
Aku pun keluar dengan Ardi, Aku pamit pada Tantenya untuk jalan.
Ardi membawaku masuk kedalam setiap lorong, dan tembus perusahaan, yang dia tempati bekerja. Beberapa temannya memanggilnya, mengira aku adalah pacar Ardi, tapi aku tetap memakai masker dan kacamata.
Ardi membawaku melihat suasana lokasi tempat dia bekerja. Terdapat banyak kios menjual sembako, makanan siap saji, dan minuman dingin dan minuman panas.
Tampak beberapa karyawan menatapku penasaran.
Penasaran wajah di balik masker dan kacamata, biasalah sebagai lelaki memiliki naluri pecinta, pengagum dan banyak juga buaya darat. Akupun tersenyum geli.
Ardi membawaku melihat tanah kapling, yang ingin dijual dekat perusahaan.
Setelah memfoto nomer ponsel tanah kapling. Akupun naik ke motor lagi dan Ardi membawaku berkeliling kembali.
Selesai puas melihat - lihat, Ardi membawaku
ke pantai. Pemandangan nya begitu indah, aku pun video tempat itu, serta pemandangannya. Sangat bersih dan indah. Ada beberapa orang yang sedang mancing di jembatan, yang di buat memanjang ke tengah laut yang di berikan atap, seperti dermaga.
Selesai video situasi tempat indah itu, akupun
pergi ke dekat Ardi, yang masih sibuk dengan ponselnya menghubungi Papanya. Anak yang sangat manja dan menggemaskan, tapi sangat mandiri. Beruntung sekali dia mau jadi sahabat dan anak angkat bagiku. Padahal dia sangat manja pada Orang Tuanya. Apalagi sama mamanya dia sangat sayang.
Mamanya kadang marah karna pipinya sudah memerah di uyel uyel Ardi. Dia sangat gemas pada Mamanya. Aku pernah melihatnya waktu aku ke rumahnya. Tapi mereka tidak tahu karna aku dibelakang mereka.
Seharusnya dia yang di manja, kayak aku ke anak dan ponakanku. Tapi Ardi yang begitu memanjakan orang tuanya. Anak yang sangat baik walau terlihat cuek dan pendiam.
Ardi bertanya.
"Ibu mau pulang..."
Aku tertawa.
__ADS_1
"Hahahaha....aku sangat senang di sini nak, Ibu suka pantai siapa suruh bawa ibu kemari...
Ardi pun tertawa riang, melihatku tertawa.
"Ibu mau kesana lihat orang mancing..."
Menunjuk ke arah dermaga.
Akupun menggeleng.
Sekumpulan anak wanita yang masih bocah berusia 9 sampai 10 tahun. Ada di depan ku, bergosip riya. Mereka sedikit penasaran juga, tapi pura - pura cuek dan sibuk dengan gosipnya. Aku masih tetap memakai masker dan kacamata.
"Ardi senang Ibu disini, lihat anak masih kecil sudah pandai bergosip. Entah apa yang mereka bahas."
Ardi dan akupun tertawa geli, dan pandangan anak itu berubah sedikit sinis, mungkin tidak senang kami kepo masalah mereka.
Setelah sedikit puas kamipun pulang ke rumah Tante Ardi. Sesampai disana Ardi sibuk lagi menelpon Papanya.
Akupun terkekeh dalam hati kembali.
Aku coba baring dan meluruskan kaki, malam semakin merangkak naik. Sepertinya aku tertidur sedikit.
Terdengar suara Ayah Ardi datang. Dia tampak senang melihatku.
Akupun bangun dan bersalaman.
Ayah Ardi duduk dan meluruskan kaki. Dia menyuruh Ardi memijat kakinya.
Anak itu begitu senang dan riang melihat kedatangan Papanya. Diapun segera mengambil minyak urut, dan mulai mengurut Papanya dan mulai mengomel manja.
"Papa...Mengapa lama sekali sih,...!!"
__ADS_1
Menyimpan kaki Ayahnya di pahanya dan terus memijatnya. Anak yang sangat baik, peduli dan sayang Papanya.
"Iya...nak, daerahnya sangat panjang, dan kami juga singgah makan."
Ayahnya mencoba menjelaskan.
Aku hanya tersenyum geli, dan berkata.
"Aldy sangat merindukan mu kawan, buktinya Aldy menelpon terus."
Kamipun terpingkal bersama.
Aldy sangat sabar memijat Papanya, sampai Papanya menyuruhnya berhenti memijatnya.
Aku pernah bertanya sama Aldy. Lebih dekat sama Papa atau Mama. Dan Aldy berkata
"Lebih dekat sama Papa, kalau sama Mama aku yang manjain, kadang marah karna aku suka uyel uyel pipinya sampai merah, sampai mama marah dan emosi kejar aku pakai sapu. "
"Hahaha...hahaha....!!"
Kamipun terpingkal bersama, anak yang sangat menggemaskan dan ternyata lucu dan humoris.
Malamnya Ardi menawarkan makanan.
"Ibu mau makan mie apa, Mi goreng atau mie apa ibu...?"
Aku sebenarnya masih kenyang, tapi namanya ratu bucin, aku sangat senang di perhatikan, apalagi di masakkan sama anak baik ini. Aku sungguh ingin mencobanya.
Dulu sewaktu Aryan masih sekolah aku suka suruh buatkan mie goreng. Anakku juga itu sangat manis dan penurut.
Akupun mengikuti Ardi ke dapur. Dia mulai sibuk memasak air panas, mulai membuka bungkusan mie. Akupun duduk di depannya melihatnya gemas, dia membuatkan mie goreng untukku.
__ADS_1
Bersambung.