Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab 60. Pak Surya Yang Bintang Leo.


__ADS_3

Pak Rahman dan Istrinya juga saudara iparnya datang menjenguknya.


Walau kesal dengan menantu bandelnya ini, yang juga ada garis keturunan dengannya, tapi jika sudah sakit dia hanya bisa mendoakan kesembuhannya.


Pak Rahman sangat menyayangi menantunya, hanya mengajarkan kedisiplinan saja, agar jadi orang menghargai apa yang di depan mata saja, untuk apa mencari yang jauh di mata tapi tak ada kepastian,


Tapi ini Pak Surya menantu mu Ambo, yang berhati baja, bermental besi tak akan mundur walau apapun penghalangnya, lihat saja nanti jika dia sembuh.


Pak Surya yang bintang Leo ini akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan. Sungguh semangat teguh tapi sungguh menyebalkan bagi keluarga yang mencintainya."


Keluarga tampak sangat akrab berbincang, sedangkan Amira sudah kewalahan merayu Pamannya yang raja ngambek.


Pernah pamannya berkata..


"Itu Amira, kalau kalian mau tahu bandelnya dia, barusan ada satu keluargaku yang berani mengatakan bahwa aku egois, anak itu sungguh lancang berkata begitu. Saudaraku saja tak ada berani mengatakan itu padaku bahkan saudara istriku, yakni Paman dan tantenya sendiri, bahkan Ayahnya juga tak pernah berani katakan itu padaku, ini anak kemarin sore berani membentak ku dan mengatakan aku egois."


Begitulah deskripsi kemarahannya, dan tentu saja itu sudah ada dipikirannya, saat ini yang menambah amarah di hatinya saat ini.


"Pokoknya paman tak mau tahu, urus adikmu jangan kamu panggil lagi saya."


"Paman please....berikan saya waktu satu hari paman, pokoknya besok paman terserah mau bawa Surya kemana saja."


Memegang lengan pamannya lagi, tapi ditepis lagi.


"Apa kamu tahu paman sangat sibuk mengurus semuanya, sudah telpon di sana, sudah pesan tempat, dan kita sudah di siapkan tempat, kenapa tadi kamu sudah setuju ? kenapa kamu kacau kan anak bandel.?.


"Maaf paman, takutnya obat itu tak ada paman, intinya obatnya di ganti paman, jika kita pindahkan Paman takutnya adikku jadi kelinci percobaan ulang Paman.


Kasian adikku, ambil darah lagi dan di tusuk sana sini, dia sudah bisik saya Paman, adikku mau pulang kerumah dia sudah ampun dengan jarum suntik paman, ini permintaan dia Paman, tolonglah paman jangan marah lagi yah, ...please."

__ADS_1


Mencoba memegang lengan Pamannya lagi dan memeluknya dan tersenyum manis, walau Amira sudah tak muda, tapi jika tersenyum dia sungguh sangat manis.


Pamannya sudah sedikit melunak, walau masih cemberut. Keponakan istrinya ini memang sangat cerdas dan licik, dia tahu Amira itu hanya merayunya dan tak akan membiarkan adiknya aku rawat di rumah sakit lain, tapi enak saja aku khan mau agar adiknya di beri perawatan yang lebih baik, aku akan mencoba membawa masuk Surya ke Rumah sakit swasta yang mahal itu, agar perawatannya juga lebih bagus. Biarlah aku mengalah tapi besok jangan harap aku mengalah."


Pikiran Pamannya sedang merencanakan rencana tahap B. Dan apa kamu tahu Paman Amira yang baik hati, Keponakan Istrimu itu lebih licik dan lebih cerdas, daripada apa yang kamu bayangkan, dengarlah kata hatinya saat ini.


"Akhirnya kena tipu lagi anda Pamanku yang baik, apa Paman pikir ? aku akan membiarkan besok Surya masuk ke rumah sakit lain Paman, tidak lah Paman, aku akan membawa pulang Surya ke rumah, lebih baik aku rawat dengan dokter praktek dan ramuan tradisional.


Semoga obat itu cocok dan jika hari ini turun demamnya Surya Paman, aku akan bawa kabur pulang, dan pikirkan lagi rencana cantik untuk menggagalkan niat mu Paman, jika sudah ada kemauan Amira. Tak akan ada yang bisa menantangnya. Berapa saja keras kepalanya Surya, saya paman, perkenalkan Pamanku yang baik Aku adalah neneknya keras kepala. Apalagi merusak kenyamanan adikku Paman, nyawa pun kecil bagiku Paman."


Kedua otak jenius itu saling komentar dalam dunia halu.


Mereka berdua pun tersenyum dengan rencana tahap B mereka.


Melihat Pamannya melunak, Amira pun menarik pamannya sambil bercerita.


"Paman....itu Pak Dokter masih tulis resep, sekarang misi kita usahakan obatnya harus di suntikkan pada Surya pagi ini."


Pamanku berkata


"Usahakan obatnya di suntikkan pagi ini Dokter, kasian keponakan saya."


"Iya Pak, saya sementara meresep kan."


"Saya tak akan tinggalkan tempat ini jika obatnya tidak di suntikkan dokter."


Amira tertawa dalam hati.


"Ini baru pamanku, tegas pada tempatnya."

__ADS_1


Kamipun di ajak makan oleh Ibu Aliyah yang tajir dan melintir itu. Walau selalu merendah kalau kekayaannya, tak ada apa - apanya dari kekayaan Pamanku. Entahlah hanya mereka yang tahu. Masalah harta Amira orang nya cuek dan tidak kepo. Baginya sebanyak apapun hartamu, tak akan kamu bawa mati, hanya amal kebaikan lah yang menjadi bekalmu di akhirat


Pamanku tak mau pergi, dia berdiri seperti satpam, menjaga di depan meja panjang perawat yang duduk di seberangnya.


Perawat itu belum sadar kalau yang berdiri di depanmu itu adalah Singa Jantan, siap - siap saja kalian di bentaknya jika tak sesuai harapannya.


Amira pun dan adiknya Ana dan Nia dan tantenya yakni istri Pamannya, keluar makan di restoran yang terkenal di propensi itu.


Pak Rahman dan Istrinya tak mau ikut, dan Istri Pamanku yang tajir melintir itu pun dan dua keluargaku yang tajir juga, mohon pamit pulang.dulu. Serta Adik sepupuku dan istrinya.


"Walau Adik sepupuku anak orang kaya, mereka tetap sopan mencium punggung tangan aku, dan adikku serta keluarga yang lain. Karna tata krama sangat di junjung tinggi di keluargaku, bahwa yang usia muda hormat pada keluarga yang lebih tua, walau dia gembel seperti aku wkwkkwk."


Kamipun akhirnya keluar makan, di sebuah restoran yang bernuansa pantai, karna memang restorannya pinggir laut.


Hidangan nusantara tersedia di sini. Restoran yang sangat luas yang memiliki pelayan puluhan orang.


Selesai makan, ibu Aliyah membayar kwitansi sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah.


Bagi ibu Aliyah itu hanyalah uang kecil.


Kamipun kembali ke Rumah sakit, Ibu Aliyah sangat baik mau membantu pengobatan dokter praktek Surya. Walau mertua Pak Surya juga punya banyak uang.


Tapi Pak Rahman bukan orang yang suka menikmati uangnya, dia adalah sosok yang hanya menambah hartanya dan pantang baginya menjual. Pak Surya sampai pusing lihat sertifikat tanah mertuanya, yang penuh satu lemari saking banyaknya.


Jika ada hasil dari tanahnya, dia hanya beli tanah lagi, begitu lah seterusnya.


Tapi jika menolong orang dia tak segan membantu orang.


Sepertinya Jiwa Amira yang penolong di miliki juga Mertua Pak Surya. Hanya bedanya Amira memanjakan anaknya, dan membiarkan menjadi apa saja.

__ADS_1


Amira tak pernah menolak jika anaknya minta uang, jika ada Amira pasti memberikannya. Syukurlah anaknya Aryan berjiwa positif, dan Fatih hanyalah jajan snack, dan mainan yang sesuai kemampuan orang tuanya.


Bersambung.


__ADS_2