
Sepulang sekolah akupun kerumah Arul lagi,
Ayah dan Ibunya sedang duduk berbincang di atas kursi sambil menonton, sedangkan Arul berbaring di karpet di bawah kaki Ayah dan Ibunya.
Seperti biasa aku langsung berbaring di sampingnya, merampas remote TV di tangannya. Tapi Arul mempertahankan nya
Seperti biasa kami bergulat. Arul malah telungkup membelakangi ku, orang tuanya hanya diam saja malas, melihat drama kami tiap hari tapi tak juga menegur.
Akupun memeluk kuat Arul dan tetap mencoba meraih remote, sampai dia kelelahan dan memberikan remote nya.
Diapun duduk dan bangun pelan dan berlari cepat ke kamarnya, aku sungguh tak bisa tidur tenang jika dia tak di sampingku, dia mau melarikan diri masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya.
Akupun segera bangun mengejarnya, aksi dorong mendorong pintu di mulai. Arul mendorong dari dalam dan aku mendorong dari luar. Diapun berteriak marah.
"Pulang sana ke rumahmu, kenapa kamu selalu mau tidur denganku. Kamu wanita tak tahu malu, pulang sana."
Arul berteriak seperti biasanya, akupun berteriak juga.
Apa salahnya tidur di sampingmu, ? aku hanya mau baring saja di sebelah mu kok.
Ayah dan ibunya hanya cuek saja, mereka jadi penderita tuna rungu, jika kami lagi bertengkar.
Arul mulai lelah dan melepaskan tangannya dari daun pintu, dan menangis lebay seperti biasanya.
__ADS_1
"Kapan kamu tidak menganggu ku satu hari saja, kamu adalah parasit yang tak tahu malu.
Arul pun naik ke kasurnya, dan tidur dan berbalik memberikan punggungnya.
Akupun naik ke ranjangnya tidur, dan memeluknya dari belakang. Tak lupa aku pencet - pencet hidungnya.
Aku sangat menyukai hidungnya sangat mancung, dan bagus sekali modelnya.
Akupun memeluk sambil mengelus hidungnya, dan akhirnya kami tertidur siang bersama.
Kami jika tidur hanya sebentar, biasa paling lama dua jam, dan setengah tiga sore kami sudah bangun.
Arul jika bangun langsung bangun cuci muka, dan duduk di sofa.
Kamipun kadang lanjut baku gulat lagi, dia tak mau di pegang hidungnya, sedangkan aku suka sekali mengelusnya. juga memainkan bibirnya yang sangat merah.
Dia lukisan yang sangat sempurna, dan wajah yang imut dan putih dengan alis tebal, dan mata teduh. Dia sungguh sangat tampan.
Aku sangat gemas jika memainkan wajahnya.
pipinya aku unyel - unyel. Semua yang ada di wajahnya sangat menarik menjadi mainan tanganku. aku suka sekali memencet hidungnya dan menjepit bibirnya dan memainkannya.
Dia selalu menepis dan kadang aku dan dia bergulat kembali, tapi dia tak pernah menang, hanya berakhir menangis lebay, dan selalu mengatakan kapan kamu tidak datang kerumahku dan menguasai ku, dan juga rumahku.
__ADS_1
Akupun setelah bosan mengganggunya, akupun ke dapur ambil makanan, dan lauk dan menyuruhnya lagi menyuapiku makan.
Kadang Arul sengaja meludahinya, dengan serpihan ludah nya sedikit saja, tapi aku tak peduli. Akhirnya kami pun makan berdua dengan lahap, dengan satu piring dan sendok yang sama, gantian saling menyuapi.
Dia selalu memberikan wajahnya yang depresi, dan sangat tertekan karna ulahku, tapi cepat sekali kembali tersenyum ramah, dan tertawa bersamaku.
Arul sudah terbiasa dengan gangguan aku, dan duel denganku, sampai lelah dan kami berbaikan kembali.
Kalau aku lagi diam, dan malas mengganggunya, dia lagi yang aktif menerkam aku, dan memaksaku duel dengannya. Dia juga iseng jika penyakit cuek ku tiba - tiba datang, diapun yang duluan mencubit pipi, bibir dan mengacak rambutku.
bahkan menerkam ku, agar aku duel dengannya.
Aku dan Arul memang sudah candu saling menganggu, jika ada yang salah satu dari kami tidak aktif bergerak. Salah satunya yang aktif menganggu.
Makanya orang tuanya sudah terbiasa, dan terkesan cuek dengan drama kami berdua.
Walau Arul sangat kuat melawanku, aku selalu melakukan hal licik untuknya. Menyimpan telapak tanganku di atas vitalnya, mengancam mau meremasnya. Diapun langsung diam dan tak bergerak lagi.
Menurutku dia pria sopan, walau masih anak kecil, aku suka melecehkan nya seperti itu. tapi dia tak pernah membalasnya, dan melakukan hal yang sama padaku.
Dia masih kecil tapi sudah tahu etika. Dia hanya diam tak bergerak lagi, dan aku tak melanjutkan lagi, dan diapun jadi jinak dengan apa saja perintahku, walau dia pasang wajah yang sangat sendu dan menyedihkan, sungguh wajahnya begitu lucu dan menggemaskan bagiku.
Arul adalah pria yang tampan dan baik hati, di balik sifatnya yang terkadang sangat cuek tapi dia selalu peduli padaku, apalagi jika aku terluka dia selalu ada mengobati lukaku.
__ADS_1
Bersambung.
.