
Mama Arul sudah datang dari pasar, dan memberikan kami kue. kesukaan kami
Yakni kue khas orang Bugis. yang namanya Bandang Lojo. Kue yang terbuat dari pisang dan di selimuti ubi yang sudah di parut dan di kukus, kemudian di taburi kelapa muda yang sudah di parut.
Seperti biasa aku pun dan Arul, langsung memakannya, Dan seperti biasanya, akupun merengek meminta Arul menyuapiku, kue yang sudah di gigitnya, aku sangat suka makan sisa dari mulut Arul.
Seperti biasa Arul akan menolak dan kesal jika aku meminta sisa makanannya.
Di balik sifat keras, cuek dan egois ku. Aku adalah manusia paling bucin, suka bermanja bahkan merengek seperti anak balita jika Arul tidak mengikuti permintaanku.
Walau terkadang dia menolak aku, tapi Arul sangat baik, dia tak mampu mendengar terlalu lama rengekan ku.
"Kenapa sih, kamu suka sekali meminta makanan ku, sedangkan ada juga banyak di depan mu."
Menatap jengah.
"Aaaaaaa...Arul...suaaaapp...!!"
Aku pun membuat mulutku menganga, dan mendekati wajahnya, yang langsung di tower seperti biasanya oleh Arul.
"Makan saja kue kamu, diapun langsung sengaja meludahi sedikit makanannya. Dan itu sudah kebiasaan dia, jika sedang menolak ku.
Dan seperti biasanya lagi, aku tak peduli dan tetap merengek dan melebarkan mulutku, menunggu suapannya.
"Aaaaaaa.....suaaaap....Aruuull...suaaap....
Aaaahhh...!!!!"
Nadaku mulai nyaring dan menghentak kaki ku.
Arul pun seperti biasa langsung memasukkan sisa makanan yang sudah di makannya, ke dalam mulutku. Dan akupun sangat senang hati, langsung memakannya, menggigitnya serta memberikan senyuman ku yang paling manis kepadanya, walaupun dia balas dengan tatapan jengah nya seperti biasa.
__ADS_1
Mama Arul hanya tersenyum dan geleng kepala seperti biasanya.
Selama makan, aku selalu menyuruh Arul menyuapi kue yang sudah di makannya. Tatapannya selalu kesal, dan jengah setiap menyuapiku.
Sesudah makan, Akupun dan Arul menonton TV bersama dengan tidur satu bantal, Seperti biasanya kami pun bertengkar lagi, Karna aku mau channel yang lain.
"Ini rumahku, dan ini TV ku, pulang sana kerumah kamu."
Akupun langsung memeluknya dan sengaja ingin menggenggam barang pribadinya. tanganku sedikit lagi akan menyentuh area pribadinya. Terpaksa diapun memberi remot nya.
Arul bangun berlari seperti biasanya, mau masuk ke kamarnya tidur. Dan akupun buru - buru mengejarnya, jadilah aksi saling dorong mendorong pintu kamar, seperti biasanya, Arul di dalam kamar dan aku di luar kamar, kami saling mendorong, Dan selalu aku bisa mengalahkannya.
Aku benar - benar tak bisa tidur jika tidak di dekatnya. Akhirnya dengan wajah malas, diapun berjalan ke kasurnya, langsung memeluk guling.
Akupun di belakangnya juga memeluknya sebagai gulingku, dan akhirnya kamipun tertidur siang.
Flashback Amira.
Saat ini adikku Surya berada di daerahnya, sementara mencoba peruntungan, untuk kedua kalinya, tapi aku tidak begitu srek dengan tim mitranya jadi aku pulang.
Suara Pak Yayat terdengar di seberang sana.
Pak Yayat.
"Halo...ibu Amira..Mengapa kita pulang,? sudah banyak masyarakat salah faham, kalau ibu Amira bukan yang mengolah. Bahkan mau naik mengusir tim mitra ibu Amira."
Tim Mitra adikku sedang mencari sampel tanah untuk usaha pertambangan yang akan di rintis adikku, kerjasama dengan Mitra yang baru lagi.
Amira
"Pak Yayat, jika ada masyarakat menanyakan aku, kita bilang saja, di hatimu...."
__ADS_1
Seperti biasa aku mulai bucin, karna itulah sifatku yang selalu di rindukan Tim Solidku, Yakni sangat bucin, tapi cerewet dan rewel bahkan manja. Tapi jika aku sudah marah, mereka pun langsung jinak dan mendengarkan omelanku.
Pak Yayat
"Hahaha...hahaha...jangan lama - lama yah. kami sudah rindu cerewet bunda."
Amira
"Sama - sama akupun sangat rindu kalian."
Pak Yayat
"Okelah Bu Amira, Assalamu Alaikum Wr.Wb."
"Wa Alaikum salam Wr Wb."
Akupun menutup Ponsel ku, mulai membersihkan rumahku.
Waktu terus bergulir. Anakku Patih sudah pulang, dan pergi lagi bermain.
Menjelang magrib, Patih anakku datang lagi.
Untuk berwudhu dan pergi ke Mesjid shalat magrib. Karna rumahku dan Mesjid jaraknya, tidak begitu jauh.
Tak berselang lama Suamiku, sudah datang dari tempat kerjanya.
Seperti biasanya akupun memanyungkan bibirku agar dia mengecupnya. Bahkan selalu menyuruhnya mengulanginya, dan dia adalah kambing congek ku. Akan selalu turut perintahku.
Tapi selama 20 tahun pernikahan tidak pernah dia nyosor duluan, akulah yang selalu memintanya. Walau dia ikhlas memberikannya, tapi tetap nanti aku yang minta. Sungguh miris nasibmu Amira yang bucin, mendapatkan Suami yang cuek tapi sangat setia.
Bersambung
__ADS_1