
Hari berganti hari, Minggu berganti dengan Minggu dan satu bulan telah berlalu.
Sudah cukup 3 bulan sejak kemarahan sahabat mudaku Imram.
Sore itu aku coba mengirim WA kepada nak Imram untuk meminta maaf kembali, kata - kataku aku akui sangat menjatuhkan harga diriku, yang begitu mahal jika dengan orang lain, tapi anak yang masih sangat belia ini, terlanjur aku sayangi dan membuatku menjadi wanita cerdas menjadi bodoh dan memalukan.
Akupun sendiri sangat ilfil dengan kata - kataku, tapi biarlah aku adalah orang yang jujur dan terbuka, dan aku tahu dan
memiliki insting dan jawaban Imram di dalam hatiku, kalau dia tdk akan kasian padaku, malah akan tambah muak denganku, dan sangat ilfil.
Tapi aku tak peduli, terserah dia menilai apa tentang aku, bagiku terlanjur basah, kenapa tidak berenang sekalian, dan terlanjur berenang apa salah nya sekalian menyelam juga, walau hampir kehabisan nafas.akan selalu aku coba. setidaknya dia mau balas chatku.
__ADS_1
Walau kata - katanya akan lebih menyakitkan aku tak mau ambil peduli, dia adalah malaikat penolongku, sahabat terbaik setelah Arul, walau saat ini, dia kecewa, tapi bagiku dia adalah berlian, perhiasan yang sangat berharga, yang harus aku jaga walau dia tidak peduli lagi padaku, aku sungguh tidak mau memikirkannya.
Dia adalah dia, aku hargai keputusannya, dan aku adalah aku yang sangat sayang dan menghargai dia sebagai sahabat terbaik, walau kadang aku selalu menangis dan mengeluh.
Memangnya siapa dia, ? Mengapa dia begitu menyakiti ku, ? Apa pentingnya dia bagiku, dia hanya anak kecil yang sangat pemarah dan pendendam, tapi sayang ini hanya kata di mulut saja, hatiku sudah terlanjur sangat menyayanginya seperti Arul bagiku,
Apapun yang dia pikirkan tentangku, aku tak mau ambil peduli lagi, hatiku sudah terlanjur menyayanginya, biarlah tetap seperti itu.
Saat ini aku seperti seorang pujangga wanita yang berprinsip hidup.
Tetap mengasihi walaupun diabaikan, itulah kesetiaan.
__ADS_1
Tetap menyayangi walau di sakiti, itulah ketulusan.
Tapi prinsip ini bukan untuk kekasih pujaan hati, tapi untuk sahabat muda ku yang sangat baik, imut, smart, manja, dan menggemaskan. Aku sungguh merindukan sapaan manjanya seperti anak bungsu, adik bungsu yang manja. Dan sahabat muda yang manja dan smart.
Tapi kata anak angkat inilah yang membuatnya marah dan tak mau di miliki siapapun. Yang membuatnya marah dan jaga jarak denganku. Walau hanya salah faham tapi dia sudah meyakini sesuatu dan akhirnya kecewa denganku, aku akhirnya kehilangan dia untuk kedua kalinya, setelah kehilangan Arul.
Imram sangat menggemaskan dan sangat mahal, dan berprinsip teguh. Walau aku tak ambisi memilikinya, aku hanya menyayangi dia sebagai teman dan sahabat muda yang baik, dan cara bicara dan gaya dia bicara sangat mirip Arul, sewaktu kami masih sangat muda.
Kami sangat kompak walau sering bertengkar tapi cepat berbaikan ulang, Karna aku takkan berhenti merayu Arul, sampai dia memaafkan ku.
Apalagi sahabat mudaku Imram hanya salah faham, dan aku orangnya sangat demokratis hanya humoris ini yang aku sesali mengapa aku memiliki jiwa ini.
__ADS_1
Andai kami bisa benar - benar bisa bersahabat, kami pasti akan selalu tersenyum dan tertawa, karna kami itu nyambung lucunya, nyambung bucinnya, nyambung supportnya, nyambung kompaknya dan nyambung kosakatanya, juga saling peduli satu sama lain.
Bersambung