
Akupun turun dari lantai dua, memandikannya dan memakaikan dia pakaian kemeja Koko untuk pergi mengaji.
Anakku Patih sangat tampan dan imut tak seperti perangainya yang sangat keras kepala, dan jika dia minta sesuatu harus di turuti, dan tidak mau menerima nasehat, dan selalu membuatku marah dan bertengkar dengannya, dan selalu bisa membuat suamiku selalu marah, dan membela nya bahkan ingin cerai denganku.
Anakku Patih sangat imut tapi berwatak keras.
Suamiku terlalu menyayangi dia, walau sudah sangat kurang ajar denganku. Jika bertengkar denganku, anak itu menyumpahi ku masuk neraka, mengatakan aku iblis, setan bahkan menyuruh ayahnya kawin lagi, dan bahkan menyuruh Ayahnya membunuhku.
Aku sangat stres dan terkadang ingin memberinya pelajaran, dengan mencubitnya tapi Suamiku selalu membelanya, dan bahkan mengatakan di depan anaknya kalau akulah yang bodoh dan tidak tahu urus anak.
Bahkan anak ku dengan bangganya menghambur barang, dan memakai sandal kotor berjalan masuk dirumah, dan memandangku dengan sinis, dan suamiku hanya diam tidak membelaku, akupun hanya bisa menangis, dan bahkan terkadang tidak mengajak bicara anakku walau dia menegurku.
Aku sangat depresi selalu saja ada pertengkaran walau hanya masalah sepele. Suamiku sudah kebiasaan marah, Memaki, dan membentak, biar banyak orang padahal hanya masalah sepele.
Bahkan aku tanya anak sulung ku, Aryan kalau aku mau pisah dengan bapaknya, di jawab ringkas anakku Aryan.
__ADS_1
"Terserah saja mama."
Aku tahu anakku baru semester satu, kuliahnya di kampus yang mata pelajarannya dia tidak sukai, jadi diapun banyak masalah.
Aku hanya punya anak baik yang rasa sahabat Imram yang selalu memberiku kata - kata yang menenangkan hatiku, dan support yang begitu berarti dalam hidupku, yang membuatku kuat dan selalu bertahan walau tak sanggup lagi bertahan.
Sahabat mudaku pun sangat baik hatinya, bahkan membantu anakku mengerjakan tugasnya, dan membantuku mencari emoji penyemangat untuk anakku Aryan, yang membuat anakku Aryan bangkit dari putus asanya, yang sudah menyesal kuliah bahkan ingin berhenti.
Anakku Imran yang rasa sahabat bagiku, benar - benar malaikat penolong yang di kirimkan yang Maha Kuasa kepadaku untuk membantuku. Di saat aku merindukan Arul sahabat terbaikku, Yang Maha Kuasa menggantinya dengan anak yang sangat baik hati ini, walau saat ini dia memberikan aku kesedihan yang luar biasa dan hampir membuatku lebih hancur lagi, karna aku menganggap diriku tidak patut bahagia dan harus selalu menderita, sangat jahat dan buta hati Karna telah menyakiti malaikat baikku ini, dan sekarang membenciku walau ini hanya kesalah fahaman.
Tapi semua sudah terlambat dia sudah sangat membenci ku, dan tidak mau tahu tentang masalahku lagi, dan menyuruh ku menyesuaikan diri dengannya, dan mencari Ridho Allah saja. Aku sangat sedih karna dia menyesal mengenalku, padahal dia sangat berjasa bagiku, tampa nya mungkin aku sudah menghancurkan kehidupanku sendiri.
Aku mencoba ikhlas melepasnya dan menganggap diriku memang tak pantas bahagia, dan melihat mereka bahagia karna meninggalkanku itu sudah cukup bagiku, biarlah aku selalu akan hidup seperti ini, dan tetap berharap suatu hari nanti akupun bisa bahagia seperti mereka yang sangat ku sayangi, walau bukan cinta kekasih tetapi mereka sangatlah ku sayangi, Karna bagiku Imram dan Arul adalah sahabat sejati dan terbaik di dalam hidupku, walau saat ini mereka membenciku, tapi aku sungguh sangat tulus sayang mereka.
Mengenal mereka adalah kenangan terindah dalam hidupku. Walau jauh di dalam hatiku, aku berdoa suatu hari nanti mereka akan memaafkan ku dan mau menjadi sahabat ku kembali.
__ADS_1
Setelah berpakaian anakku Patih pergi mengaji.
Dibalik sifatnya yang berwatak keras dan pembangkang. Anakku Patih adalah anak yang rajin ke sekolah, rajin mengaji dan berwatak cerdas. Memilki tulisan yang bagus dan sangat pintar matematika padahal aku belum mengajar menulis, dan menghitung dia sudah tahu.
Saat ini anak kedua ku, Patih sudah kelas
1 (satu) SD. ( Sekolah Dasar ) Yang tidak jauh dari rumah juga tempat mengajinya.
Aku pribadi disiplin mendidik anak ku jika masih kecil, aku tidak mau begitu akrab dan jika ada yang aku tidak suka akupun berusaha
memberitahunya, bahkan melawannya. Karna anak yang masih kecil adalah kertas kosong, jika kita salah menulis maka diapun akan tumbuh menjadi anak yang egois, dan tega karna tidak pernah mendengar kata - kata tidak bisa, dan akan membentuk wataknya menjadi egois dan tidak mau mengalah,
Berbanding terbalik dengan cara Suamiku mendidiknya, dia selalu membelanya, dan sangat memanjakannya.
Bersambung
__ADS_1