Imram Dan Arul Serta Tim Solidku

Imram Dan Arul Serta Tim Solidku
Bab. Ambo...Aku Ingin Berhenti Menjual Alat Bangunan.


__ADS_3

Perjalanan Amira ke puncak gunung Weyim, benar - benar tak masuk logika. Betisnya tak pernah lelah bahkan hatinya begitu happy dan sangat senang dengan perjalanan itu.


Amira selalu singgah duduk menikmati pemandangan, seolah di pandangan mata tim Amira, ibu cantik itu kelelahan, padahal Amira sungguh sangat menikmati setiap moment pemandangan yang begitu indah.


Deskripsi hatinya mulai berkicau.


"bukit yang indah. pepohonan yang indah, sungai yang bersih, burung - burung yang beterbangan bahkan rumput ilalang dan semak belukar pun, serta dinding gunung. Mengapa di mataku anda begitu sangat indah ?"


Sungguh perjalanan yang sangat menyenangkan baginya. Yang mungkin saja penduduk desa di bawah sana, berharap menunggu dia menyerah dan pulang.


Beginilah kira - kira deskripsi hati warga yang melihat kepergiannya.


"*Alamak ibu dari kota, mau sok kuat menempuh perjalanan yang sangat melelahkan itu, Apa sekarang nggak nangis - nangis tuh, ?


Apakah badan nya tak encok tuh, kaki kram tuh, atau sesak nafas serta mata berkunang - kunang.


Kasian banget tuh ibu yang cantik itu*."


Tapi tunggu dulu besti, sayangnya sungguh di luar dugaan, wahai kalian warga yang ramah dan baik hati, orangnya sangat happy dan bahagia kok. Bahkan rasanya Amira mau buat video klip India yang berlarian kesana kemari, dengan pemandangan yang indah itu, di sertai tim Solidnya sebagai penarinya. Membayangkan nya membuat hati ngakak lah, orang yang biasa kerja keras di suruh menari, pasti sangat kaku dan kacau besti, hancur dan kacau sudahlah pemandangan yang indah ini.


Amira tak mau Adiknya Surya yang di sampingnya. Amira didampingi Pak Nanda dan pak Suryan.


Jika mereka pasti sangat mengerti kalau Amira selalu singgah, wajarlah karna di pikirnya, ini.


"Ini wanita bro, tak pernah jalan kaki sejauh ini, masuk hutan lagi."


Jadi mereka begitu menyayangi dan lemah lembut dalam bertutur kata.


"Ibu Amira lelah yah, duduk dulu kasian lho kakinya nanti pegal."


Kata Pak Nanda.


"Ibu Amira semangat yah, kita pelan saja jalannya, yang penting kita selamat."


Kata Pak Yusran.


Betapa baiknya mereka, padahal Amira hanya menikmati setiap moment pemandangan indah yang dia lewati.


Pak Nanda lah yang sering Amira pegang tangannya, jika mendapat jalanan yang terjal, licin atau penurunan dan pendakian.


Karna statusnya Duda jadi tak akan ada yang marah.


Pak Nanda sudah tak muda lagi, tapi garis ketampanan nya sewaktu muda masih tergambar, usianya mungkin sudah di atas empat puluhan. Hidup yang keras membuatnya lebih menua dari umurnya, tapi sungguh kelihatannya dia pria sabar dan wajahnya seperti indo Arab. hidung tinggi, Alis tebal dan mata bulat seperti orang Arab tapi terlihat teduh dg bola mata kecoklatan. waktu muda dia pasti sosok yang tampan.


Jika Pak Yusran jika mau menyeberangi sungai kedua pria kekar itu, akan mengapit kedua lengan Ibu Amira menyebrangi arus air yang kencang, sebatas pinggang bahkan dada.


Pak Yusran terlihat kurus dan badannya juga tak terlalu tinggi, sama dengan pak Nanda tapi ada yang lucu di wajahnya. Suka sekali ketawa tapi gigi depannya sudah ompong semua, tapi umurnya tak jauh beda dengan pak Nanda. Sepertinya dia akan menjadi Tim Solid ku, seperti Pak Uya yang kocak dan jenaka.

__ADS_1


Adikku Surya sudah tak terlihat, begitulah dia tak suka orang lambat, dia berjalan seperti orang terbang. Masyarakat selalu heran dengannya. mendaki gunung, dengan langkah yang lebar tapi tak ngos - ngosan, eeh malah sambil merok*k lagi. Sungguh pernafasan dan fisik yang kuat, Itulah adikku.


Pernah salah satu warga di Gunung Peyi, sangat kaget di buatnya, sampai melongo dengan bibir terbuka, Yakni Pak Uya Tim Solidku yang kocak dan sangat kami sayangi, seperti Abang kandung sendiri.


Waktu itu Adikku Surya mau naik di gunung Peyi. Tak ada mau antar karna dia baru datang, yah wajarlah lah bro.


"Pertama Elo siapa, datang - datang mau lihat lokasi berharga kami.


Kedua Tak ada hujan, tak ada badai, Tiba - tiba nongol, tak kenal tapi sok akrab.


Ketiga minta di antar, Hai....manusia tampan, Apakah kamu tak tahu gunung kami itu ?.


Apalagi gunung Peyi. Mari sini aku perkenalkan tentang sosok nya.


Memang hanya jarak belasan kilo, tapi gunung Peyi itu, gunung yang ke empat.


Ada tiga gunung yang akan anda daki, yakni pertama adalah gunung pertama, iya sih, masih bukit kecil, tapi tunggu dulu, Aku perkenalkan Gunung ke dua bro, Gunung itu adalah bukit yang cukup tinggi, dan semua orang hanya bertahan di sana.


Jika pendatang yang mencoba selama ini kesana, yang kepo juga datang lihat lokasi tersebut kawanku yang tampan, tapi pulang deh, karna muncul penyakit kronis seperti encok, asam urat, sesak nafas, mata berkunang - kunang dan akhirnya naik bendera minta pulang.


Tunggu dulu bro saya tarik nafas dulu,"


Pak Uya mulai berceramah kembali dalam hati.


"Okey lanjut cerita di gunung ketiga ini, wahai Pria tampan, dan rupawan, Anda mendaki gunung ketiga ini.


Apakah anda tahu ?


Karna anda sudah lebih banyak pakai tangan mendaki, daripada kaki.


Jadi maaf bro pokoknya sebelas dua belas lah dengan monyet lah, kita kalau lagi berjalan di gunung ketiga.


Terus bro, Apakah kamu tahu gunung ke empat itu bro ?


Warga di sini saja, yang hari - hari naik gunung, betis sudah terlatih dan berotot Karna dari kecil kami hidup disini. Tak bisa tembus gunung ke empat bro, pasti bermalam dulu baru besok nya lanjut naik.


Belum lagi kamu ini sangat tampan, bagaimana kalau hilang di culik wanita cantik penghuni alam gaib, ?


Karna penjaganya itu banyak wanita cantik. Aduuuuh...Manusia tampan lebih baik pulang saja di kerajaan kamu."


Begitulah deskripsi Pak Uya yang kocak , Tim solidku di gunung Wiyim sebelum mengenal kami. Bahwa adikku datang pertama kali di sana mau survey lokasi nya. Karna kandas lagi modal hasil, jual jonder dan Loder mertuanya.


Dan apa anda tahu, Pak Uya ku tersayang, yang baik hati dan jenaka. Mari sini aku perkenalkan adikku ini bapak Surya.


Sekarang kita sama - sama halu deh, menjelaskan dalam dunia halu, tapi cerita kita nyata.


Pak Surya adalah menantu seorang Tuan tanah, di kabupaten Surah. Saya perkenalkan dulu sapi mertuanya. ehem...., Sapi mertuanya itu, kurang lebih 600 ekor, dengan lahan gembala kurang lebih 200 hektar, dan Pak Surya biasa ikut pengembala mertuanya jaga sapi itu, jadi otot kaki sudah masuk seleksi kuat.

__ADS_1


Terus aku perkenalkan sawah mertuanya. Sawah mertuanya ada kurang lebih lima puluh hektar, Pak Surya waktu ospek militer jadi menantu. Tangan dan kaki yang biasa di dalam rumah tehel, dan tawuran dan suka makan bakso dan pangsit itu yang suka traktir teman, yang ngamuk kalau uang jajannya tidak seratus ribu.


Harus mencangkul dan tanam padi, sampai kakinya bernanah semua, untunglah Istrinya PNS Bidan, dan berapa kali kabur, tapi kembali ulang Karna di usir kembali sama mama ku tercinta, dan ancam mau mencoret namanya dari daftar keluarga. Mana kabur tak bawa uang, istri ancam mau bunuh diri, terpaksa balik lagi.


Terus aku perkenalkan kebun kelapa mertuanya dan kebun kosong mertuanya itu, ada lebih seratus hektar. dan Empang ikannya ada lima hektar berisi ikan tawar, hanya untuk menjamu tamu saja.


Dan Apakah anda tahu tamunya. ? Pak Kapolda saja sudah mendaftarkan dirinya sebagai anak angkat mertuanya itu, dan helikopter dia jika datang bisa parkir di belakang rumahnya


Dan Apakah anda tahu, berapa hektar halaman belakang rumah mertua pak Surya ini.


Kurang lebih tiga puluh hektar Bro. dan masih ada dua rumah pribadinya yang lain. Hidup sangat kaya raya, tapi melatih menantunya menjadi seorang buruh tani dan pengembala sapi.


Jadi berapa kali pak Surya kabur tapi karna mertuanya sepupu nenek, di rayu lagi dan kembali lagi lanjut di siksa lagi jadi petani dan pengembala sapi.


Dan dia itu manusia yang sudah di bentuk menjadi pria berotot, bermental baja dan fisik yang sangat kuat. Selama lima tahun hanya hidup. di peternakan, dan di pertanian dan perkebunan. sudah tanam pisang, ubi, jagung, padi dan ikan bahkan jaga sapi. Sungguh berat perjuanganmu adikku sayang jadi menantu Tuan Takur.


Pada Akhirnya, karna suka kabur akhirnya mertuanya mengalah. Bukakan Toko alat bangunan. baru satu tahun datang laporan ke mertuanya.


"Ambo..."


Panggilan Ayah mertuanya biasa di gunakan di suku Bugis.


"Ambo...aku mau berhenti menjual alat bangunan.."


Mertua tarik kening.


"Memangnya kenapa Menantuku tersayang ?"


"Aku heran Ambo, Mengapa saya menjual ini bukannya untung malah saya minus dua ratus juta."


Mertua tambah tarik kening, mulai serius, mencoba berbicara halus, maklum menantunya sensitif suka kabur, dan istrinya yakni anaknya sendiri mau bunuh diri kalau suaminya hilang.


"Oohhh begitu, tapi kira - kira kenapa mesti terjadi seperti itu ?"


Kata mertua masih dengan nada lembut, tapi hati mau rasanya ingin sekali, minta ijin mempitak kepala menantunya.


"Intinya Ambo, Saya mau berhenti menjual daripada tambah minus."


Mertua nya hanya bisa tarik nafas, ngelangsa dalam hati.


"Aduh berapa ekor sapi lagi saya jual untuk bayar minusnya, ? padahal sapi - sapiku sudah ada semua namanya, kasian Nurlela, Jasmin, Mina dan yang lain, kalian akan berakhir di pasar atau di pesta, tepok jidat dalam hati."


Betul saja melayang lah dua puluh ekor sapi dijual.


Pak Surya mau lagi bisnis Solar, Mertua laki - lakinya ngambek lah, Sapi itu sudah seperti anak - anaknya di jual bayar utang. Begitulah deskripsi dalam hatinya, ngelangsa.


Sangat di sayangi satu kabupaten. Mantan Bajak laut menjadi sosok orang kaya raya yang dermawan.

__ADS_1


Jika ada mau jadi Caleg, Bupati atau apa saja, satu suaranya, adalah satu suara satu kabupaten. Begitulah sosoknya. Andai sapi bisa ikut mencoblos mereka akan setia antri juga.


Bersambung.


__ADS_2