
Akupun membawa kakiku di atas pahanya.
"Daripada kamu bicara tidak jelas, lebih baik kamu pijit kaki aku. "
"Suami ku hoby membully dengan kata - kata, jika aku suka membully dengan suka menyuruh dia, dan dia sangat penurut walau watak sebenarnya sangat keras kepala.
Tapi cintanya padaku, sangat kuat jadi apapun yang aku suruhkan pasti dia lakukan. Walau dia sedang tidur pun, dia akan bangun dan mendengarkan perintahku.
Dia seperti remote untukku, langsung pencet langsung bereaksi.
Akupun menyimpan kaki ku, di atas pahanya. Dia pun langsung memijatnya. Dan seperti biasa dia mulai memijat ku, tapi tangannya yang lain nakal kesana kemari menyentuh daerah rawanku.
"Saya suruh kamu pijat kaki ku, bukan itu..."
"Jangan terlalu pelit dong mama, anggap saja ini upah memijit mu."
Akupun langsung menurunkan kaki ku, dan meninggalkannya, yang sedang menertawakan ku.
__ADS_1
Aku lebih suka duluan merabanya, jika dia duluan aku pasti mengomel, tapi jika Suamiku hanya tenang dan pasrah di raba olehku.
Akupun baring di kasur, menonton TV, di susul olehnya yang langsung berbaring di sampingku dan langsung memejamkan mata. Dia sangat lelah, kerja setiap hari, biar hari minggu non stop kerja, satu bulan penuh, dia sosok yang rajin dan ulet serta tabah dalam bekerja.
Akupun memeluknya, menarik lengannya dan akupun tidur di lengannya.
Sekitar 1 jam tidur. dia pun bangun shalat Isya. Suami ku sangat rajin shalat lima waktu, selama 20 tahun menikah dengannya, dia tidak pernah sekalipun meninggalkannya.
Aku pun ikut shalat dengannya, walau terkadang aku sering lalai, tidak mengerjakannya, padahal ini adalah kewajiban bagi umat Islam.
Selesai shalat akupun merapikan kasurnya, dan menyuruh Patih tidur, walau sedikit pemaksaan karna anak bungsuku ini, tidak gampang menuruti perintah.
Suamiku sudah terbiasa bangun jam 4 subuh, Suamiku.pribadi mandiri, tak suka merepotkan. bangun tidur langsung ke dapur panaskan air dan buat teh, dan siram mie dan keluar beli kue, di tetangga. sebagai sarapan. Untunglah tetangga penjual kue, sudah biasa buka shubuh, karna daerah ini masyarakatnya kebanyakan bekerja pagi.
Suamiku sudah duduk tenang, menikmati makanan dan minumannya. Akupun bangun dan shalat shubuh, dan mengambil buku Doa, membacanya. Setelah membacanya, seperti biasa tidur ulang.
Tapi sebelum tidur ulang, suamiku aku suruh mencium seluruh wajahku, dan beberapa kecupan di bibirku, walau selama dua puluh tahun, hanya akulah yang selalu menawarkan, bahkan menunjuk bagian yang mana yang harus di ciumnya. Dan dia seperti kambing congek, hanya mengikuti perintah majikannya.
__ADS_1
Akupun setelah mendapatkan apa yang aku inginkan, akupun pergi tidur ulang.
Suamiku pun, melanjutkan menyapu rumah dan di luar rumah.
Sebelum pergi. dia akan berkata seperti biasanya.
" Mama....saya berangkat dulu, walau jarang aku menjawabnya, dia selalu rajin meminta pamit, jika sudah berangkat kerja.
Jam 6 pagi, alarm berbunyi membangunkan Patih. Akupun bangun membuatkan dia susu, terkadang jika minta nasi goreng saya buatkan, jika tidak saya belikan nasi kuning.
Di balik sifat pembangkangnya, Patih adalah anak yang sangat rajin pergi ke sekolah. Dan memiliki kepintaran yang patut di acungkan jempol.
Anakku pun aku antar ke sekolahnya, tapi aku tak pernah menjemput dia pulang, saya biasakan dia jalan kaki sendiri, agar dia belajar mandiri.
Jarak rumah ku dan sekolahnya tidak begitu jauh, jadi dia tidak terlalu jauh jalan kaki, tapi jika anakku Patih berangkat ke sekolah, aku mengantarnya memakai motor.
Walau selalu merengek minta di belikan sepeda, tapi aku takut membelikannya. Karna jalanan sangat ramai.
__ADS_1
Bersambung.
.