan jauh lebih terluka daripada dirinya. Dia tahu Amira sangat mencintainya. Apapun akan dia lakukan demi dirinya. Tapi tidak Istriku adalah kesayangan di keluarganya, semua menyayanginya.
Dia akan membenci keluarganya dan menentang mereka. Aku orang yang beriman, keluarga adalah segalanya.
Aku hanyalah Suami bisa jadi mantan Suami, jika keluarga Amira, biar keluarga nya di cuci oleh air laut satu dunia pun, mereka tetap keluarga dan satu darah daging. Tak akan aku biarkan istriku menjadi orang yang durhaka.
Angga pun kembali menangis sedih, kembali menutup mulutnya kembali. Tubuh itu kembali berguncang hebat melawan kesedihan hati nya, yang luar biasa pedihnya.
Tante Kunti pun, dan Suaminya Pak Gendoruwo dan anak - anaknya. Saling berpelukan dan ikut terharu, melihat kedua pasang Suami Istri yang sangat serasi itu.
"Syukurlah sayang walau kita hantu, kita tak memiliki penghalang cinta kita."
__ADS_1
Kata pak Gendoruwo, mengecup kening Istrinya.
"Iya sayang...kasian mereka yah, padahal kedua hati mereka sangat lah bersih dan sangat baik. "
Kata Mbak Kunti mulai menangis sedih.terharu melihat Angga yang begitu mencintai Istri, dan anaknya yang terpisah oleh mereka berdua. Karna anak mereka tinggal di rumah orang tua Amira.
Angga Pramana terus menangis, tapi dia berusaha untuk lebih kuat, demi anak dan Istrinya.
Angga pun berdiri dan berjalan gontai ke kamar mandi, untuk mencuci wajahnya. Menunggu Pak Brigadir Jenderal itu datang.
Dua jam berlalu dengan cepatnya, Amira pun bangun dari tidurnya.
Diapun langsung duduk, matanya menyapu sekelilingnya. Mendapatkan punggung Suaminya yang duduk di kursi kantor mereka dan membelakanginya.
Amira pun berteriak seperti biasanya, dia selalu jadi Tarzan di rumahnya.
"Sayang...!!! Apa Pak Komandan sudah datang ?"
Angga tersentak dan segera menoleh, melihat wajah cantik istrinya, walau baru bangun pun pasti selalu tampil cantik.
Kayaknya tak ada yang berkomentar, maklum lah Author dan My Readers sudah pada kabur ketakutan.
Author dan My readers hanya berharap Tante Kunti sekeluarga secepatnya pindah rumah, dari rumah Amira, agar mereka bisa datang lagi menguping di rumah Amira.
__ADS_1
Bersambung