
Satu Minggu itu, adikku Surya tak bisa tidur nyenyak dan dia membawa kerumah adikku yang kedua, adik Perempuanku yang ahli menangkap ikan dan ular, sewaktu kami masih kecil.
Adikku mau membawa kerumahku, tapi aku tak ada waktu itu, aku juga jual alat bangunan di kota yang berbeda dengan adikku Nia yang juga jual alat bangunan, dan memiliki pabrik gilingan padi yang terbesar di kota itu.
Adikku sempat bercerita dengan adikku Nia tentang khasiat cincin itu. Diapun cerita dengan Suaminya dan Suaminya tertarik memilikinya.
Adikku menyimpannya dalam lemari, tapi cincin itu tiba - tiba hilang, berapa kali mencarinya sampai puluhan kali tak menemukannya.
Aku juga tak tahu tiba - tiba kepo dengan cincin itu, dan meminta nya pada Surya.
Surya menjelaskan kalau dia titip pada adikku kedua ku.
Aku menelpon adikku, katanya cincinnya hilang, dan entah kenapa aku berkata. Coba cari ulang, hilangkan niatmu memilikinya, dan kembalikan padaku.
Adikku menurutinya, pas dia membuka lemari itu. Cincin itu sudah ada di dalam lemari tampa dia mencari, diapun heran tapi tetap mengembalikannya kepadaku, dan sampai sekarang cincin itu aku simpan.
Akupun diam dan membeli minyak urut bapak itu, dan berlalu pergi, tapi sebelumya sangat berterima kasih.
Baru melangkah beberapa saat, setelah aku di depan penjual campuran. Ponselku berbunyi, tertera nama adikku Surya.
Akupun mengangkatnya.
"Kak besok harus kita kemari, membantuku untuk berbicara dengan pak dewan yang akan mengurus pengurusan ku di sini, dan membawakan dia uang Dua Ratus Juta, untuk mengurus ijinku."
Adikku Surya mengirimkan aku uang, tampa bertanya apa aku mau atau tidak.
Anakku Patih masih sekolah di taman kanak - kanak, akupun ijin di gurunya membawanya bersamaku.
Suami ku pribadi yang tak pernah menekan ku, aku mau kemana dia tak pernah rewel dan hanya berkata
"Terserah kamu saja."
__ADS_1
Aku memang seorang ibu rumah tangga saat ini, tapi aku memiliki pengalaman kerja sebagai manajer pamanku dan mengelola usaha Expedisinya dan IUP kayunya selama tujuh tahun, dan aku juga semasa sekolah dan kuliah berotak jenius dan cerdas. Dan ada pengalaman buka toko bahan bangunan selama lima tahun, walau harus kandas karna banyak proyek gagal.
Suamiku sudah menjadi karyawan selama delapan tahun, di perusahaan tambang di daerah yang aku tempati saat ini.
Keesokan paginya aku naik mobil sewa ke daerah tempat adikku Surya, hampir seribu kilo. Dari pagi sampai jam 8 pagi lagi, keesokan harinya, saking jauhnya.
Patih anakku, Alhamdulillah tak rewel, yang penting mau jajan apa saja aku belikan.
Aku sampai ke tempat adikku Surya, aku hanya istirahat sebentar, baru aku ke rumah pak dewan yang sangat di hormati di kecamatan itu.
Kamipun kesana dengan mobil pribadi adikku, sesampai disana aku di sambut ramah oleh pak dewan itu.
Amira sangat jenius, dan sangat pandai membaca karekter sifat seseorang walau hanya melihat wajah seseorang, entahlah itu adalah bakatnya dari dulu. Memiliki insting yang sangat kuat.
Amira adalah sosok yang sangat pandai menyusun kata - kata, sewaktu sekolah, jika ada debat di kelompok pelajaran PPKN tak ada yang bisa mengalahkannya beradu argument.
Kuliah Pun dia penulis novel, dan cerpen di sebuah tabloid remaja pada waktu itu.
Pak Dewan mulai menjelaskan kalau tidak sembarang bisa mengurus di kota provinsinya,, harus ada koneksi kuat orang dalam, dan dia mengenal semuanya bahkan pak bupati, dan pak gubernur sudah menganggapnya anak angkat.
Dia banyak berbicara dan Amira adalah otak jenius dan cepat menerka kalau ada yang tak beres dengan pak Dewan itu, Amira merasa dia tak pantas di tunjuk mengurus ijin. Adiknya Surya selalu mengangguk hormat Karna dia adalah pribadi yang sangat rendah hati, tapi sangat keras kepala.
Jawaban Amira tak sesuai dengan keinginan pak dewan, dan membuat Pak Dewan itu shock, Karna dia sudah berharap seratus persen yang dipercaya mengelola ijin. Tapi mimik wajahku meragukan dia mengurus.
Setelah dia menjelaskan panjang lebar, harus ketemu satu - satu Kep. Dinas dan tentunya kita harus mengerti uang amplop trima kasih.
Argument itu sudah tak masuk di akal orang yang berotak jenius seperti Amira.
Amira memancing.
"Jika saya memberi bapak uang muka dua ratus juta, apakah uang itu cukup."
__ADS_1
Pak Dewan berkata.
"Ibu Amira mengurus ijin begini butuh milyaran biaya nya, paling murah dua milyar."
Amira sudah tertawa dalam hati, dia sengaja memancing, agar adiknya Surya juga tak mempercayai Dewan itu, Karna adiknya Surya gampang mempercayai seseorang, tapi kalau keluarga jangan harap kalau bukan keinginannya.
Amira memancing kembali.
"Jika saya memberi anda uang dua ratus juta, apa bisa saya minta kwitansi yang kita tanda tangan, Karna saya adalah manajer keuangan. Setidaknya ini adalah bukti pengeluaran saya."
Pak Dewan berkata, yang alasannya tambah membuat Amira semakin tertawa dalam hati.
"Uang ini saya pakai membayar uang tip untuk kepala dinas, tidak mungkin mereka mau tanda tangan ibu Amira."
Pak Dewan sudah memperlihatkan mimik wajah tak menyukai Amira. Dia depresi karna uang itu semakin tipis kemungkinan dia menerima.
Adiknya harus tahu, kalau di depannya ini adalah orang yang tak bisa di percaya, dan tidak bertanggung jawab. Dengan melakukan tanya jawab
Adiknya Surya akan faham jika pak Dewan itu mau mengambil uang, tapi tak mau tanda tangan.
Amira langsung memberi argument yang akan menghancurkan harapan pak Dewan itu dalam mengurus ijin.
Amira adalah penulis, dia bisa berbicara seperti sebuah seni yang terasa elok kata - katanya, sangat membingungkan lawan dan langsung memberi jurus mematikan di akhirnya, yang akan menghancurkan semua harapan siapapun yang tak sesuai keinginan Amira, yang berotak jenius dan memiliki feeling dan insting di atas rata - rata orang biasa.
"Maaf Pak Dewan, Ibarat kita adalah serdadu di medan perang, kita berdua sedang memegang senapan, Dan pada saat itu kita berdua sibuk menembak lawan yang ada di depan kita."
Pak Dewan makin kebingungan dan adikku Surya juga sudah berwajah pucat, dia tahu kakaknya akan membuat masalah besar kepadanya, dengan menentang dewan yang sangat di hormati masyarakat di kecamatan itu, sedangkan tempat itu, sudah banyak pengeluarannya dengan mitranya. dan masyarakat sudah mendukungnya, dengan menentang pak dewan maka hancurlah harapan nya membangun perusahaan.
Mana sudah beli alat berat eksavator bahkan langsung tunai, barang sudah ada di lokasi, pekerja siap pakai, dan alat - alat juga sudah dia beli semuanya. Anggaran milyar sudah keluar.
Tapi Amira adalah orang yang lebih baik mundur, daripada pengeluaran makin membengkak, dan usaha itu pun akan gagal Karna di mulai dengan ketidak jujuran, yang menentang prinsip hidupnya yang selalu di jalan yang lurus.
__ADS_1
Bersambung